Malam ini, hujan
datang lagi. Masih dengan irama kenangan yang sama. Tak apa, aku bukan ingin
menangis. Hanya saja, di dalamku, sepertinya luka telah menemukan sarangnya.
Menetap, mengakar dan tumbuh bersama ladang kering yang dulu hijaunya penuh
keteduhan, kini gugur meranggas. Andai luka juga bisa hilang satu per satu
seiring waktu, akan begitu mudah aku tersenyum lagi di hadapmu.
Aku seperti
kehausan tanpa mengetahui apa yang bisa kuminum. Sekadar ingin membasahi
perihnya jerit-jerit yang tak lagi kau pedulikan. Bukan saja karena kau tak
mendengar, namun kau memang tak pernah benar-benar ada di garis takdirku. Samar
dan semakin pudar. Apa lantas jejakku harus berhenti sampai di sini? Tidak,
Luka. Mari terseok berdua, lukai lagi saja nadi-nadi kita. Toh, kita bisa apa
untuk menyelamatkan diri.
Selamat datang,
langkah-langkah kelelahan tanpa alas. Entah ada di mana dan akan ke mana.
Tersesat di antara pergerakan waktu, di kala tatanan hatiku belum seremuk ini.
Mencari tahu sedang apa dan untuk apa aku di sini, sekarang. Nyaris tak
ada jawaban yang kutemukan. Jangan dulu beranjak, Luka. Tanpamu, aku hanya akan
semakin sendiri.
Temani aku
sebentar lagi, Luka. Paling tidak, hingga aku kuat menengadahkan wajahku ke
arah langit dan meninggalkan sisa-sisa patahan hatiku yang sudah lewat masanya.
with love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar