Bungaku ditaman ilusi. Dimana warna
kuning kuubah seperti emas warna merah jambu kuubah seperti darah dan dimana labu sudah berbuah.
“Kamu,
berbincang sepatah kata tak apa kan?” Aku terheran dimana pagi yang aku tantang
dengan secangkir kopi itu menjadi ramai.
“Tak ada yang melarang untuk saling
berbincang” aku tersenyum sambil bersandar pada dinding yang membisu.
Kurangkul
setiap kata yang terucap kala itu. Dimana sayup-sayup kudengar lagu Crazier
milik Taylor Swift melantun.
“Aku
suka film ini, bercerita tentang dua orang yang saling mencintai tapi tak mau
saling mengaku, sungguh ironis “ sahut ku.
“Haha
itu hanya film tapi sungguh membawa suasana, mengingatkanku pada masa ku dulu”
, sambil menyeduh kopi menatap lurus kedepan.
“Kamu
pernah mengalami kejadian seperti film itu?” tanyaku seakan tak ada rasa ingin
tahu.
“
Pernah, itu dulu sewaktu aku masih kuliah, dan itu sudah lama, eh Kopinya enak
pahit yang nikmat” ,tersenyum menatap ku seakan mengucap terima kasih.
Aku
sedikit berdebar ketika dia bicara dengan sumbangnya dan menatapku dalam.
Posisiku berpaling menatapnya dan menatap taman bunga ilusi ku.
“Kamu
tahu Kopi yang aku buat itu ku buat dengan apa?” hening, hanya angin yang
menyebul disekeliling.
“Dari
apa? Maksudmu? Ah! kamu mau meracunku? Haha tatkala senja meracun matahari
setiap sore” menggumam terdengar lantang.
“Tidak,
aku tidak meracunmu, aku memberi serbuk bunga ilusiku didalam secangkir kopimu,
sehingga rasa pahit yang kamu rasa itu nikmat, itu juga rasa yang aku rasa
nikmat ”, ku tiup senyum kearahnya.
Tangan
dingin itu meraih ku dan berkata “Ini hanya Ilusi mu nona”, sembari pergi
membayang lalu hilang. Teriak ku “ Lalu, apa kamu hanya memberiku secangkir
Kopi yang hambar dipagi ini?”.
Hari selasa pukul 07.15 “ Sudah,
saatnya aku berangkat dan sejak setengah jam yang lalu aku hanya memandang layar
kaca dua dimensi ini ”. Dan awal yang seperti ini “ Kamu, berbincang sepatah
kata tak apa kan?” aku terheran dimana pagi yang aku tantang dengan secangkir
kopi itu menjadi ramai.
“
Tak ada yang melarang untuk saling berbincang”, aku tersenyum sambil bersandar
pada dinding yang membisu. Kurangkul setiap kata yang terucap kala itu. Dimana
sayup-sayup kudengar lagu Crazier milik Taylor Swift melantun. Dimana aku hanya
duduk bersandar pada dinding kamarku mendengarkan lagu Creazier dengan alat
komunikasi yang aku genggam dan membangun ilusi dengan lawan bicaraku yang saat
itu hanya ada dijejaring sosial. Bualku…
Kelak jangan kau beri aku secangkir Kopi
yang nyatanya itu hanya Kopi hambar tanpa rasa pahit
with love :')
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar