welcome

Jumat, 05 April 2013

Patrick Akan Tetap Bahagia Walau Tanpa Hidungnya

Aku tak punya hidung. Iya tidak punya hidung. Pasti kalian heran, kenapa bisa?? Ya jelas saja bisa. Apa sih yang Tuhan tidak bisa? Membuat tulang belakangku tidak lurus persis dengan mudah dilakukanNYA. Tanpa tahu kalau sebenarnya aku amat tersiksa di dalamnya :)
Sejujurnya hidungku ini tidak bisa mencium bau apa-apa kecuali bau mint. Bisa dibilang ini anosmia parsialis. Sampai saat ini aku belum sekalipun memeriksakannya. Aku takut. Bukan takut dengan dokter dan pemeriksaannya, tetapi diagnosa akhirnya. Itu yang sering membuatku trauma, sama seperti 30 September 2009 lalu saat dokter Agung memvonisku dengan kelainan tulang yang sampai saat ini aku sendiri masih belum bisa berbuat apa-apa untuknya, punggung ular.

Aku tidak tahu bagaimana aroma kopi menggelitik hidungku dan tak pernah tahu juga bagaimana sabun mandi dikatakan wangi. Mungkin jika kalian kentut di sampingku aku tidak akan pernah tahu. Tapi asal kalian tahu, aku selalu ingin tahu. Seseorang pernah berkata padaku jika bau makanan itu mirip dengan rasanya. Sampai suatu ketika rasa penasaranku tidak tertahan lagi. Kalian tau apa yang kulakukan?? Aku menjilat sabun saat mandi. Mungkin ini gila tapi aku sangat kecewa karena wangi sabun itu asin. Jadi wangi itun asin?? Hingga pada akhirnya kamu datang dan meyakinkanku, lagi. 
Aku berhenti berjalan dan melepaskan gandenganmu,
"Aku wanita bodoh ya? Wanita yang menjilat sabun mandinya karena ingin tahu bagaimana deskripsi wangi", kataku pelan.
"Di luar sana banyak bau busuk dan kurasa tak baik untuk arek ilkku satu ini. Tetaplah bersyukur karena Tuhan masih mengijinkanmu mencium segarnya aroma mint, bukan bau bangkai atau sampah. Patrick akan tetap bahagia walau tanpa hidungnya", katamu dengan senyum khas favoritku sambil kembali menggandeng tanganku.


Tak ada yang membuatku bisa yakin seperti saat kamu meyakinkanku, Kacang.

with love :)
Desi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar