Dear you, E, Satu Mei
Ini surat cinta dariku tepat pada hari
ke-6 semenjak banyak rasa yang perlu diabadikan menurutku, untukmu. Surat yang
terlalu banyak menuang rindu pada cangir-cangkir kopi yang sedemikian membuat candu. Surat yang tak terbalas, atau mungkin saja tak pernah terbaca olehmu.
Toh, dengan melapang dada aku tetap menuliskannya.
Kusadari
belakangan, bahwa sekian waktu telah kuhabiskan dengan berlebihan untuk terus
berenang-renang dalam ingatan, untuk terus menertawai kenangan, untuk terus
menunggui harapan. Nyatanya, kepatah-hatian milikku tidak ada apa-apanya dengan
setiap kepatah-hatian milik banyak jiwa di luar sana yang disia-siakan dalam
sendu.
Aku masih
baik-baik saja.
Setiap
episode dalam setiap patah hati kutemui dan kualami memang akan terus seperti
ini. Ia akan memulai dengan episode tidak terima, tidak rela, tidak terbiasa,
hingga hiperbolisnya aku lah yang paling sakit hati di dunia.
Namun,
perlahan demi perlahan kusadari, prosais terbaik sepanjang masa tidak akan
menyelamatkanku dari keracunan akan suatu patah hati, karena siklusnya akan
terus seperti ini. Berputar, membentuk circa yang tidak pernah berujung. Hingga
pertemuan dan perpisahan, kusadari hanyalah bagian yang akan terus saling
bergantian, bertukar.
Aku ada
pada satu keadaan dimana hatiku telah jengah dan lelah lalu kemudian enggan
merenda patah. Maka
kubiarkan saja semua seperti ini adanya.
Dan
kurasai, aku patah hati, aku sakit hati. Setidaknya itu adalah satu-satunya
yang membuktikan bahwa aku berperasaan, bahwa aku hidup.
Mengalirlah saja karena siklusnya cuma
itu, sakit lalu bahagia, sakit lagi dan
bahagia.
with love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar