Hai, halo. Aku tak tau bagaimana cara paling tepat untuk menyapamu. Sejelasnya aku menulis ini sambil menangis. Betapa tidak, aku harus mengais ingatan yang sejujurnya tak ingin kuingat, kepergianmu.
Bisakah kamu melihatku dari sana? Dari tempat yang nantinya aku juga akan ke sana, diamana Tuhan memeluk setiap insan yang berpulang. Aku merindukanmu. Alasannya sederhana saja, aku memang seharusnya merindukanmu. Bukankah rindu selalu sederhana, tapi tak pernah sederhana bagi mereka yang berusaha menyimpannya, terlebih sendirian.
Bisakah kita tertawa seperti dulu? aku merindukan saat dimana kamu mencoba membuatku selalu tersenyum dengan sejuta gaya unikmu. Bisakah? Bisakah kita becanda di setiap jendela? Jendela biru, abu-abu, dan ungu? Semenjak kamu pergi, tak ada yang membuatku bergerak sebebas saat ada kamu di sampingku. Aku seperti merasa sendirian di tengah banyak kerumunan orang. Mengeja setiap rentet ketololan tanpa bisikan petuah yang biasanya kamu lantunkan. Membakar semangat sendirian tanpa sejengkal keinginan sebagai kayu bakar.
Sampai kapanpun aku akan tetap merindumu. Yang kulakukan hanyalah memelukmu lewat setiap ingatanku dan selebihnya aku akan terus mendoakanmu. Baik-baiklah di sana, pahlawanku. Lalu kapan kamu akan pulang?
With love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar