welcome

Rabu, 26 Desember 2012

Skoliosis, aku kembali :'D

Entah berapa lamanya aku sudah tidak menulis tentang skoliosis di sini. Bukan berarti aku melupakannya tapi aku sibuk dengan calon profesiku (ceilee profesi). Jujur sejujur-jujurnya aku agak “sakit” jika harus membahas dan terus membahas skoli.

Aku bahkan lupa kapan terakhir kali terapi. Aku lupa kapan terakhir kali menangis karena skoli. Aku benar-benar lupa. Padahal biasanya, aku bisa menangis lebih dari 3 kali sehari karena monster satu ini dan tak jarang membuatku frustasi. Nangis di pojokan kamar semalaman, ngendon di toilet kampus lama-lama buat puasin nangisnya, nangis di kelas ga jelas, mewek di sepanjang jalan, dan masih banyak bentuk tingkah frustasi lainnya. Tapi kali ini, aku lebih memilih diam dan tersenyum dalam menyikapinya. Mungkin karena memang aku tak begitu menggubrisnya seperti dulu. Mungkin aku merasa dia memang akan selamanya ada, jadi aku harus membiasakan diri. Yup, membiasakan diri. Membiasakan diri untuk capek setelah jalan kaki dari kost ke kampus (walaupun terkadang sering jatuh tanpa alasan), membiasakan diri pegel di pinggang waktu naik turun tangga (ga tau kenapa sering hampir jatuh juga), membiasakan kaki kiri susah buat jalan tanpa alasan, membiasakan diri sesak nafas tiba-tiba dan membiasakan diri stretching di malam hari. Hanya itu, hanya stretching upayaku untuk mengurangi nyeri dan nafas yang dangkal yang diakibatkan tulang belakang yang seenaknya meliuk di tubuhku. Hanya mengurangi loh ya bukan mengobati dan itu artinya sakit-sakitannya bakalan kambuh, kapanpun. 


Dan sekali lagi aku harus membiasakan diri, terlebih calon profesiku yang benar-benar menguras tenaga fisik dan butuh tenaga ekstra tentunya. Untung saja selalu ada teman sebaik mereka yang selalu menguatkan, aku bisa dan pasti bisa mengalahkan kesakitan. Dan tentu saja dia, malaikat yang telah pergi genap 30 hari, aku tak pernah lupa untuk 3S yang selalu membuatku kuat; sabar, senyum dan semangat. Setahuku malaikat itu tinggalnya bukan di bumi, tapi di surga. Jadi aku memang harus siap jika sewaktu-waktu Tuhan mengambilmu. Karena di setiap kata "hay" pasti akan ada "good bye". Tapi ngomong-ngomong, hebat sekali kamu pergi di saat aku sudah mulai melupakan skoli. Disaat kamu berhasil meracuni setiap neuron di otakku sampai akhirnya aku menjadi sangat bodoh karena selalu menuruti kata-katamu. Disaat aku mulai lupa bahwa kesakitan tak memerlukan kesedihan. Kamu adalah bonus yang dikirim Tuhan untukku. Iya, kamu malaikat, malaikat yang khusus dikirim Tuhan untuk membuka mata dan hatiku dan seolah meyakinkan bahwa semua pasti akan baik-baik saja dan aku pasti bisa melewatinya, kau telah berhasil melakukannya.

Dan lagi aku tak tau mengapa Tuhan mengirimku ke dalam dunia yang sama sekali tidak pernah kuinginkan sebelumnya. Apa Tuhan sedang menunjukkan kuasanya bahwa sebenarnya aku sama dengan yang lainnya, aku tidak berbeda, begitukah?? Memang aku tidak berbeda dengan yang lainnya. Yang beda hanya tulang belakangnya. Punyaku meliuk, menari-nari, menusuk-nusuk, manja, dan sedikit genit. Yasudahlah, memangnya mau apa? Aku tak punya banyak uang. Jangankan untuk operasi, untuk terapi saja masih sangat sayang. Aku hanya bisa berdoa dan berusaha. Aku berdoa agar aku dan skolioser (panggilan untuk penderita skoliosis) lainnya baik-baik saja dengan kondisinya dan bisa melakukan banyak hal seperti orang normal lainnya. Satu hal lagi, aku tak punya alasan untuk tidak mengerti skoli yang sudah terasa mengendap menyelinap di tubuh ini. Dia terlalu indah untuk disebut sebgai musibah.


Ngawi, hujannya sudah berhenti
26122012
21:51
The greatest healing therapy is friendship and love :)
           

with love :)
Desi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar