Pernahkah, kamu memegangi dadamu untuk
menenteramkan nyeri yang tiba-tiba muncul dari sana yang menyesak hingga
menarik napas pun lebih susah dari biasanya?
Pernahkah, kamu mengalami ingin sekali menangis karena dadamu
sebak tapi kamu tetap tidak juga bisa menangis? Kamu hanya merasakan panas di
mata, tapi airmatanya tertahan entah kenapa? Padahal kamu ingin sekali
mengeluarkannya dan kalau bisa memuaskannya agar kamu kelelahan dan bisa tidur
karena sudah bermalam-malam tidak bisa tidur lelap?
Ini, ini aku sedang melakukannya.
Saat ini saat aku memandangi langit sore berawan dengan semburat
jingga-ungu-kelabu bergradasi begitu indah, saat di mana aku melihat lengkungan
mejikuhibiniu setengah lingkaran di cakrawala. Mengantarkan aku pada sekeping
kenangan yang kini sedang berputar di benakku. Tentangmu, Pelangi Senja.
Kamu pergi begitu saja. Tanpa mau duduk sejenak mendengarkanku
berbicara. Bagimu, janji yang tak kutepati adalah harga mati. Aku telah
menorehkan sebuah noda pada lembar putih kepercayaanmu. Bagimu, tak ada alasan
lagi di balik itu. Kamu pergi dan tak menoleh lagi. Setiap langkahmu menjauh
dariku, setiap itu pula hatiku terkoyak oleh luka.
Kalau ada waktu, datangi aku. Aku masih menunggu dan tidak akan
minta apa-apa. Aku juga tidak akan meminta kamu jatuh cinta. Aku meminta
waktumu sedikit saja untuk mendengarku berbicara. Untuk memaafkanku. Untuk
saling melepaskan, kalau memang setelah berbicara, kita berdua tetap harus
melepaskan.
Lalu biarkan sesuatu di dadaku ini melega. Hanya itu satu-satunya
cara.
Bolehkah aku meminta itu saja? Jadi aku bisa mengatakan kepada
hatiku sendiri, “Sekarang, sudah tidak apa-apa.”
with love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar