TENTANG KITA YANG AKAN DILAHIRKAN MENJADI APA
Dari sini, seribu kepastian menepis pelipis senyap,
suyni kata-kataku. Angin baru saja hinggap di tabir mimpi yang belum usai,
menyisakan seruak rahak pada unggun api-api pagi. Ia masih menyala,
menerbangkan debu-debu kepedihan pada mata pagi yang enggan untuk terbuka. Ia
hanya kabut, sampai menenggelamkannya. Mati.
duapuluhenamnopemberduaribuduabelas
DAWAI-DAWAI ILMU YANG PUPUS, LALU PUTUS
Matahari menitipkan malas di ruang-ruang kelas yang
bersekat di dinding itu. Kemudian kita menerawang jauh, beribu abjad di buku-buku
yang baru kita buka dan kita baca pagi itu. Ada sejarah yang tak ingin
dikisahkan, lantaran persoalan panjang kehidupan. Ada juga ilmu yang harus
terhenti, dengan janji. Melihat wajah-wajah masa depan, tanpa arah. Menuju
waktu, yang perlahan menjemputnya tiada.
KEPADA ANGIN YANG MATI PAGI TADI
seperih mati
yang kau sayat
dengan tangan waktu
yang
tak juga
binasa
ia bersembunyi
pada kaca embun
yang mengalun
pada jeda
jendela pagi.
lalu angin itu mati
pagi tadi.
KU KAIS SEPERCIK ILMU PADA RANTING GERIMIS
Aku menemukan sepercik ilmu tadi pagi. Bukan dari
diktat, kuliah, atau sekolah-sekolah. sederhana saja: di ranting gerimis
tadi pagi, ada barisan burung gereja hinggap. Di matanya melambaikan kesetiaan pada hidup dan juga mimpi.
KALUT
Bukan aku enggan menimba ilmu, dari ladang
pengetahuan yang maha luas tak berjejak. Tapi mengapa dan kenapa, jika kita
masih terdiam pada sihir-sihir yang menjelma mata-mata yang tak bisa berkata. Kalut.
261112
With love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar