“Jangan ngeliatin
aku. Aku jelek.”, ujarku. Kuraih dagumu untuk mengarahkan pandanganmu ke
hal-hal lain di sekitar kita.
“Cantik, kok. Hmm manis.” , katamu penuh senyum. Senyum
yang teduhnya amat kuhafal. Kau lagi-lagi memandangiku. Aku mengerti, waktu
kita tak lebih dari lima kali putaran lagu kesukaanmu. Sebelum akhirnya aku
harus menunggu lagi, untuk bisa menikmati senyummu lebih dekat.
“Badanku kurus, dada datar versi telur ceplok, pipiku tembem dan ada jerawat di sini. Cara jalanku aneh.”, kataku sambil menikmati ice cream yang hampir sepenuhnya meleleh.
“Aku suka.”, kau memotong kalimatku sambil
mengusap kepalaku. Aku terdiam. Toh, aku hanya mampu terdiam. Meresapi nyaman
yang kau alirkan lewat tanganmu yang hangat.
Selamat malam, Rindu
Ingatkah kau pada bangku kayu,
rerumputan yang basah dan kemeja lengan panjang yang kau gulung hingga siku di
hari itu?
Sebelumnya, kata “kita” tak
pernah kumaknai sedalam ini.
Ini rinduku yang
kuikhlaskan, atas malam demi malam yang kau lewatkan di sampingnya, wanita
beruntung yang berkesempatan memilikimu.
With love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar