welcome

Sabtu, 22 Desember 2012

Percakapan Bisu dengan si Gila

“Pola pikirmu memang jauh di atas umurmu, kamu si 19 tahun yang bisa berpikir seperti seseorang dengan umur 27 tahun.”


“Maksud kamu apa?”



“Ya, kamu bisa berpikir terlalu dewasa dan terlalu kekanak-kanakan. Secara kontras bahkan kamu bisa berubah menjadi begitu menyebalkan. Sedetik kamu dewasa, dua detik kemudian emosimu meledak-ledak seperti bocah yang kehilangan mainannya.”



“Hmm.. oke, tapi tidak ada yang pernah mengatakan itu padaku?”



“Karena kamu masih terlalu rumit untuk diberitahu soal hal ini. Kau rumit dan mereka takut terjebak dalam kerumitanmu. Mereka takut menerka-nerka bagaimana kepribadianmu.”



“Mereka bilang aku sanguin. Karena aku pencair suasana yang beku.”



“Mereka bilang kau sanguin? Kau mencangkup 4 kepribadian sekaligus. Kau memang si pencair suasana, sanguin. Tapi, kau bisa jadi seorang kolerik, kau ingin memimpin segala sesuatu yang bisa kau pimpin. Kau melankolik, si perasa yang terlalu perasa. Dan, sewaktu-waktu kau bisa berubah menjadi seorang plegmatis, yang cenderung tertutup dan memiliki emosi yang datar.”



“Kok rumit?”



“Kembali ke konteks awal, kamu terlalu rumit bagi kebanyakan wanita lainnya. Kamu bisa menjadi egois dan tiba-tiba menjadi begitu romantis. Kau bisa berubah menjadi seorang peredam emosi, tapi di lain waktu kau adalah si tempramen yang meledak-ledak buas emosinya.”



“Apa aku seperti itu?”



“Kau tidak sadar? Ada banyak Desi dalam dirimu, mereka berganti-ganti sesuai jangka waktu yang mereka punya.”



“Aku.... maksudku aku...”



“Lalu, mereka berganti-ganti dari Desi yang satu ke Desi lainnya. Ada Desi yang suka menulis tentang hujan, ada Desi yang kritis pemikirannya, ada Desi yang sulit melupakan masa lalunya, ada Desi yang mencintai banyak pria dalam satu musim, ada Desi yang senang melompat dari satu hubungan ke hubungan lainnya, ada Desi yang kekanak-kanakan, ada Desi yang pikirannya seperti wanita berusia 27 tahun, ada Desi yang benci pelajaran menghafal, dan ada Desi yang takut pada ketinggian.”



“Saya tidak mengerti.. maksud saya jadi...”



“Dan, kamu berusaha melawan Desi-Desi lain yang menggerogoti dan memainkan perasaanmu dalam jangka waktu yang pendek, bahkan mereka bisa datang bersamaan, di saat-saat yang bahkan tak kau inginkan.”



“Saya tidak tahu saat ini kamu sedang berbicara dengan Desi bagian mana. Selamat malam. Saya tutup telephone-nya. Maaf.”



with love :)

Desi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar