Halo, apa kabarnya kamu? Lama sudah kita tidak bertemu. Semoga kamu selalu baik-baik saja dan tidak lagi menjadi sia-sia. Surat kali ini sengaja aku tujukan untukmu, mungkin ini salah satu cara agar kita tetap berhubungan meski tidak langsung.
Teman, aku turut sedih sebenarnya tentangmu yang selalu dibenci mereka. Ditakuti seperti momok, padahal kamu tidak salah apa-apa tapi mereka menghakimimu dengan begitu berat. Aku paham, mungkin mereka lelah denganmu yang selalu hadir tanpa permisi lalu pergi dengan menyakiti.
Padahal, aku tahu pasti, itu adalah kesalahan mereka. Mereka yang telah memintamu datang namun tidak dapat menyiapkan diri menyambut kehadiranmu. Sayang, akhirnya mereka luka karena ketidaksiapannya sendiri. Aku pun begitu, pernah beberapa kali menghakimimu atas kesalahanku meninggikanmu yang akhirnya malah merendahkanku.
Aku minta maaf atas itu semua, lagi-lagi memang aku dan mereka tidak pernah mengerti caranya mengatur kadar yang sesuai. Berkali-kali kecewa namun tetap tidak jera. Pada akhirnya, aku hanya ingin menakarmu sama dengan realita agar tidak ada lagi putus asa. Karena meninggikanmu berbanding lurus dengan sakit hati. Meskipun kamu selalu dibutuhkan sebagai wujud peradaban, tanpamu mungkin tidak ada lagi kehidupan. Salam hangat untukmu, ekspektasi.
dari pemilikmu
with love :)
Desi
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar