welcome

Selasa, 30 April 2013


Aku tau ada seseorang yang setia berkunjung di blogku, sesetianya dia terhadap senja dan hujan, tentu saja dan secangkir kopi aroma khasnya. Terima kasih, walaupun ini tidak berkisah tentangmu, namun kau selalu ada di pinggiran hari-hari sepiku….

Hujan senja ini beraroma kopi

with love :)
Desi

Senin, 29 April 2013

Lalalala :D


It’s a beautiful night!
We’re looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I wanna marry you..
Is it the look in your eyes?
Or is it this dancing juice?
Who cares baby,
I think I wanna marry you..
Aku sering membicarakan tentangmu bersama Tuhan, mendiskusikanmu, merencanakan sesuatu, dan menebak sesuatu. Tuhan selalu memberikan jawabannya, tapi DIA terlalu romantis dan suka memberi kejutan. Aku hanya berharap Tuhan secara diam-diam, mengatakan kepadamu tentang apa yang sering saya dan Tuhan bicarakan.


With love :)
Desi

Minggu, 28 April 2013

I Wish It just for Today


Ketika yang kulakukan tak juga mengubah keadaan

Kupikir hari ini gila sekali. Tak seperti hari-hari sebelumnya. Coklat panas dalam gelas plastik yang kuteguk dengan tenang tak juga menenangkan. Secangkir kopi pemasok semangat terbesarku tak juga mengisi rongga ruangnya. Yang kudapati justru rasa sakit dalam kerapatan frekuensi detak jantungku. Aku semakin gelisah dalam sesuatu yang masih belum kuselami makna sebenarnya. Dan lagi Cornetto Black and White yang kumakan sebelum kereta berangkat juga tidak melebarkan senyumku, tidak sama sekali.

 Mungkinkah aku frustasi?

Lima bulat onde-onde yang biasa kumakan dalam waktu kurang dari 2 menit, sekarang jangankan lima menghabiskan satu gigitan saja aku ingin memuntahkannya. Aku terus saja bertanya dalam hati, ada apa denganku saat ini? Apa aku mulai tidak waras lagi? Bukankah selama ini aku memang tidak waras? Manusia waras mana yang selalu bolak balik keluar masuk rumah sakit?

Aku tetap akan tersenyum diam-diam

Aku menghela napas panjang, tapi tak juga memperbaiki keadaan. Sepertinya kali ini aku akan lebih sulit lagi untuk tersenyum otomatis. Aku butuh lebih banyak alasan untuk tersenyum dalam hati. Kalian mungkin masih selalu melihat senyumku, tapi aku tidak yakin itu adalah senyum dari hatiku. Nyatanya topeng busuk ini sudah terlanjur menutup lekat di mukaku. Biar sajalah, bukankah dengan begitu kalian tidak akan repot-repot merasa iba saat aku menangis?

Masih tidak mengerti apa yang terjadi. Malam ini serasa panjang, aku sedang butuh tumpangan untuk pergi ke alam mimpi.
With love :)
Desi
Dear Kartini, negeri ini sekarang penuh gadis-gadis setengah telanjang, yang tak pernah membaca “Habis Gelap Terbitlah Terang".

Hari ke 12 : Entah untuk Siapa

Pesan ini akan tiba padamu, entah dengan cara apa. Bahasa yang kutahu kini hanyalah perasaan. Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa, karena kini kumiliki segalanya.

with love :)
Desi

Sabtu, 27 April 2013

Kehilangan adalah suatu pertanda bahwa kita akan segera menemukan. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan, suatu saat nanti, pasti. Tuhan tidak akan memberikan segala hal yang kita inginkan, Dia hanya akan memberikan apa yang kita butuhkan.

Stasiun Paron KA Logawa, 28 April 2013 12.00 
With love :)
Desi

Kamis, 25 April 2013

Hari ke 11 : Logika, Ini Hati


Kepada logika 
Surat ini ditulis oleh hati dengan hati-hati kepada logika yang terkadang merasa paling benar dan terkadang, memang dia benar.

Halo logika, ini hati. Sekarang pukul empat sore dan aku ingin memelukmu karena terlalu egoissehingga lelah sendiri. Cobalah untuk beristirahat sebentar. Mari kita minum kopi hangat  sambil membicarakan sesuatu yang kamu anggap dengan masalah.

Begini logika , aku akan menjelaskan sedikit tapi mungkin kamu sudah menyediakan alasan atau sanggahan untuk setiap pernyataan yang akan aku ucapkan. dan pasti kamu sedikit kesal karena keputusan yang aku ambil tanpa melibatkanmu. Hah. Aku memang egois  dan memang aku diciptakan untuk menjadi egois dan terima kasih karena kamu masih dengan berlapang dada memaklumi keegoisanku. Kita memang sahabat sejati. Aku beruntung sekali Tuhan menciptakan kamu sebagai pembuat kenormalan di tengah keabnormalan.

Bagaimana kalau aku memijatmu sejenak. Mungkin kamu terlalu lelah mencari alasan untuk tidak mendengarkan aku kali ini  tapi tak apa, aku pun sering melakukannya dan memang ada perasaan bersalah sedikit ketika itu terjadi. Yah, seperti katamu, aku harus menanggung resikonya  dan seperti yang biasa terjadi, kamu pura-pura tidak tahu tetapi tetap masih berusaha mengingatkan aku untuk mengangkat dagu seperti orang sombong yang menantang dunia. Itu sebabnya aku yakin, apapun keputusan yang aku ambil, kamu akan selalu seperti itu. Berusaha untuk menjadi normal dan menjadikannya senormal mungkin.

Tenang logika, saat ini aku bahagia seharusnya kamu pun begitu. Kita tidak boleh bertengkar terlalu lama. Hanya akan ada kesesakan nantinya. Bagaimana kalau kita berdamai dan meminum secangkir kopi hangat sore nanti. Seperti yang biasa kita lakukan? Beri kabar segera ya.

Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih, aku mencintaimu tanpa hati-hati dengan segenap hatiku.

Tertanda, hati-nya Desi Fitri Wulansari.



With love :)
Desi


Minggu, 21 April 2013

Petrichor


Petrichor itu wangi hujan pertama. Kalau kamu mengaku jatuh cinta dengan hujan, maka kau pasti akan mengenalinya. Sebutlah itu adalah aroma hujan, yang bercampur dengan tanah. Atau kamu bisa mengoogling sendiri, lalu temukan maknanya di sana.

Ketika aku menulis ini hujan memang sedang turun. Wangi petrichor kemudian menyeruak memasuki kamarku. Satu hal yang biasanya kulakukan ketika hujan adalah, membuka pintu dan jendela lebar-lebar, supaya aku bisa menatap mereka.

Ya, hanya menatap. Aku suka menatap mereka. Aku suka mendengarkan bunyi gemerincing mereka diantara genteng. Aku suka memejamkan mataku untuk mendengarkan hujan lekat-lekat. Hal ini kemudian menimbulkan nada sendiri.

Lalu, aku mulai menulis. Menulis apapun yang aku suka.

Sebelum menulis ada satu kebiasaan yang sering sekali aku lakukan yaitu, bermain-main dengan pikiran. Ada hal yang kini cukup menggangguku, yaitu soal bertumbuh dan menjadi dewasa. Ada kesimpulan yang mendadak hadir di kepalaku.

Sempat aku tweet dengan hashtag #selintas: semakin tua semakin jaim. Semakin lupa tuk bermain-main.

Banyak orang ketika bertambah umur semakin jaim, mereka selalu mencoba untuk memberikan nasihat kepada orang lain. Dan sebisa mungkin kata-kata positif yang keluar dari mulut mereka.

Lalu, tiba-tiba aku mulai bosan dengan tubuh orang dewasa itu. Aku merasa orang dewasa itu terlalu banyak pakai topeng. Aku merasa menjadi orang dewasa itu selalu menjaga aturan dan kesopanan dalam berperilaku dan berkelakuan.

Lalu, masih dari tweet #selintas: Semakin dewasa, semakin sok tahu. Padahal menerbangkan balon di jalan-jalan pun keindahan. Butuh pengetahuan.

Jujurlah, kau pasti pernah bertemu dengan orang ini? atau mungkin orang itu adalah kamu?

Kalau saat ini ada yang bertanya padaku, lalu apa sebaiknya yang harus kau lakukan ketika menjadi dewasa. Bertumbuhlah, tapi jangan dewasa. Teruslah bermain seperti anak-anak. Teruslah bermimpi, salah satu mimpiku yaitu: Hei 2014, bawa Aku ke Paris. Aku mau pakai gaun renda kuning. Terbangkan balon dengan kaki telanjang.

Aku mulai memejamkan mata. Dalam nama petrichor aku berdoa.



Perempuansore
With love :)
Desi
9x-7 i > 3 (3x-7u)
9x-7 i > 9x -21u
    -7 i > -21u
      7 i < 21u
     i <3 u

A real man doesn't love a milion woman. He loves one girl in a milion ways

with love 
Desi :)

Bagaimana Jika

Bagaimana jika aku tidak bisa berjalan beriringan denganmu
Atau justru kamu berjalan di belakangku
Mendorong kursi rodaku
Apa kamu mau?

Bagaimana jika aku tak mampu memelukmu dalam dinginnya malam
Karena aku akan merasa begitu kesakitan saat kedinginan
Apa kamu akan bertahan?

Bagaimana jika aku sering menangis di depanmu
Lantaran aku tak kuat menahan sakit di sepanjang tulang belakangku
Begitu seterusnya entah kapan usainya
Bagaimana?

Bagaimana jika aku banyak menyita waktumu
Sekadar menemani sebentar
Tulang belakangku perlu diputar
Sudikah?

Bagaimana jika kamu tak mau tau akan semua ketakutanku
Iya, itu semua ketakutanku
Yang sampai detik ini mengakar kuat di stiap sel otakku
Aku begitu takut kehilanganmu
Iya, sebegitu takutnya hingga kutanyakan hal penting ini padamu
Seseorang, calon imam dalam sujudku


I write this with a lot of tears
Aku hanya tidak ingin kamu nantinya berpura-pura agar membuatku tetap bahagia 

With love :')
Desi
Seburuk-buruknya saya, sebrengsek-brengseknya saya, sesuka- sukanya saya sama laki-laki, saya tidak mungkin merebut pacar orang. Buka matamu, gunakan otakmu. Kamu harus tau mana yang perlu dirasa dan logika.

with love :)
Desi
Jika sakit ini adalah cara-MU menghapuskan dosa-dosaku, aku ikhlas. Bukankah Engkau yang menciptakan sakit, maka Engkau pula yang menciptakan obat? 

with love :')
Desi
Hey Kamu,
Beri aku titik dua kurung tutup. Begitu seterusnya jika kamu tidak bisa berkata apa-apa. Itu sangat cukup.

With love :)

Desi

Kamu, Jangan Pergi :')


Jika kamu pergi, senyum ini untuk siapa lagi? 
Lalu ke mana larinya lengkung bibir itu? 
Hanya menyelinap ke dalam pori-pori mimpi?

Jika kamu pergi, ke mana lagi aku layangkan alunan rindu ini?
Ke telinga Cupid yang sudah lumpuh menembakkan panah cintanya kepadamu?
Ke jari-jari kedinginan yang tak pernah kamu genggam lagi?

Jika kamu pergi, apa lagi yang bisa aku tulis tentang sayang ini?
Tentang ketiadaan kamu? Tentang pundak kosong tak berpenghuni yang merindukan sandaran kamu?

Jika kamu pergi, akan aku lipat menjadi apa kertas yang biasa aku buat menjadi burung atau kupu-kupu kesukaanmu?
Atau hanya harus kuubah menjadi mawar yang kelopaknya gugur perlahan?
Atau harus kubentuk menjadi sebuah nisan yang di atasnya tertulis kenangan kita?

Jika kamu pergi, siapa lagi yang aku tunggu menjadi penyemangat di saat-saat tersulitku?
Aku harus menunggu suara burung hantu di tengah malam, seakan mengejek atas segala kekalahanku?
Atau cukup ditemani keheningan malam, mendinginkan hati?

Jika kamu tak kembali, apalagi yang pantas aku tunggu mengorbankan sisa waktu hidupku?
Menunggu hingga usia menggerogoti jasad ini?
Bahkan dengan bantuan rindu, jiwaku tak akan tersisa.
Kamu, jangan pergi.

with love :)
Desi

Sabtu, 20 April 2013

"Tau nggak aku sedang tersesat dan susah keluar"
"Di daerah mana?"
"Di sekitar hatimu.."

with love :)
Desi

Sedikit Tentang Wanita


Wanita terluka, wanita berduka, wanita menangis.
Namun di setiap malam sebelum lelapnya,
dia masih menyebut namamu dalam doa pada Tuhannya.
Wanita mencinta, melakukan drama, dan seringkali ia kembali menjadi kanak-kanak.
Namun ketika kau butuh dia, dia adalah teman yang setia.
Wanita suka kau manja, wanita suka kau puja.
Namun ketika ia harus mandiri, ia kokoh berdiri sendiri.
Wanita mencintai keindahan, wanita sumber kelembutan.
Maka jangan merubahnya menjadi sosok penuh kekerasan.
Bimbing ia, menuju lorong-lorong kebaikan.
Wanita adalah penerus kehidupan.
Maka hargai ia, dengan sepenuh cinta seperti yang Tuhan perintahkan.

With love :)
Desi

Berbincang dengan masa lalu. Katanya, "Sudahlah, jemput saja masa depanmu. Aku sudah cukup nyaman, ada di belakang".

with love :)
Desi
Terimakasih telah membuat rindu ini kian membiru sampai aku bosan merindumu dalam hitam setiap malam 

with love :)
Desi

Rinduku Diam-Diam


Kita tak pernah tahu alasan apa yang membuat kita saling merindukan?
Jarak?
Sebelumnya kita tak pernah dipersatukan jarak
Atau mungkin kita merindukan sebuah pertemuan?
Kita belum pernah bertemu sebelumnya
Rindu itu menelusup tiba-tiba
Kita tak saling memikirkan, namun saling merindukan
Sebab kerinduan teramat jujur hingga tak mampu membuat alasan
Alasan kerinduan adalah rindu itu sendiri

Dear you, FA
It's real for you

with love:)
Desi

Habit

Seringnya aku bicara sendiri apa yang aku bicarakan padamu dan apa yang kamu bicarakan padaku. Seringnya aku membaca kembali tulisan yang aku berikan pada mu dan tulisanmu yang kamu berikan padaku. Selalu berulang disetiap bangunku.

With love :)
Desi

Nothing

Sederet cerita itu membuat tawa. Sampai cermin didepanku bertanya “Kau mau apa?”. Aku menggelengkan kepalaku dan mengucap “Aku tidak ikut perlombaan”. Sambil memakai kaos kaki aku berfikir, setiap perubahanku bukan karena untuk dirimu ataupun untuknya. Ini diriku dengan kecompang campingan tema yang isinya tidak mereka ketahui.

With love :)
Desi

Pagiku di Taman Ilusi

Bungaku ditaman ilusi. Dimana warna kuning kuubah seperti emas warna merah jambu kuubah seperti darah dan dimana labu sudah berbuah.
“Kamu, berbincang sepatah kata tak apa kan?” Aku terheran dimana pagi yang aku tantang dengan secangkir kopi itu menjadi ramai.
 “Tak ada yang melarang untuk saling berbincang” aku tersenyum sambil bersandar pada dinding yang membisu.
Kurangkul setiap kata yang terucap kala itu. Dimana sayup-sayup kudengar lagu Crazier milik Taylor Swift melantun.
“Aku suka film ini, bercerita tentang dua orang yang saling mencintai tapi tak mau saling mengaku, sungguh ironis “ sahut ku.
“Haha itu hanya film tapi sungguh membawa suasana, mengingatkanku pada masa ku dulu” , sambil menyeduh kopi menatap lurus kedepan.
“Kamu pernah mengalami kejadian seperti film itu?” tanyaku seakan tak ada rasa ingin tahu.
“ Pernah, itu dulu sewaktu aku masih kuliah, dan itu sudah lama, eh Kopinya enak pahit yang nikmat” ,tersenyum menatap ku seakan mengucap terima kasih.
Aku sedikit berdebar ketika dia bicara dengan sumbangnya dan menatapku dalam. Posisiku berpaling menatapnya dan menatap taman bunga ilusi ku.
“Kamu tahu Kopi yang aku buat itu ku buat dengan apa?” hening, hanya angin yang menyebul disekeliling.
“Dari apa? Maksudmu? Ah! kamu mau meracunku? Haha tatkala senja meracun matahari setiap sore” menggumam terdengar lantang.
“Tidak, aku tidak meracunmu, aku memberi serbuk bunga ilusiku didalam secangkir kopimu, sehingga rasa pahit yang kamu rasa itu nikmat, itu juga rasa yang aku rasa nikmat ”, ku tiup senyum kearahnya.
Tangan dingin itu meraih ku dan berkata “Ini hanya Ilusi mu nona”, sembari pergi membayang lalu hilang. Teriak ku “ Lalu, apa kamu hanya memberiku secangkir Kopi yang hambar dipagi ini?”.
         Hari selasa pukul 07.15 “ Sudah, saatnya aku berangkat dan sejak setengah jam yang lalu aku hanya memandang layar kaca dua dimensi ini ”. Dan awal yang seperti ini “ Kamu, berbincang sepatah kata tak apa kan?” aku terheran dimana pagi yang aku tantang dengan secangkir kopi itu menjadi ramai.
“ Tak ada yang melarang untuk saling berbincang”, aku tersenyum sambil bersandar pada dinding yang membisu. Kurangkul setiap kata yang terucap kala itu. Dimana sayup-sayup kudengar lagu Crazier milik Taylor Swift melantun. Dimana aku hanya duduk bersandar pada dinding kamarku mendengarkan lagu Creazier dengan alat komunikasi yang aku genggam dan membangun ilusi dengan lawan bicaraku yang saat itu hanya ada dijejaring sosial. Bualku…


Kelak jangan kau beri aku secangkir Kopi yang nyatanya itu hanya Kopi hambar tanpa rasa pahit

with love :')
Desi

Ruang Beraroma Kopi

Sedari pagi dengan hujan yang basah. Aku meminta udara untuk menetapkan aroma ini. Angin aku marahi jika dia meniup aroma ini jauh jauh. Tapi yang aku bela hanya membisu. Bukan, dia bukan membisu sebetulnya. Dia memberi tanda untuk ditemukan diatas meja segi empat bersemut. Mungkin dia memilih mana yang boleh menciumnya dengan anggun. Seperti bulan memilih malam mana yang akan di pantuli cayahanya. Merindu kelembutan untuk meletakkan beban ini di bibir lingkar seduhmu dan sebulan aromamu. Belum juga bertemu,hingga aku hanya berkhayal dalam ruangan aroma kopi ini.

with love :)
Desi

Desir



Aku pernah menjadi pantai tanpa rindangnya pohon kelapa
Aku sekedar pantai lepas tiada pulau disetiap sisiku
Aku cuma pantai rasa asin tanpa hiasan ombak
Aku bukan pantai tempat bermuara kerang mutiara
Tapi aku pantai yang tak harus dipalingkan dari luasnya Samudera

with love :)
Desi


Beberapa Sajak di Suatu Pagi 26 Nopember 2012


TENTANG KITA YANG AKAN DILAHIRKAN MENJADI APA
Dari sini, seribu kepastian menepis pelipis senyap, suyni kata-kataku. Angin baru saja hinggap di tabir mimpi yang belum usai, menyisakan seruak rahak pada unggun api-api pagi. Ia masih menyala, menerbangkan debu-debu kepedihan pada mata pagi yang enggan untuk terbuka. Ia hanya kabut, sampai menenggelamkannya. Mati.
duapuluhenamnopemberduaribuduabelas

DAWAI-DAWAI ILMU YANG PUPUS, LALU PUTUS
Matahari menitipkan malas di ruang-ruang kelas yang bersekat di dinding itu. Kemudian kita menerawang jauh, beribu abjad di buku-buku yang baru kita buka dan kita baca pagi itu. Ada sejarah yang tak ingin dikisahkan, lantaran persoalan panjang kehidupan. Ada juga ilmu yang harus terhenti, dengan janji. Melihat wajah-wajah masa depan, tanpa arah. Menuju waktu, yang perlahan menjemputnya tiada.

KEPADA ANGIN YANG MATI PAGI TADI
seperih mati
              yang kau sayat
                        dengan tangan waktu
              yang
                        tak juga
              binasa
 ia bersembunyi
              pada kaca embun
                        yang mengalun
              pada jeda
                        jendela pagi.
                                      lalu angin itu mati
pagi tadi.

KU KAIS SEPERCIK ILMU PADA RANTING GERIMIS
Aku menemukan sepercik ilmu tadi pagi. Bukan dari diktat, kuliah, atau sekolah-sekolah. sederhana saja: di ranting gerimis tadi pagi, ada barisan burung gereja hinggap. Di matanya melambaikan kesetiaan pada hidup dan juga mimpi.

KALUT
Bukan aku enggan menimba ilmu, dari ladang pengetahuan yang maha luas tak berjejak. Tapi mengapa dan kenapa, jika kita masih terdiam pada sihir-sihir yang menjelma mata-mata yang tak bisa berkata. Kalut.

261112
With love :)
Desi

Jangan Dulu Beranjak, Luka


Malam ini, hujan datang lagi. Masih dengan irama kenangan yang sama. Tak apa, aku bukan ingin menangis. Hanya saja, di dalamku, sepertinya luka telah menemukan sarangnya. Menetap, mengakar dan tumbuh bersama ladang kering yang dulu hijaunya penuh keteduhan, kini gugur meranggas. Andai luka juga bisa hilang satu per satu seiring waktu, akan begitu mudah aku tersenyum lagi di hadapmu.

Aku seperti kehausan tanpa mengetahui apa yang bisa kuminum. Sekadar ingin membasahi perihnya jerit-jerit yang tak lagi kau pedulikan. Bukan saja karena kau tak mendengar, namun kau memang tak pernah benar-benar ada di garis takdirku. Samar dan semakin pudar. Apa lantas jejakku harus berhenti sampai di sini? Tidak, Luka. Mari terseok berdua, lukai lagi saja nadi-nadi kita. Toh, kita bisa apa untuk menyelamatkan diri.

Selamat datang, langkah-langkah kelelahan tanpa alas. Entah ada di mana dan akan ke mana. Tersesat di antara pergerakan waktu, di kala tatanan hatiku belum seremuk ini.  Mencari tahu sedang apa dan untuk apa aku di sini, sekarang. Nyaris tak ada jawaban yang kutemukan. Jangan dulu beranjak, Luka. Tanpamu, aku hanya akan semakin sendiri.

Temani aku sebentar lagi, Luka. Paling tidak, hingga aku kuat menengadahkan wajahku ke arah langit dan meninggalkan sisa-sisa patahan hatiku yang sudah lewat masanya.

with love :)
Desi 


Tak Bisa Tak Terlalu Mencintaimu


“Jangan terlalu mencintaiku. Cintai dirimu sendiri.”, begitu pesanmu. Agar aku tak terlalu sakit ketika merindumu, menginginkanmu terlalu dalam atau sakit lainnya yang bersumber dari kecintaan yang begitu keterlaluan terhadapmu.

Haha. Aku tertawa dalam hati. Kamu orang pertama yang meminta hal itu. Aku bahkan tak pernah terpikir untuk meminta orang yang aku cinta (kamu) untuk tak begitu cinta aku.
Kamu tau rasanya menjadi gerimis yang tak pernah bisa memiliki hujannya sendiri? Seperti bernapas dalam ruang hampa udara. Seperti bernyawa tapi tak memiliki hidupku sendiri. Seperti berkehendak tapi bukan untuk apa yang sebenarnya aku mau.

Lalu kamu datang dengan segala kenyamananmu. Di mana denganmu, kepura-puraanku tak ada harganya lagi. Menjadi aku yang benar-benar aku. Melakukan apapun yang membahagiakan. Berada di titik ini, sekarang, bersamamu. Pelarian terindahku dari segala tuntutan dan paksaan.
Memintaku tak terlalu mencintaimu? Maaf, tapi itu sulit.


With love :)
Desi

Aku Rindu Hari Itu, Boleh?


“Jangan ngeliatin aku. Aku jelek.”, ujarku. Kuraih dagumu untuk mengarahkan pandanganmu ke hal-hal lain di sekitar kita.
“Cantik, kok. Hmm manis.” , katamu penuh senyum. Senyum yang teduhnya amat kuhafal. Kau lagi-lagi memandangiku. Aku mengerti, waktu kita tak lebih dari lima kali putaran lagu kesukaanmu. Sebelum akhirnya aku harus menunggu lagi, untuk bisa menikmati senyummu lebih dekat.
“Badanku kurus, dada datar versi telur ceplok, pipiku tembem dan ada jerawat di sini. Cara jalanku aneh.”, kataku sambil menikmati ice cream yang hampir sepenuhnya meleleh.
“Aku suka.”, kau memotong kalimatku sambil mengusap kepalaku. Aku terdiam. Toh, aku hanya mampu terdiam. Meresapi nyaman yang kau alirkan lewat tanganmu yang hangat.

Selamat malam, Rindu
Ingatkah kau pada bangku kayu, rerumputan yang basah dan kemeja lengan panjang yang kau gulung hingga siku di hari itu?
Sebelumnya, kata “kita” tak pernah kumaknai sedalam ini.
Ini rinduku yang kuikhlaskan, atas malam demi malam yang kau lewatkan di sampingnya, wanita beruntung yang berkesempatan memilikimu.

With love :)
Desi

Jumat, 19 April 2013

Hari ke 10 : Sebelum Ulang Tahunmu


Baru kemarin kubilang,
bahwa hujan seringnya berkonspirasi dengan rindu
Lantas malam ini terulanginya lagi, beberapa jam sebelum ulang tahunmu
Bagaimana mungkin sedih tidak menghinggapiku,
Berdiam cukup lama menimang-nimang apa akan aku meneteskan air mata
Bantalku basah, rinduku belum juga lelah


Selamat Ulang Tahun, FA

with love :')
Desi

Ingatanku Terisi Tentang Kamu

Kepalaku berat,
Isinya terlalu banyak tentang kamu.
Tentang pertemuan-pertemuan singkat yang terlalu banyak meninggalkan rekam jejak.
Tentang genggaman-genggaman tangan yang pernah mampir sebentar lalu lepas lagi berjarak.
Tidak lelahkah kita akan hampa yang mengisi dan terasa nyata, menyusup ke tengah-tengah rongga kepala yang dipaksa terus berputar memikirkan ketidakmungkinan yang harus diikhlaskan? 

With love :)
Desi

Trully Me


Jangan heran bila suatu saat bertemu denganku dan mendapatiku berbeda (antara dunia maya dan dunia nyata). Ini bukan soal 'fisik' atau sejenisnya.Ini tentang 'kebiasaan'. Bukan.. Bukan...Bukan 'kebiasaan', lebih tepat jika disebut 'watak'.

Di dunia nyata, kau akan jarang melihatku berargumen, atau bahkan sekedar mengungkapkan perasaan atau sesuatu. Aku juga takkan memulai percakapan tapi selalu menunggu percakapan dimulai. Sejujurnya, aku hanya bingung harus memulai darimana.
Ya... Inilah aku..
Diam adalah bagian dari diriku.

Tapi bukankah 'KENYATAAN HARUS DISUARAKAN'? Yap, itu benar! Tak mungkin selamanya aku DIAM. Hanya kepada orang baru dan tertentu saja. Aku butuh merasa NYAMAN untuk bersuara. Dan inilah 'Zona Nyaman'ku: 'BICARA DALAM TULISAN'.
Dunia dimana aku bebas berekspresi, dan bicara. Dunia dimana aku tidak akan DIAM.
Dunia Maya.

With love :)
Desi


Senin, 15 April 2013

Kata Selembar Kertas Putih pada Hati yang Terluka Menganga

"Desi Choco Nutella, kamu bohong!
Matamu yang melirik ke sana kemari itu suatu tanda kamu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ada yang kamu sembunyikan. Jangan tipu mereka dengan tangis dalam senyummu. Ayo ceritakan. Kalaupun kamu tidak ingin cerita, tulis saja seperti biasanya. Dengan begitu kamu akan merasa sedikit lega. Don't give up, I'm here :)", kata selembar kertas putih kepada hati yang sedang terluka menganga.

Memang hanya kertas, tempat pelampiasan yang paling pas.
with love :')
Desi


Maaf

Aku tidak ingin menulis apa-apa. Tidak ada kata-kata yang bisa kurangkai menjadi kalimat yang utuh. Suasana hatiku terlalu kacau. Aku merasa separuh. Separuhnya entah kemana. Entah siapa yang membawa. Dan lagi terlalu banyak hal yang membuat gerimis turun di pelupuk mataku. Iya, air mataku jatuh lagi kali ini. Entah yang keberapa kali. Aku tak pandai mengkalkulasi. Sampai disini saja. Maaf, aku tidak ingin menulis apa-apa.

with love :')
Desi

Sabtu, 13 April 2013

Namaku Desi Choco Nutella

"Aku ingin coklat dengan taburan kacang yang banyak"
"Tuh banyak di toko"
"Beliin dong"
"Kenapa kamu suka coklat dengan banyak taburan kacang? Biasanya wanita tidak suka makan coklat malam-malam gini. Apalagi pake kacang, mereka berlemak. Enggak takut gemuk kamu?"
"Mungkin itu bedanya aku deangan wanita lain. Aku rela makan coklat banyak lalu gemuk tapi bahagia. Aneh ya? Aku ini wanita yang susah untuk bahagia secara otomatis."
"Siapa bilang?"
"Aku barusan"
Tiba-tiba kedua tanganmu mu menarik pipiku ke samping. Lalu aku tertawa sampai perutku kaku saat itu.
"Itu sama persis seperti halaman pertama di buku catatanmu. Gambarnya seperti itu kan?"
"Kamu masih inget?"
"Memangnya harus ada yang kulupa?"
"Ini horor"
"Jangan mendefinisikan bahagia terlalu tinggi. Nanti kamu sulit untuk menggapai saat tidak bersamaku. Sederhanakan, bukankah bahagia itu selalu sederhana, Desi Choco Nutella?? :)"


Kamu benar, sekarang aku kehilangan definisiku sendiri. Bisakah kamu kembali? Ajari arek ilikmu untuk bahagia sekali lagi.

with love :')
Desi

Jumat, 12 April 2013

Hari ke 9 : Teruntuk Kamu



Dear kamu,
Aku tak tau bagaimana cara mencantumkan alamatmu pada amplop surat ini nanti,
Itulah mengapa aku hanya bisa menuliskannya di sini. Semoga saja Tuhan akan menggerakkan hatimu untuk membacanya. Dan dengan sendirinya kau menyadari bahwa ini adalah tentang kamu. Ya, kamu.
Bersiaplah, karena mulai hari ini aku akan menghujanimu dengan kata-kata yang aku rangkai sembari memikirkanmu.
Aku harap saat ini, dalam sujudmu terselip doamu agar Tuhan menunjukkan jalanmu menujuku. Entah di persimpangan mana nanti kita akan bertemu, tapi yang jelas saat ini kita sedang menuju ke arah itu. :)
Dan aku, disini sedang mempersiapkan hati yang lebih layak untuk kau tinggali.

with love :)
Desi