welcome

Senin, 10 Desember 2012

Senyata Apakah Kamu?

Pagi ini dia membangunkanku, lagi. Entah keberapa kalinya dia menghubungiku di pagi buta yang sekadar menanyakan,“Apa yang kulakukan di pagi yang dingin ini?”. “Mengapa jam segini sudah bangun?”. “Apa agendamu hari ini?”. “Apa kau tidak kedinginan?”. “Bagaimana kuliahmu?” dan bla bla bla. Awalnya kupikir dia hanya iseng saja, tapi makin lama suaranya sampai ke hatiku juga. Demi Tuhan, perasaan aneh macam apa ini?? Apa aku jatuh cinta? Dengan orang yang belum pernah kutatap bening kedua matanya?? Bukankah ini sangat KONYOL SEKALI? Dulu, aku selalu percya bahwa cinta butuh tatap mata, bahwa cinta butuh perjumpaan nyata. Dan, cinta butuh sentuhan ringan, mungkin pelukan, kecupan, atau sedikit bisikkan yang menggelitik telinga. Awalnya aku percaya itu semua, sampai pada akhirnya aku mengenalmu.

Begini, semua terjadi tanpa kita minta bukan? Kita juga tak berencana untuk saling mengenal. Semua terjadi. Begitu saja. Tanpa pernah kita mengetahui kelanjutan perkenalan singkat ini. Tulisan adalah modal awal, setidaknya untuk saling mengenal. Aku tahu ini bodoh, terlalu banyak perasaan asing yang mulai meremas dan menguras hari-harimu dan hari-hariku. Ada banyak cerita yang sepertinya tak mampu lagi diwujudkan dalam kata, karena terlalu rumit untuk dijelaskan bahwa untuk dilisankan. Perasaan itu seperti berlomba-lomba merusak otak dan hati, hingga bibir kita kelu dan malu-malu untuk menyebutnya... rindu.

Karena terbiasa dengan sapaan ringanmu yang berwujud pada tulisan sederhanamu, karena mulai nyaman pada sapa hangatmu di ujung telepon, kau dan aku seperti menemukan satu hal yang selama ini sempat hilang. Begitu tergodanya kita pada dunia yang tak tersentuh jemari itu, hingga segalanya berlanjut pada komunikasi intensif dibumbui rasa cemburu. Pantaskah jika aku dan kamu mencapai titik ini? Terlalu cepatkah jika kita menyebutnya cinta?

Oke, lupakan, aku tahu kamu sangat benci berbicara tentang hal-hal yang serius. Seperti yang kaubilang dalam perkenalan awal kita, "HAVE FUN! HILANGKAN KESEPIAN!" Iya, menghilangkan kesepian, perasaan yang telah lama membelenggu kita berdua. Aku dan kamu sedang berusaha menghilangkan kesepian, dan ketika kita bertemu (walau tak sengaja) ternyata dinding kesepian seperti runtuh pelan-pelan, tanpa pemaksaan.

Benar, kita tak saling memiliki. Benar, semua terjadi seperti mimpi. Benar, semua (mungkin) hanya ilusi. Kita terjebak situasi, dan terlalu percaya bahwa cinta telah hadir di tengah-tengah kita, mengisi sudut-sudut hati yang sempat dingin. Aku menganggap segalanya hanya permainan, yang suatu saat akan berakhir; entah dengan akhir yang kusukai atau kubenci. Tapi, bisakah jemariku mengendalikan akhir dari permainan? Atau aku pasrah saja pada keinginanmu... untuk melanjutkan atau mengakhiri segalanya. Memberikan tanda titik atau koma. Atau titik koma. Asal bukan tanda tanya.

Jika semua hanya permainan, jika semua hanya berkaitan dengan yang instan, tapi mengapa kau seperti memerhatikanku dengan perhatian yang mendalam? Apabila semua hanya ilusi, mengapa kauselalu datang dan kembali kemari? Apakah ada hal spesial yang membuatmu terus ingin berlari ke arahku? Tapi, mengenaskan juga jika sebenarnya hanya aku yang memperlakukan semuanya dengan serius. Dan, ternyata kamu memang sedang bermain-main, sedang meloncat dari satu hati ke hati lainnya.

Sungguh, aku tak pernah percaya tentang cinta tanpa tatapan mata juga tanpa genggaman tangan yang belum saling bersinggungan. Tapi, entah mengapa, aku merasa takut kehilangan.

11-12-2012 3.37
with love :)
Desi

2 komentar:

  1. cinta tak harus datang dari tatapan yang bening
    cinta kan bermuara pada tempatnya
    yang tadinya maya bisa jadi nyata
    seperti kau dan dia
    yang dipertemukan tak sengaja

    *salam buat mas gantengnya yah ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehehehehe
      aduh dibaca sama mbake :p
      rasanya memang terlalu cepat kalau ini disebut cinta, atau memang sebenarnya hanya imaginasiku saja
      mas gantengnya lagi sibuk setengah mati -_-

      Hapus