Aku pernah melihat kaca tergantung di kedua celah katup matanya. Berlatar
gurat merah di sklera. Aku tahu hatinya sedang panas kala itu. Ada yang
mendidih lalu mencuat ke atas. Merangkak dan kemudian merembes melalui mata,
jendela hati kata orang. Ada yang ingin buncah namun tertahan. Ada amarah dalam
diam. Lalu berlalu melalui kaca yang hampir pecah di matanya.
Kini,
kaca itu tergantung lagi. Aku lagi yang membuatnya. Bukan, ini bukan lagi soal
titik didih yang memuncak lalu merangkak naik mencari jalan keluar ke mata.
Skleranya jernih tak bergurat. Warnanya bersih putih telur rebus. Ada kilat
pantul dari bulir bening yang rata siap menggenang. Aku tahu, aku telah merobek
hatinya hingga bocor. Air meluap terdesak hingga ke atas. Melawan keluar
melalui mata. Lagi, ada kaca yang hampir pecah di sana.
Kita
sama-sama tahu apa yang kita cari. Saling menemukan dalam ketidaksanggupan
adalah aksi gagu. Maka meretas jeda adalah menciptakan ruang gerak.
Mempersilahkan masing-masing diri memiliki cukup kapasitas untuk tumbuh lebih
bijaksana. Jika mampu sudah dirasa, aksi nyata dapat menyalak.
Kelak,
selama tetap memiliki tujuan yang sama, tanpa mencari pun kita pasti akan
berjumpa. Kembali menemukan dalam kefasihan berikrar bersama.
Untuk
kaca yang hampir pecah. Jeda. Kesanggupan. Dan pertemuan.
Magetan,
27 Nopember 2012.
Terjaga
hingga menuju pagi karena segelas cappucino
Tidak ada komentar:
Posting Komentar