Sudah
sekian lama, sudah selama ini ternyata. Aku diam tanpa memegang bola. Tak ada yang bisa kulakukan walau hanya dribbling, apalagi shooting terlebih lay up. Mungkin
tanganku sudah kaku terlebih tubuhku. Tempat ini masih sama. Tak banyak yang berubah, hanya
cat yang memoles ring basket dan garis lapangan, lebih merah.
Aku
sering berada di sana, lebih lincah dari bola. Dulu. Aku sering di sana,
berlari dan melompat tinggi. Dulu. Aku sering di sana, bersama seragam merah
abu-abuku. Dan lagi itu dulu. Sebahagia itu.
Sekarangpun
aku masih sering ke sana, hanya menonton saja. Menikmati permainan mereka.
Entah bagaimana aku harus menahan sedihnya yang jelas aku lebih merasa bahagia
di sana, serasa aku punya dua nyawa. Sekarang, aku lebih sering ke sana.
Bermain dengan ingatan yang tak mungkin kulupa. Ingatan yang juga membuatku
menangis sejadi-jadinya.
Andainya
kaki kiriku bisa berfungi sempurna. Andainya nafasku tidak sedangkal ini.
Andainya dan banyak lagi andai lainnya. Aku bisa berlari, walau setelahnya aku
akan merasa sekujur tubuh nyeri. Aku bisa, hanya bisa, tapi tidak seperti
biasanya.
Akhirnya
aku memilih duduk di sana, di tempat yang sama tanpa bola, tanpa seragam merah
abu-abuku. Aku cukup diam memejamkan mata dan tersenyum. Saat memejamkan mata,
aku melihat apa yang dulu kamu lihat. Aku berlari dengan bola basketku dan kamu berada di barisan penonton menyemangatiku, itu sangat lebih dari cukup. I love basketball, but I love scoliosis more.
Senja
di lapangan basket taman kota
With love :)
Desi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar