Untukmu Dua Puluh Tiga September yang memaksaku melihat untuk yang
terakhir kalinya pada 26 Nopember.
Kau yang pergi begitu saja sebulan sebelum diwisuda tanpa ada
pamitan, tanpa ada perpisahan, apa yang kau lakukan di surga? Apa kau sedang
kau bicarakan dengan Tuhan? Apa kau sedang tersenyum juga di sana? Aku hanya
ingin menyudahi cerita tentang kesedihan dan air mata yang hanya disebabkan
karenamu.
Dan kali ini aku memang tidak akan menceritakan tentang kesedihan.
Kau tak akan suka bukan? Sekarang aku sudah menemukan seseorang, seseorang yang
kerap mengisi hati dan hariku. Aku menyukainya begitu pula dengannya. Ada hal
yang agaknya mirip dengan kalian. Caranya memperlakukanku sama seperti dirimu
yang baru pertama mengenalku. Juga cara bicaranya. Hanya saja kau suka kopi
tapi tidak dengannya. Ada perasaan yang tak biasa. Mungkin terlalu cepat bagiku
untuk suka, terlalu singkat untuk menyusun rasa. Asal kau tahu, di sela-sela
itu aku masih sangat mengharapkanmu hingga aku kelelahan dalam kesedihan,
hingga aku sadar bahwa aku berada dalam permainan kosong yang kubuat sendiri. Aku
sadar, hidupku masih panjang, seperti yang kau katakan bahwa waktuku untuk
mencapai apa yang kuinginkan masih sangat panjang, jadi perjuangkanlah.
Lagipula masih banyak lembaran kosong yang haus akan tintaku. Masih banyak yang
menunggu ceritaku.
Aku menyukainya bukan berarti padamu aku melupa. Aku masih
mengingatmu dan lebih mengenangmu. Bahkan tempatmu di sudut hatiku masih tidak
tergantikan. Kau masih punya tempat tersendiri di hati ini. Begitu pula saat
ice cream sedang di tanganku aku sering tersenyum, seolah aku melihat
bayanganmu di sampingku. Seolah kau juga menikmati dinginnya ice cream yang
lebih cepat meleleh di mulutku. Seolah kau ada di tempat yang sama. Percayalah,
caraku mengingatmu tak pernah berbeda dari yang kau tahu sebelumnya, bahkan lebih
istimewa.
Aku masih suka menangis jika monster ini berontak, tapi hanya
sebentar saja lalu ingat kamu dan tersenyum :)
with love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar