Surat ini
untuk kamu, pemilik senyum melankolik favoritku
Hai, kamu! Pria
yang entah kusebut apa karena kenyataannya diantara kita memang tidak ada
apa-apa. Cukuplah jadi seperti itu, masku. Bolehkah aku bertanya? Aku melihat
tidak ada keikhlasan dalam senyummu saat ini. Seolah ada tangis yang
tersembunyi, ada apa denganmu mas? Adakah masalah yang sedang kamu alami?
Semenjak bapakmu dirawat di puskesmas dan kemudian dirujuk ke rumah sakit
sikapmu jadi dingin dan lagi kamu lebih sering diam sendiri.
Bolehkah aku
bertanya lagi? Kamu terlihat lebih kurus. Rasanya seperti bukan kamu saja. Walaupun
aku merasa lebih melihat sisi kegantenganmu saat kamu agak kurusan begini tapi
bagiku kamu kurusan berarti kamu sedang dalam ketidaknyamanan. Satu pertanyaan
lagi, apakah aku boleh mengkhawatirkanmu? Aku melihat kekacauan hati dalam setiap inci gerakan tubuhmu. Keluh kesah lewat pesan singkatmu juga membuatku semakin
tidak ingin jauh-jauh darimu, aku tahu kamu orang yang lemah terlebih kondisi
yang seperti ini. Kamu bilang minggu ini ada ujian skripsi kan? Tapi kamu memilih di
sini, duduk bersamaku di bangku tunggu rumah sakit, menunggui bapakmu yang
terbaring lemah. Kamu boleh meminjam bahuku jika kamu mau. Kamu juga boleh
menangis dalam pelukanku dan aku akan menangis bersamamu. Sebisa mungkin akan
kuluangkan untuk datang menjenguk bapakmu dan kamu.
Lihat mas, kamu pucat. Bagaimana kamu bisa
menolong bapak jika kamu sendiri perlu pertolongan. Jadi ijinkan aku
menolongmu. Hari ini aku membeli dark chocolate khusus untukmu, aku berharap
kamu kembali ceria setelah memakannya. 11 April 2013, kadaluwarsa dark
chocolate. Aku ingin memberikannya padamu sebelum tanggal itu.
Aku semakin tidak tega melihat tangismu yang
pecah saat kepergian bapakmu, 24 Februari 2012. Air mataku tak henti-hentinya keluar untuknya,
beliau adalah sosok yang cukup kukagumi, aku menganggapnya bapakku juga. Aku
tidak bisa membayangkan betapa jatuhnya kamu saat itu. Berulangkali ibuku
mengelus pundakmu, meyakinkan bahwa ini memang rencana Tuhan yang tidak mungkin
bisa kita duga. Begitu juga denganku, aku akan tetap ada untuk kamu sampai
kapanpun kamu mau. Bersandarlah di bahuku selama kamu mau. Don’t give up, I’m
here.
Kulihat senyummu kembali tanpa sedikitpun ragu. Tak
ada beban seberat dulu. Aku merasa bisa tenang saat kamu jauh dariku. Bisakah kamu tetap tersenyum sepert itu? 5 Maret
2012, kuberikan dark chocolate ini untukmu.
With love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar