Hari ini aku lupa menjadi manusia, seperti nokturnal yang enggan disetubuhi surya. Di kala itu pula, aku lihat kau berlari, sepi. Menghilang di tengah pagi, jika tak mau ku sebut siang. Aku sungguh lupa aksi manismu, yang merayu dan merajut kesibukanku. Yang diam dan menyeringai waktu para perantau tertawa terbahak. Aku lupa jadi diriku.
Pagi berubah, dia dipukul mati oleh senja. Dan malam, tak lagi meragukan senyumannya, sinis. Kini aku tak tahu jarak, aku tak tahu waktu, aku tak tahu segalanya, semua berubah. Aku lupa aku bekerja demi siapa, aku lupakan keluargaku, aku lupakan semua yang terus menerus mengasihiku. Aku terpaku pada matahari yang tak kunjung usai, persetan.
Dan semakin tua, aku semakin haus kasihan. Ah, aku ingin bangkit sendiri rasanya. Namun, renta adalah diriku. Malas adalah hidupku. Aku tak peduli lagi dengan lini waktu yang menjadikan ada. Apa yang terjadi? Kau kemanakan egomu yang buas?
Apakah kita semua benar-benar sengsara? apakah kita semua masih percaya? Pada kebenaran-kebenaran yang usang? Yang tradisinya telah punah dan luruh? Bangsat.
Aku sadar aku diubah, aku sadar. Saat bangkit telah usai. Dan aku, terlambat datang padanya. Aku terlambat dikasihani oleh waktu. Nak, kau kehilangan arah, kau kehilangan wibawa, kau kehilangan harga diri. Jangan lagi kau buang egomu percuma. ludahi semua yang buas, karena hanya kau yang buas. Lucuti semua yang kuasa, karena kaulah penguasa. Lagi, bangunkan lagi egomu yang tidur abadi. Lagi, biarkan dirimu menyeringai sekali lagi.
With love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar