welcome

Selasa, 21 Mei 2013

Raining on My Parade


November usai. Membawa hujan yang kerap, kepada Desember.
Bulan-bulan hujan. Semusim sendu di mana kelopak mata bukan lagi kunci, dan hati bukan lagi peti. Keduanya punya hujan sendiri-sendiri.
Ia.Biru.
Tapi Ia tak pernah bertanya; mengapa Ia biru? Langit butuh jingga, butuh lebam, lembayung, gradasi. Biru adalah cadar yang ia siapkan untuk camar-camar yang butuh menyusu kerlap semesta. Biru telah langit siapkan untuk rengas-rengas yang hendak bertunas—menganak-pinakkan tubuh mereka setelah disenggamai matahari. Setiap biru punya cerita. Setiap biru menyimpan catatan di pori-pori semesta.
Dan, setiap biru butuh basuh. Butuh luntur untuk nanti menjadi baru.
Hujan.
Hujan, adalah biru yang telah melewati beragam sulingan. Biru yang berputar-putar untuk menemui kembali birunya persinggahan. Dan biru yang tak pernah berhenti bertanya; kapan ia tak disebut dari keabadian?
[Desember, saat aku basah kuyup oleh biru, dan mengering utuh bersama warna-warna yang saru. Baru yang saru].

With love :)
Desi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar