Pagi ini dia
membangunkanku, lagi. Entah keberapa kalinya dia menghubungiku di pagi buta
yang sekadar menanyakan,“Apa yang kulakukan di pagi yang dingin ini?”. “Mengapa
jam segini sudah bangun?”. “Apa agendamu hari ini?”. “Apa kau tidak kedinginan?”.
“Bagaimana kuliahmu?” dan bla bla bla. Awalnya kupikir dia hanya iseng saja,
tapi makin lama suaranya sampai ke hatiku juga. Demi Tuhan, perasaan aneh macam
apa ini?? Apa aku jatuh cinta? Dengan orang yang belum pernah kutatap bening
kedua matanya?? Bukankah ini sangat KONYOL SEKALI? Dulu, aku selalu percya bahwa cinta butuh tatap mata,
bahwa cinta butuh perjumpaan nyata. Dan, cinta butuh sentuhan ringan, mungkin
pelukan, kecupan, atau sedikit bisikkan yang menggelitik telinga. Awalnya aku
percaya itu semua, sampai pada akhirnya aku mengenalmu.
Begini, semua terjadi tanpa kita minta bukan? Kita juga tak berencana
untuk saling mengenal. Semua terjadi. Begitu saja. Tanpa pernah kita mengetahui
kelanjutan perkenalan singkat ini. Tulisan adalah modal awal, setidaknya untuk
saling mengenal. Aku tahu ini bodoh, terlalu banyak perasaan asing yang mulai
meremas dan menguras hari-harimu dan hari-hariku. Ada banyak cerita yang
sepertinya tak mampu lagi diwujudkan dalam kata, karena terlalu rumit untuk
dijelaskan bahwa untuk dilisankan. Perasaan itu seperti berlomba-lomba merusak
otak dan hati, hingga bibir kita kelu dan malu-malu untuk menyebutnya... rindu.
Karena terbiasa dengan sapaan ringanmu yang berwujud pada tulisan
sederhanamu, karena mulai nyaman pada sapa hangatmu di ujung telepon, kau dan
aku seperti menemukan satu hal yang selama ini sempat hilang. Begitu tergodanya
kita pada dunia yang tak tersentuh jemari itu, hingga segalanya berlanjut pada
komunikasi intensif dibumbui rasa cemburu. Pantaskah jika aku dan kamu mencapai
titik ini? Terlalu cepatkah jika kita menyebutnya cinta?
Oke, lupakan, aku tahu kamu sangat benci berbicara tentang hal-hal yang
serius. Seperti yang kaubilang dalam perkenalan awal kita, "HAVE FUN!
HILANGKAN KESEPIAN!" Iya, menghilangkan kesepian, perasaan yang telah lama
membelenggu kita berdua. Aku dan kamu sedang berusaha menghilangkan kesepian,
dan ketika kita bertemu (walau tak sengaja) ternyata dinding kesepian seperti
runtuh pelan-pelan, tanpa pemaksaan.
Benar, kita tak saling memiliki. Benar, semua terjadi seperti mimpi.
Benar, semua (mungkin) hanya ilusi. Kita terjebak situasi, dan terlalu percaya
bahwa cinta telah hadir di tengah-tengah kita, mengisi sudut-sudut hati yang sempat
dingin. Aku menganggap segalanya hanya permainan, yang suatu saat akan
berakhir; entah dengan akhir yang kusukai atau kubenci. Tapi, bisakah jemariku
mengendalikan akhir dari permainan? Atau aku pasrah saja pada keinginanmu...
untuk melanjutkan atau mengakhiri segalanya. Memberikan tanda titik atau koma. Atau
titik koma. Asal bukan tanda tanya.
Jika semua hanya permainan, jika semua hanya berkaitan dengan yang
instan, tapi mengapa kau seperti memerhatikanku dengan perhatian yang mendalam?
Apabila semua hanya ilusi, mengapa kauselalu datang dan kembali kemari? Apakah
ada hal spesial yang membuatmu terus ingin berlari ke arahku? Tapi, mengenaskan
juga jika sebenarnya hanya aku yang memperlakukan semuanya dengan serius. Dan,
ternyata kamu memang sedang bermain-main, sedang meloncat dari satu hati ke
hati lainnya.
Sungguh, aku tak pernah percaya tentang cinta tanpa tatapan mata juga
tanpa genggaman tangan yang belum saling bersinggungan. Tapi, entah mengapa,
aku merasa takut kehilangan.
11-12-2012 3.37
with love :)
Desi
with love :)
Desi
cinta tak harus datang dari tatapan yang bening
BalasHapuscinta kan bermuara pada tempatnya
yang tadinya maya bisa jadi nyata
seperti kau dan dia
yang dipertemukan tak sengaja
*salam buat mas gantengnya yah ^_^
ehehehehe
Hapusaduh dibaca sama mbake :p
rasanya memang terlalu cepat kalau ini disebut cinta, atau memang sebenarnya hanya imaginasiku saja
mas gantengnya lagi sibuk setengah mati -_-