welcome

Jumat, 07 Desember 2012

Kecewa untuk Kesekian Kalinya


Ditulis dengan sederhana, untuk calon dokter kapal yang baru semester lima

Di saat aku merasa kau adalah satu-satunya, kau pergi tanpa sepatah kata...
Kau biarkan aku kedinginan tanpa sebuah pelukan bahkan kecupan. Kau biarkan aku menunggu tanpa kepastian. Kau pergi tanpa permisi, kau tidak kembali. Kau pergi tanpa terminasi yang berarti. Aku sedang memprotesmu, Satu Mei.
Lalu muncul semacam pertanyaan, “Mengapa kau sakiti aku di saat di hatiku hanya penuh akan dirimu?”. Apakah kau menyadari bahwa aku sering merasa bahwa kau adalah malaikat tak bersayap yang Tuhan kirim untuk menjaga dan mengerti akan segala tentangku? Kurasa tidak karena kau telah pergi tanpa jejak. Apakah kau pernah merasa seperti apa yang kurasa bahwa kau ada karena cinta? Kurasa tidak juga karena faktanya kau lebih memilih “si cerewet” entah siapa namanya ketimbang diriku apa adanya.
Baiklah aku memang kecewa. Kau yang kupikir segalanya ternyata bukan apa-apa. Kau bahkan pergi begitu saja. Kau mungkin tak ingat lagi momen 23Agustus 2012 pukul 19.17 di Doremi Pizza. Mungkin bagimu momen itu hanyalah sampah yang lebih tepat dibuang di pinggir jalan atau dimanapun tempatnya asal bukan di hati saja. Tapi tidakkah kau mengerti bahwa aku sangat mengingatnya hingga saat aku menuliskan uneg-uneg ini, di sini? Bahkan dengan bodohnya aku masih selalu melihat bayang bayang kita saat duduk di kursi nomor dua paling utara, bercengkerama tidak ada habisnya, tentang kau dan aku, tentang kuliahmu, tentang gantungan kunci singa berbulu punyamu dan tentang pasienku. Kau mungkin memang sudah lupa.
Kau tahu aku sempat menamai satu bintang dengan Satu Mei. Ia bintang paling terang. Berharap kau adalah bintang itu,menerangiku. Itu satu dari sekian kebodohan yang belum kuceritakan. Sampai detik ini aku masih merasa sangat bodoh akan perlakuanmu di masa lalu. Rasanya ingin memuntahkan ingatan yang sejujurnya tak ingin kuingat tapi sayangnya ingatan bukan di perut, tapi di otak jadi aku jelas tidak bisa memuntahkannya.
Aku kecewa lagi entah yang keberapa kalinya. Saat kupikir kau adalah cinta nyatanya kau adalah luka. Saat aku mengira kau adalah malaikat, kau justru menjerat. Berbahagialah dengan “si cerewet”-mu. Aku pasti akan bahagia melihatmu bahagia juga. Bukankah melepas itu harus ikhlas walaupun sebenarnya tak ingin lepas?

07122012  0.22
Dari seorang wanita yang kau bolak-balikkan perasaannya tanpa kau tahu akibatnya. Aku sempat menyukaimu dan bodohnya aku juga berharap menjadi istrimu :’D

with love :)
Desi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar