Ditulis
dengan sederhana, untuk calon dokter kapal yang baru semester lima
Di saat aku merasa kau
adalah satu-satunya, kau pergi tanpa sepatah kata...
Kau biarkan aku
kedinginan tanpa sebuah pelukan bahkan kecupan. Kau biarkan aku menunggu tanpa
kepastian. Kau pergi tanpa permisi, kau tidak kembali. Kau pergi tanpa
terminasi yang berarti. Aku sedang memprotesmu, Satu Mei.
Lalu muncul semacam
pertanyaan, “Mengapa kau sakiti aku di saat di hatiku hanya penuh akan
dirimu?”. Apakah kau menyadari bahwa aku sering merasa bahwa kau adalah
malaikat tak bersayap yang Tuhan kirim untuk menjaga dan mengerti akan segala
tentangku? Kurasa tidak karena kau telah pergi tanpa jejak. Apakah kau pernah
merasa seperti apa yang kurasa bahwa kau ada karena cinta? Kurasa tidak juga
karena faktanya kau lebih memilih “si cerewet” entah siapa namanya ketimbang
diriku apa adanya.
Baiklah aku memang
kecewa. Kau yang kupikir segalanya ternyata bukan apa-apa. Kau bahkan pergi
begitu saja. Kau mungkin tak ingat lagi momen 23Agustus 2012 pukul 19.17 di
Doremi Pizza. Mungkin bagimu momen itu hanyalah sampah yang lebih tepat dibuang
di pinggir jalan atau dimanapun tempatnya asal bukan di hati saja. Tapi
tidakkah kau mengerti bahwa aku sangat mengingatnya hingga saat aku menuliskan uneg-uneg ini, di sini? Bahkan dengan
bodohnya aku masih selalu melihat bayang bayang kita saat duduk di kursi nomor
dua paling utara, bercengkerama tidak ada habisnya, tentang kau dan aku,
tentang kuliahmu, tentang gantungan kunci singa berbulu punyamu dan tentang pasienku.
Kau mungkin memang sudah lupa.
Kau tahu aku sempat
menamai satu bintang dengan Satu Mei. Ia bintang paling terang. Berharap kau
adalah bintang itu,menerangiku. Itu satu dari sekian kebodohan yang belum
kuceritakan. Sampai detik ini aku masih merasa sangat bodoh akan perlakuanmu di
masa lalu. Rasanya ingin memuntahkan ingatan yang sejujurnya tak ingin kuingat
tapi sayangnya ingatan bukan di perut, tapi di otak jadi aku jelas tidak bisa
memuntahkannya.
Aku kecewa lagi entah
yang keberapa kalinya. Saat kupikir kau adalah cinta nyatanya kau adalah luka.
Saat aku mengira kau adalah malaikat, kau justru menjerat. Berbahagialah dengan
“si cerewet”-mu. Aku pasti akan bahagia melihatmu bahagia juga. Bukankah
melepas itu harus ikhlas walaupun sebenarnya tak ingin lepas?
07122012
0.22
Dari
seorang wanita yang kau bolak-balikkan perasaannya tanpa kau tahu akibatnya.
Aku sempat menyukaimu dan bodohnya aku juga berharap menjadi istrimu :’D
with love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar