welcome

Kamis, 11 April 2013

I love basketball, but I love scoliosis more :')

Sudah sekian lama, sudah selama ini ternyata. Aku diam tanpa memegang bola. Tak ada yang bisa kulakukan walau hanya dribbling, apalagi shooting terlebih lay up. Mungkin tanganku sudah kaku terlebih tubuhku. Tempat ini masih sama. Tak banyak yang berubah, hanya cat yang memoles ring basket dan garis lapangan, lebih merah.

Aku sering berada di sana, lebih lincah dari bola. Dulu. Aku sering di sana, berlari dan melompat tinggi. Dulu. Aku sering di sana, bersama seragam merah abu-abuku. Dan lagi itu dulu. Sebahagia itu.

Sekarangpun aku masih sering ke sana, hanya menonton saja. Menikmati permainan mereka. Entah bagaimana aku harus menahan sedihnya yang jelas aku lebih merasa bahagia di sana, serasa aku punya dua nyawa. Sekarang, aku lebih sering ke sana. Bermain dengan ingatan yang tak mungkin kulupa. Ingatan yang juga membuatku menangis sejadi-jadinya.

Andainya kaki kiriku bisa berfungi sempurna. Andainya nafasku tidak sedangkal ini. Andainya dan banyak lagi andai lainnya. Aku bisa berlari, walau setelahnya aku akan merasa sekujur tubuh nyeri. Aku bisa, hanya bisa, tapi tidak seperti biasanya. 

Akhirnya aku memilih duduk di sana, di tempat yang sama tanpa bola, tanpa seragam merah abu-abuku. Aku cukup diam memejamkan mata dan tersenyum. Saat memejamkan mata, aku melihat apa yang dulu kamu lihat. Aku berlari dengan bola basketku dan kamu berada di barisan penonton menyemangatiku, itu sangat lebih dari cukup. I love basketball, but I love scoliosis more.


Senja di lapangan basket taman kota 

With love :)
Desi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar