welcome

Sabtu, 06 April 2013

Hari ke 4 : Dark Chocolate

Surat ini untuk kamu, pemilik senyum melankolik favoritku

Hai, kamu! Pria yang entah kusebut apa karena kenyataannya diantara kita memang tidak ada apa-apa. Cukuplah jadi seperti itu, masku. Bolehkah aku bertanya? Aku melihat tidak ada keikhlasan dalam senyummu saat ini. Seolah ada tangis yang tersembunyi, ada apa denganmu mas? Adakah masalah yang sedang kamu alami? Semenjak bapakmu dirawat di puskesmas dan kemudian dirujuk ke rumah sakit sikapmu jadi dingin dan lagi kamu lebih sering diam sendiri. 

Bolehkah aku bertanya lagi? Kamu terlihat lebih kurus. Rasanya seperti bukan kamu saja. Walaupun aku merasa lebih melihat sisi kegantenganmu saat kamu agak kurusan begini tapi bagiku kamu kurusan berarti kamu sedang dalam ketidaknyamanan. Satu pertanyaan lagi, apakah aku boleh mengkhawatirkanmu? Aku melihat kekacauan hati dalam setiap inci gerakan tubuhmu. Keluh kesah lewat pesan singkatmu juga membuatku semakin tidak ingin jauh-jauh darimu, aku tahu kamu orang yang lemah terlebih kondisi yang seperti ini. Kamu bilang minggu ini ada ujian skripsi kan? Tapi kamu memilih di sini, duduk bersamaku di bangku tunggu rumah sakit, menunggui bapakmu yang terbaring lemah. Kamu boleh meminjam bahuku jika kamu mau. Kamu juga boleh menangis dalam pelukanku dan aku akan menangis bersamamu. Sebisa mungkin akan kuluangkan untuk datang menjenguk bapakmu dan kamu.

Lihat mas, kamu pucat. Bagaimana kamu bisa menolong bapak jika kamu sendiri perlu pertolongan. Jadi ijinkan aku menolongmu. Hari ini aku membeli dark chocolate khusus untukmu, aku berharap kamu kembali ceria setelah memakannya. 11 April 2013, kadaluwarsa dark chocolate. Aku ingin memberikannya padamu sebelum tanggal itu.

Aku semakin tidak tega melihat tangismu yang pecah saat kepergian bapakmu, 24 Februari 2012. Air mataku tak henti-hentinya keluar untuknya, beliau adalah sosok yang cukup kukagumi, aku menganggapnya bapakku juga. Aku tidak bisa membayangkan betapa jatuhnya kamu saat itu. Berulangkali ibuku mengelus pundakmu, meyakinkan bahwa ini memang rencana Tuhan yang tidak mungkin bisa kita duga. Begitu juga denganku, aku akan tetap ada untuk kamu sampai kapanpun kamu mau. Bersandarlah di bahuku selama kamu mau. Don’t give up, I’m here.

Kulihat senyummu kembali tanpa sedikitpun ragu. Tak ada beban seberat dulu. Aku merasa bisa tenang saat kamu jauh dariku. Bisakah kamu tetap tersenyum sepert itu? 5 Maret 2012, kuberikan dark chocolate ini untukmu. 


With love :)
Desi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar