welcome

Sabtu, 20 April 2013

Pagiku di Taman Ilusi

Bungaku ditaman ilusi. Dimana warna kuning kuubah seperti emas warna merah jambu kuubah seperti darah dan dimana labu sudah berbuah.
“Kamu, berbincang sepatah kata tak apa kan?” Aku terheran dimana pagi yang aku tantang dengan secangkir kopi itu menjadi ramai.
 “Tak ada yang melarang untuk saling berbincang” aku tersenyum sambil bersandar pada dinding yang membisu.
Kurangkul setiap kata yang terucap kala itu. Dimana sayup-sayup kudengar lagu Crazier milik Taylor Swift melantun.
“Aku suka film ini, bercerita tentang dua orang yang saling mencintai tapi tak mau saling mengaku, sungguh ironis “ sahut ku.
“Haha itu hanya film tapi sungguh membawa suasana, mengingatkanku pada masa ku dulu” , sambil menyeduh kopi menatap lurus kedepan.
“Kamu pernah mengalami kejadian seperti film itu?” tanyaku seakan tak ada rasa ingin tahu.
“ Pernah, itu dulu sewaktu aku masih kuliah, dan itu sudah lama, eh Kopinya enak pahit yang nikmat” ,tersenyum menatap ku seakan mengucap terima kasih.
Aku sedikit berdebar ketika dia bicara dengan sumbangnya dan menatapku dalam. Posisiku berpaling menatapnya dan menatap taman bunga ilusi ku.
“Kamu tahu Kopi yang aku buat itu ku buat dengan apa?” hening, hanya angin yang menyebul disekeliling.
“Dari apa? Maksudmu? Ah! kamu mau meracunku? Haha tatkala senja meracun matahari setiap sore” menggumam terdengar lantang.
“Tidak, aku tidak meracunmu, aku memberi serbuk bunga ilusiku didalam secangkir kopimu, sehingga rasa pahit yang kamu rasa itu nikmat, itu juga rasa yang aku rasa nikmat ”, ku tiup senyum kearahnya.
Tangan dingin itu meraih ku dan berkata “Ini hanya Ilusi mu nona”, sembari pergi membayang lalu hilang. Teriak ku “ Lalu, apa kamu hanya memberiku secangkir Kopi yang hambar dipagi ini?”.
         Hari selasa pukul 07.15 “ Sudah, saatnya aku berangkat dan sejak setengah jam yang lalu aku hanya memandang layar kaca dua dimensi ini ”. Dan awal yang seperti ini “ Kamu, berbincang sepatah kata tak apa kan?” aku terheran dimana pagi yang aku tantang dengan secangkir kopi itu menjadi ramai.
“ Tak ada yang melarang untuk saling berbincang”, aku tersenyum sambil bersandar pada dinding yang membisu. Kurangkul setiap kata yang terucap kala itu. Dimana sayup-sayup kudengar lagu Crazier milik Taylor Swift melantun. Dimana aku hanya duduk bersandar pada dinding kamarku mendengarkan lagu Creazier dengan alat komunikasi yang aku genggam dan membangun ilusi dengan lawan bicaraku yang saat itu hanya ada dijejaring sosial. Bualku…


Kelak jangan kau beri aku secangkir Kopi yang nyatanya itu hanya Kopi hambar tanpa rasa pahit

with love :')
Desi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar