Aku baru saja merebahkan tubuhku di sudut dermaga ketika kulihat
seberkas cahaya merah semburat dari balik awan, turun ke bumi. Mulanya aku
sangka itu cahaya senja, namun seketika cahaya itu hilang di tengah lautan.
Sudut dermaga sepi tanpa hingar-bingar camar. Mungkin hanya aku yang melihat
cahaya merah yang begitu gaib tadi.
Saat itu
aku tak peduli kemana semua orang pergi, aku hanya ingin melihat bentuk-bentuk
awan yang beraneka dari sudut dermaga. Tiba-tiba mataku tertuju pada sosok yang
berdiri di tengah awan kumulus. Jantungku berhenti. Sepersekian detik aku
meyakinkan diriku bahwa yAku baru saja merebahkan tubuhku di sudut dermaga ketika kulihat seberkas cahaya merah semburat dari balik awan, turun ke bumi. Mulanya aku sangka itu cahaya senja, namun seketika cahaya itu hilang di tengah lautan. Sudut dermaga sepi tanpa hingar-bingar camar. Mungkin hanya aku yang melihat cahaya merah yang begitu gaib tadi.
Saat itu aku tak peduli kemana semua orang pergi, aku hanya ingin melihat bentuk-bentuk awan yang beraneka dari sudut dermaga. Tiba-tiba mataku tertuju pada sosok yang berdiri di tengah awan kumulus. Jantungku berhenti. Sepersekian detik aku meyakinkan diriku bahwa yang kulihat adalah hantu, ataukah malaikat? Aku tak pernah melihat hantu sebelumnya, apalagi malaikat. Ia menatap jauh ke angkasa, dengan kuas yang ia genggam di tangan kanannya. Saat itulah kamu datang.
Kamu datang, dengan jas dan pantalon hitam. Semua akan baik-baik saja, katamu waktu itu. Kamu sungguh berbeda. Aku pikir, malaikat selalu memakai jubah putih yang keperakan. Ternyata buku-buku cerita itu salah. Tanpa mengucap sepatah kata, kamu berbaring di sisiku, ikut menyaksikan awan-awan nun di atas sana. Itu siapa? Tanyaku sambil menunjuk sosok di tengah awan tadi. Manusia, sama sepertimu. Ia kembali menghadapNya, jawabmu tenang. Detik itu juga aku melihat banyak manusia di atas sana. Begitu banyak yang pergi, ya?
Suatu saat aku juga akan pergi. Aku ingin melebur bersamaNya. Tiba-tiba aku ingat cerita ayah tentang hari akhir, di mana empatpuluh hari sebelumnya orang-orang beriman akan mati oleh kabut yang entah apa namanya. Aku bergidik ngeri, tapi alangkah bahagianya aku jika termasuk ke dalam orang-orang beriman itu.
Aku hanya takut tak bisa bertemu orang-orang di sekitarku, bisikku, ada jutaan manusia di atas sana. Kamu tersenyum. Mungkin kamu sendiri tak tahu jawabannya, mungkin juga kamu sengaja tak mau memberitahu. Angin laut berhembus meniup rambutku yang tergerai panjang ke wajahmu. Sementara di atas sana, semakin banyak manusia yang berkerumun, saling berpegangan tangan di antara awan yang bergumpal seperti kapas.
Lalu kapan aku dipanggilNya? tanyaku tiba-tiba.
Seketika kamu jongkok di depanku, membelakangiku. Naikklah, katamu. Tapi aku masih diam mematung. Kamu menoleh ke belakang, kerlingan matamu seolah mengisyaratkan sesuatu. Tanpa menunggu aba-aba yang kedua, aku segera menyambut punggungmu . Lalu kamu membawaku menyusuri dermaga. Luar biasa rasanya.
Mataku terbelalak. Aku sadar. Aku terbangun dari alam maya yang kusebut mimpi. Iya, semua yang kuceritakan adalah mimpiku semalam bersama seseorang yang sering menebarkan khayalanku di langit pantai dan dermaga, Faris Anthony.
ang kulihat adalah hantu, ataukah malaikat? Aku tak
pernah melihat hantu sebelumnya, apalagi malaikat. Ia menatap jauh ke angkasa,
dengan kuas yang ia genggam di tangan kanannya. Saat itulah kamu datang.
Kamu
datang, dengan jas dan pantalon hitam. Semua akan baik-baik saja, katamu waktu
itu. Kamu sungguh berbeda. Aku pikir, malaikat selalu memakai jubah putih yang
keperakan. Ternyata buku-buku cerita itu salah. Tanpa mengucap sepatah kata,
kamu berbaring di sisiku, ikut menyaksikan awan-awan nun di atas sana. Itu
siapa? Tanyaku sambil menunjuk sosok di tengah awan tadi. Manusia, sama
sepertimu. Ia kembali menghadapNya, jawabmu tenang. Detik itu juga aku melihat
banyak manusia di atas sana. Begitu banyak yang pergi, ya?
Suatu
saat aku juga akan pergi. Aku ingin melebur bersamaNya. Tiba-tiba aku ingat
cerita ayah tentang hari akhir, di mana empatpuluh hari sebelumnya orang-orang
beriman akan mati oleh kabut yang entah apa namanya. Aku bergidik ngeri, tapi
alangkah bahagianya aku jika termasuk ke dalam orang-orang beriman itu.
Aku hanya
takut tak bisa bertemu orang-orang di sekitarku, bisikku, ada jutaan manusia di
atas sana. Kamu tersenyum. Mungkin kamu sendiri tak tahu jawabannya, mungkin
juga kamu sengaja tak mau memberitahu. Angin laut berhembus meniup rambutku
yang tergerai panjang ke wajahmu. Sementara di atas sana, semakin banyak
manusia yang berkerumun, saling berpegangan tangan di antara awan yang
bergumpal seperti kapas.
Lalu
kapan aku dipanggilNya? tanyaku tiba-tiba.
Seketika
kamu jongkok di depanku, membelakangiku. Naikklah, katamu. Tapi aku masih diam
mematung. Kamu menoleh ke belakang, kerlingan matamu seolah mengisyaratkan
sesuatu. Tanpa menunggu aba-aba yang kedua, aku segera menyambut punggungmu .
Lalu kamu membawaku menyusuri dermaga. Luar biasa rasanya.
Mataku
terbelalak. Aku sadar. Aku terbangun dari alam maya yang kusebut mimpi.
Iya, semua yang kuceritakan adalah mimpiku semalam bersama seseorang yang
sering menebarkan khayalanku di langit pantai dan dermaga, Faris Anthony.
with love :)
Desi
with love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar