welcome

Selasa, 21 Mei 2013

Kaca yang Hampir Pecah


Aku pernah melihat kaca tergantung di kedua celah katup matanya. Berlatar gurat merah di sklera. Aku tahu hatinya sedang panas kala itu. Ada yang mendidih lalu mencuat ke atas. Merangkak dan kemudian merembes melalui mata, jendela hati kata orang. Ada yang ingin buncah namun tertahan. Ada amarah dalam diam. Lalu berlalu melalui kaca yang hampir pecah di matanya.
Kini, kaca itu tergantung lagi. Aku lagi yang membuatnya. Bukan, ini bukan lagi soal titik didih yang memuncak lalu merangkak naik mencari jalan keluar ke mata. Skleranya jernih tak bergurat. Warnanya bersih putih telur rebus. Ada kilat pantul dari bulir bening yang rata siap menggenang. Aku tahu, aku telah merobek hatinya hingga bocor. Air meluap terdesak hingga ke atas. Melawan keluar melalui mata. Lagi, ada kaca yang hampir pecah di sana.

Kita sama-sama tahu apa yang kita cari. Saling menemukan dalam ketidaksanggupan adalah aksi gagu. Maka meretas jeda adalah menciptakan ruang gerak. Mempersilahkan masing-masing diri memiliki cukup kapasitas untuk tumbuh lebih bijaksana. Jika mampu sudah dirasa, aksi nyata dapat menyalak.

Kelak, selama tetap memiliki tujuan yang sama, tanpa mencari pun kita pasti akan berjumpa. Kembali menemukan dalam kefasihan berikrar bersama.

Untuk kaca yang hampir pecah. Jeda. Kesanggupan. Dan pertemuan.

Magetan, 27 Nopember 2012. 
Terjaga hingga menuju pagi karena segelas cappucino

Tidak ada komentar:

Posting Komentar