“Sepertinya esok kabarmu akan datang seperti yang dinanti. jika tidak, mungkin esoknya … esoknya lagi … esoknya lagi kemudian … sampai tiba-tiba sungging senyum terlepas akan dambaku yang tak pernah kandas.”
Tidak semua yang saya tulis adalah saya dan tidak semua yang kamu baca adalah kamu :)
welcome
Rabu, 29 Mei 2013
Penulis:
Unknown
“kepercayaan itu tidak bisa ada secara instan, tidak bisa dipikirkan; jawabannya adalah berani untuk mencoba walau pada sesuatu yang belum pasti dan belum bisa diyakinkan.”
Penulis:
Unknown
"Sejenak aku ingin melipat waktu, untuk mengenalmu. lalu menyembunyikan detik, agar tak tergerak. lantas kamu akan selalu ada, tak beranjak.”
Penulis:
Unknown
"rindu yang datang senaknya menjungkir balikkan duniaku pada rasa yang tak tentu, keresahaku, karenamu.”
Penulis:
Unknown
“sementara gelap telah jatuh, membingkai dingin, hati bertemu rindu, pada sepenggal namamu yang tak datangseharian.”
Selasa, 28 Mei 2013
Penulis:
Unknown
Mari salahkan jarak yang mengundang rindu, yang salah bila dipendam dan bertambah bila dipandu.
Belajar memiliki dengan berserah, berdekatan melalui jauh dan berharap semuanya semakin jernih.
Mencoba mendidik cinta dengan jarak dan mengajar rindu dengan sayang, agar ia berujung keikhlasan.
with love :)
Desi
Desi
Selasa, 21 Mei 2013
Kaca yang Hampir Pecah
Penulis:
Unknown
Aku pernah melihat kaca tergantung di kedua celah katup matanya. Berlatar
gurat merah di sklera. Aku tahu hatinya sedang panas kala itu. Ada yang
mendidih lalu mencuat ke atas. Merangkak dan kemudian merembes melalui mata,
jendela hati kata orang. Ada yang ingin buncah namun tertahan. Ada amarah dalam
diam. Lalu berlalu melalui kaca yang hampir pecah di matanya.
Kini,
kaca itu tergantung lagi. Aku lagi yang membuatnya. Bukan, ini bukan lagi soal
titik didih yang memuncak lalu merangkak naik mencari jalan keluar ke mata.
Skleranya jernih tak bergurat. Warnanya bersih putih telur rebus. Ada kilat
pantul dari bulir bening yang rata siap menggenang. Aku tahu, aku telah merobek
hatinya hingga bocor. Air meluap terdesak hingga ke atas. Melawan keluar
melalui mata. Lagi, ada kaca yang hampir pecah di sana.
Kita
sama-sama tahu apa yang kita cari. Saling menemukan dalam ketidaksanggupan
adalah aksi gagu. Maka meretas jeda adalah menciptakan ruang gerak.
Mempersilahkan masing-masing diri memiliki cukup kapasitas untuk tumbuh lebih
bijaksana. Jika mampu sudah dirasa, aksi nyata dapat menyalak.
Kelak,
selama tetap memiliki tujuan yang sama, tanpa mencari pun kita pasti akan
berjumpa. Kembali menemukan dalam kefasihan berikrar bersama.
Untuk
kaca yang hampir pecah. Jeda. Kesanggupan. Dan pertemuan.
Magetan,
27 Nopember 2012.
Terjaga
hingga menuju pagi karena segelas cappucino
Raining on My Parade
Penulis:
Unknown
November usai. Membawa hujan yang kerap, kepada Desember.
Bulan-bulan hujan. Semusim sendu di mana kelopak mata bukan lagi kunci, dan hati bukan lagi peti. Keduanya punya hujan sendiri-sendiri.
Ia.Biru.
Tapi Ia tak pernah bertanya; mengapa Ia biru? Langit butuh jingga, butuh lebam, lembayung, gradasi. Biru adalah cadar yang ia siapkan untuk camar-camar yang butuh menyusu kerlap semesta. Biru telah langit siapkan untuk rengas-rengas yang hendak bertunas—menganak-pinakkan tubuh mereka setelah disenggamai matahari. Setiap biru punya cerita. Setiap biru menyimpan catatan di pori-pori semesta.
Dan, setiap biru butuh basuh. Butuh luntur untuk nanti menjadi baru.
Hujan.
Hujan, adalah biru yang telah melewati beragam sulingan. Biru yang berputar-putar untuk menemui kembali birunya persinggahan. Dan biru yang tak pernah berhenti bertanya; kapan ia tak disebut dari keabadian?
[Desember, saat aku basah kuyup oleh biru, dan mengering utuh bersama warna-warna yang saru. Baru yang saru].
With love :)
Desi
Minggu, 19 Mei 2013
Menerima Keadaan
Penulis:
Unknown
Pada tumpukan kesibukan, bercampur-aduknya kerumitan, tak kejelasan perasaan, aku menuliskan hiruk-pikuknya kerinduan.
Suratmu sudah kudiamkan berminggu-minggu. Aku berusaha mengacuhkannya. Aku berusaha untuk tidak memaafkan jeda tanpa kabar-kabarmu. Aku berusaha amnesia untuk seolah lupa tentang kita. Aku mendikte hati bahwa yang ada seharusnya benci. Tapi hati tak bisa tertidur dengan kemauan logika. Sekalipun jeda itu nyaris menghilangkanmu dari peredaran duniaku, tapi hati tak bisa dibohongi akan perasaannya yang masih begitu lugas. Tentang kepergianmu yang tiba-tiba, tentang tanya dan praduga yang disodorkan berulang-ulang oleh hati, seharusnya aku tidak memaafkanmu. Tapi bukankah cinta tak kenal kata seharusnya jika hati telah menurunkan perintah. Tidak ada yang perlu kukoreksi. Mungkin sejuta praduga di kepala kita isinya sama. Jelas-jelas itu karena ulah kita yang merumit-rumitkan rasa.
Maaf untuk permulaan surat yang cukup mencakar. Aku benci kita yang seperti ini. Tadinya hanya persoalan jarak, tapi menjejak jadi sesuatu yang memuncak. Aku hanya khawatir jika kita berakhir tanpa alasan yang bisa kujadikan pengecualian. Jangan tanya soal rindu, dialah yang selama ini menjagai hariku tanpamu. Satu-satunya hal yang sedang kubiasakan adalah menerima sebuah ketiadaan. Jika tugasmu sudah selesai menjaga kesehatan seisi pedesaan, mampirlah kesini ke hatiku. Mungkin hati juga perlu disembuhkan dengan sedikit pelukan. Aku tahu kita akan baik-baik saja. Perjalananmu juga perjalananku, perjalanan kita. Entah kemana nantinya akan bermuara, semoga kita bisa mengatasinya.
Di sela-sela hiruk pikuknya hidup, aku selalu menyelipkanmu yang hening sebagai penyeimbang duniaku. Sungguh, rasanya tak sanggup menyelesaikan surat ini. Tapi setidaknya ini salah satu perpisahan termanis, yang terangkum tanpa tangis. Di usainya surat ini aku melepaskan huruf-hurufku untuk berlari memelukmu, melegakan hatimu. Aku tahu tidak akan lama sayang. Kita hanya sedang berenang melepaskan penghimpit hati, mendewasa, dan menumbuhkan semakin banyak cinta. Ceritakan aku tentang duniamu disana pada surat berikutnya ya.
Aku menunggu, aku ingin tahu.
With love :)
Desi
Tanpa Akhir
Penulis:
Unknown
Dear you,
Aku tidak ingin menyelesaikan apapun, karena pertambahan sehari adalah permulaan baru denganmu. Aku tidak ingin sebuah akhir agar kita pun bisa meneruskan lagi cerita-cerita yang menyertakan perjalanan mendewasa hati. Aku ingin lebih banyak kita tanpa khawatir yang mengada-ada. Di perjalanan berlabuhnya hati, tentang menemukan dan ditemukan. Tentang hati yang masih semu menjatuhkan kemana pilihan itu. Ini bukan masalah bahagia atau tidak, bersama atau sendiri, tapi tentang kita yang tidak kuatir akan apa-apa asal hati dijaga si penghuni.
Di pertambahan hari, tentang cerita yang dilahirkan dan kenangan dikuburkan. Aku akan melepaskan ketakutan dan menukarnya dengan senyuman. Kita yang masih berbentuk tanya, rahasia dan ketidakpastian yang nyata. Bolehkah aku menutup mata sebentar, bermimpi lalu membebaskan hati? Mungkin, jutaan dari mereka meminta akhir yang bahagia. Aku percaya, tanpa akhirpun jika bersamamu aku pasti akan bahagia.
Tapi jika boleh menghadirkan sebuah pinta, aku ingin kita saling bahagia karena kita menjadi pusat bahagianya. Bukan kalian, kami, atau siapapun terlepas dari kita.
Kamu yang seharusnya tidak dihadirkan, aku tidak bisa menolak saat semesta melampirkan.
With love :')
Desi
Sabtu, 18 Mei 2013
Penulis:
Unknown
❝
Akhirnya setiap hati hanya bisa kembali pasrah dalam aliran cinta yang mengalir entah ke mana. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski kadang pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu.
Penulis:
Unknown
❝
Sesederhana apapun rindu, ia tetaplah riak pada luas lautan rasa. Kelak, ia akan jadi pusaran yang mampu menarik-tenggelamkan kita, pada satu palung pertemuan.
Penulis:
Unknown
"Saat tak ada lagi tanganmu yang menggenggam tanganku, cukup kurapatkan jari jemariku, menangkupkannya, lalu mendoakanmu. Dengan cara itu aku menggenggam Tuhan, agar Ia menjagamu, selalu.
Penulis:
Unknown
"Ceruk penakar air mata ini terlalu lelah menampung duka. Bisakah sejenak kita lupakan lara? Berpura-pura seolah semua baik saja?
Penulis:
Unknown
"Aku datang saat kamu sedang sakit-sakitnya. Kamu pergi saat aku sedang cinta-cintanya.
Penulis:
Unknown
"Aku berwudhu dengan rindu, lalu ku shalawatkan sebuah cinta, ku doakan namamu dan ku dzikirkan kisah kita.. agar Tuhan setuju, aku dan kamu.
Penulis:
Unknown
"Kalau diserang badai suara dari mana-mana, simpan telingamu di saku baju, dengarkan sendiri detak dan suara hatimu
Penulis:
Unknown
"Berhenti terlalu lama membuatku lupa aksara. Kini aku kembali belajar membaca dan akan ku eja namamu segera. Di halaman-halaman setelahnya..
Hari ke 16 : Surat Untuk Aku Satu Setengah Tahun Lalu
Penulis:
Unknown
Dear aku satu setengah tahun lalu,
Ya kurang lebih setengah tahun, aku enggan mengingat persisnya. Karena memori itu memang sudah kuputuskan untuk ditanggalkan.
Pernah merasa kehilangan yang bukan menjadi milikmu?
Ternyata sakitnya lebih dari semua rasa sakit. Bukannya aku sok tahu, percayalah itu.
Tentang dia. Ini semua tentang dia. Dia yang bukan siapa-siapa.
Jangan kau kira, dia yang bukan siapa-siapa ini tak bisa apa-apa. Kemampuannya membuat semesta takjub, kau tahu itu. Masih mengelaknya?
Kau… kenapa kau.. Arrrgh. Aku tak tahu harus menumpahkan yang seperti apa kepadamu. Bukan kesal, bukan menyesal, hanya saja aku terlalu bersikeras untuk menolak keadaan. Aku akui.
Entah harus menulis apa, tak ada apa apa di dalam kepala ini; hanya ada dia. Terlalu kejam efek kehilangan jenis ini. Tak bisa menangis, tak bisa menulis. Rindu yang menyesak, dan yang bisa dilakukan hanya menatap punggungnya, pun dari kejauhan. Tertawalah jika memang menurutmu berlebihan.
Bagaimana bisa “bukan milik” mempunyai “kehilangan” sedang ia tak punya “kepemilikan”?
kamu, 230987-261112
with love :)
Desi
Penulis:
Unknown
"Aku mulai merapal doa. Kembali menyelipkan namamu di dalam sana. Semoga kita memang dilukis pada kanvas yang sama.
Penulis:
Unknown
"Kabar baik dari tak memiliki adalah kita tak akan kehilangan. Kabar buruknya, kabar baik tadi tak menjamin menampik kerinduan.
Jumat,3 Mei 2013
Penulis:
Unknown
Tidak ada yang tahu bahwa hari itu aku sedang mengalami sindrom yang terdiri dari huruf ke 7, 1, 12, 1, dan 21 setengah hidup. Aku lupa bahwa saat itu hati sedang hancur-hancurnya. Dihancurkan oleh makhluk yang bening kedua matanya belum pernah kutatap. Namun yang terjadi hari itu semuanya terbalut oleh tebalnya make up, kostum unik, dan tepuk tangan dari penonton. Yang ada aku terlihat cantik dan aku lupa bagian sedih yang kamu labelkan dalam hatiku.
With love :')
Desi
Penulis:
Unknown
"Ketika hati merasa perih, mulut hanya mampu mengatup, jari tak kuasa berlenggok di keyboard, sedang air mata pun tak nampak di pelupuk. Mungkin inilah kasta tertinggi dari nestapa.
Jumat, 10 Mei 2013
Memori 26 Nopember 2012
Penulis:
Unknown
Hai, halo. Aku tak tau bagaimana cara paling tepat untuk menyapamu. Sejelasnya aku menulis ini sambil menangis. Betapa tidak, aku harus mengais ingatan yang sejujurnya tak ingin kuingat, kepergianmu.
Bisakah kamu melihatku dari sana? Dari tempat yang nantinya aku juga akan ke sana, diamana Tuhan memeluk setiap insan yang berpulang. Aku merindukanmu. Alasannya sederhana saja, aku memang seharusnya merindukanmu. Bukankah rindu selalu sederhana, tapi tak pernah sederhana bagi mereka yang berusaha menyimpannya, terlebih sendirian.
Bisakah kita tertawa seperti dulu? aku merindukan saat dimana kamu mencoba membuatku selalu tersenyum dengan sejuta gaya unikmu. Bisakah? Bisakah kita becanda di setiap jendela? Jendela biru, abu-abu, dan ungu? Semenjak kamu pergi, tak ada yang membuatku bergerak sebebas saat ada kamu di sampingku. Aku seperti merasa sendirian di tengah banyak kerumunan orang. Mengeja setiap rentet ketololan tanpa bisikan petuah yang biasanya kamu lantunkan. Membakar semangat sendirian tanpa sejengkal keinginan sebagai kayu bakar.
Sampai kapanpun aku akan tetap merindumu. Yang kulakukan hanyalah memelukmu lewat setiap ingatanku dan selebihnya aku akan terus mendoakanmu. Baik-baiklah di sana, pahlawanku. Lalu kapan kamu akan pulang?
With love :)
Desi
Terjebak Jarak
Penulis:
Unknown
Hey objek rindu paling jitu,
Boleh menitipkan beberapa pinta dan tanya? Khawatir sedang mengalir karena kabar darimu pun belum juga hadir. Jarak seperti bisa membombardir, hingga seisi penjuru hati ketar-ketir. Bisakah telepatikan dirimu ketempat kakiku berpijak? Jika semesta menyetujuinya, aku pasti takkan mau beranjak. Rinduku beranak pinak, bertemu adalah satu-satunya pintaku kelak.
Hey kamu, pemilik nama yang berputar-putar terus dalam tempurung kepala. Adakah debar ini menggema hingga ke sana?Asal kamu tahu, senyummu itu candu. Memandu ekor mata ke arahmu, mencipta berjuta-juta percik rindu. Sungguh, betapa bertemu denganmu adalah yang selalu kutunggu-tunggu. Semoga aku bukan dianggap pengganggu, sebab rasa ini terlalu membelenggu. Seperti hari-hari biasanya, rinduku selalu kalah oleh sesuatu yang senantiasa berada di antara kita. Rinduku enggan untuk mengalah, pun untuk sekadar membiarkan pikiranku menyerah. Ia mendambakan sebuah pertemuan, di mana aku dan kamu saling berbagi peran. Pada setiap kecilnya kesempatan, ia selalu menaruh harapan.
Seperti hari-hari biasanya, rindu ini hati-hati meniti jarak yang kita bentang bersama. Setiap hari, sedikit demi sedikit, melahap jarak-dan waktu dengan doa-doa yang kemudian menua dalam air mata. Aku tak akan menyerah pada jarak, kamu pun tidak ingin dikalahkan waktu. Kita bertaruh dengan tuhan, bahwa jarak hanya ujian—bukan awal perpisahan yang kelak melahirkan ketiadaan.
Jarak itu pengarak rindu. Dan rindu seperti perantara aku dan kamu. Mereka seperti kado istimewa dari pencipta. Lewat jarak, rindu merangkak. Meskipun kepastian belum ada di tangan, tapi rindu bisa kupertahankan. Untuk mendekatkan kita yang berjauhan. Mungkin banyak yang menyepelekan perasaanku. Katanya sia-sia menunggumu. Tapi setidaknya, rindulah guru yang mengajariku untuk sabar menunggu. Semestinya Tuhan membuat hati kita berikut tombol pengaturnya, sehingga rindu tak perlu berlebihan melebihi porsinya. Aku tak tahu apa yang meracuniku. Seolah setiap pejam seperti sia-sia, sebab bayangmu ada di balik kelopak mata. Seolah setiap tarikan nafas terlampau sesak, sebab gemuruh dada terus mendesak. Tahukah kamu? Bahkan sebuah pesan balasan dengan ajaib bisa meyakinkanku bahwa kita berdua mengamini doa yang sama. Semoga benar begitu adanya.
Meski ragu pernah datang dan memorak-porandakan hati yang sudah sepenuhnya berserah. Yang jelas aku di sini sedang menggenggam erat percaya, bahwa selanjutnya kita bisa terus melangkah bersama. Di antara doaku dan doamu yang sedang menuju pada Sang Maha, harapan sedang tergantung tinggi di sana, menunggu untuk dijadikan nyata. Maka mengalirlah di air mataku, kamu yang selalu mengisi malamku. Hiduplah dalam kata-kata, kamu yang menghangatkan doa-doaku. Kuatkan dada ini, dermaga yang akan jadi tempat lelahmu berlabuh. Mengikatlah sauhmu pada lingkaran tanganku, dimana pelukan yang senantiasa kuimpikan, kita wujudkan menjadi selamanya.
Entah apalagi yang bisa ku percayai lewat jarak yang membatasi. Mana kutahu soal gerak-gerikmu di detik yang siap berlalu? Mana bisa ku terima pelukan pereda kesesakan? Mana bisa menahan ingin dan angan yang terus berhamburan?
Tapi aku hanya bisa mempercayai hati yang kerjanya hanya bisa mencintai. Aku hanya bisa mengiyakan segala kemungkinan dan menaruh doa hanya pada Tuhan. Lalu apa lagi selain kerjasama semesta yang siap berkonspirasi. Perlu kau tahu, adamu bisa menyentil rindu hingga ke samudra terluas itu. Bisakah kau mewujudkan itu?
Biarkan aku menghafal bekas langkahmu, jejak dari apa yang mungkin kusebut penyebab rindu. Biarkan aku mengingatmu lekat-lekat. Sambil dalam hati, aku mengeja namamu lambat-lambat. Kupanggil pusat rasamu mendekat, agar rindu yang terasa tak lagi mempunyai sekat. Dari jauh aku menanti, apa yang sanggup kamu berikan sebagai jawaban dari hati.
Jika kelak raga saling bertemu, jangan biarkan bibir saling membisu. Lunasi hutang rindu itu. Bayar dengan semua persediaan waktu. Sebab tak pernah ada peluk yang cukup erat untuk rindu yang terlanjur mengikat.
Biarkan aku terus menunggu tanpa ragu, biarkan aku terus berharap untuk satu sebab; dan sudah kamu ketahui jawaban di balik setiap mengapanya. Jarak memang seharusnya tidak begitu menakutkan. Karena kenyataannya, kamu tidak pernah menjadi lebih jauh dari pikiran. Kamu memenuhi dan mengelilinginya, namun selalu sanggup membuatku merasa nyaman.
Penantianku selama ini, telah memberiku terlalu banyak. Suatu hari nanti, mungkin aku tak mampu lagi menahan sesak. Sedemikian rindu, semakin sendu. Pilu menoreh badan, sedu makin sedan. Aku mau kamu, dan hanya mau kamu.
Datang dan berpeluklah, jangan biarkan para camar mengejekku setiap pagi. Kembali dan tinggal, jangan biarkan malam-malam kuhuni sendiri. Suatu hari nanti, tiada lagi kekuatan yang mampu menahan, keberadaanmu yang hanya dalam angan, ketiadaanmu dalam pelukan.
Jika menunggu adalah pilihan satu-satunya, aku rela. Jika sepi sudah mulai menghuni, jangan gengsi untuk mencariku terlebih dahulu. Jika tak punya ruang untuk sekedar mencari tenang, kau tahu kemana harus pulang. Karena kepulanganmu adalah tiket kebahagiaanku. Jarak membisu di perempatan waktu, menunggu kita secepatnya menyusun temu.
Kukira mustahil mewujudkan hal yang semula nihil, Seperti halnya debar yang tak mau mengecil, sejak hatiku kamu ambil. Dan rencana-rencana yang kita susun demi sebuah pertemuan, semoga akhirnya mewujud jadi kebahagiaan. Jarak tak pernah nyata. yang nyata hanyalah rindu kita. Semoga segera tiba saatnya, ketika tak lagi ada sendu di sela-sela nafasku, sebab ada hadirmu di situ.
Dari yang pintar menumpuk rindu, aku belajar bahwa tak pernah ada jarak yang cukup jauh untuk memisah, tak pernah ada jeda yang cukup lama untuk mencipta resah. Sebab jika hati sudah saling mengerti, selalu ada cinta sebagai alasan kita tak saling menyakiti.
With love :)
Desi
Kamis, 09 Mei 2013
Fraktur Hepar
Penulis:
Unknown
Definisi
Sebenarnya istilah fraktur hepar itu di ambil dari kamus kedokteran. Arti Fraktur sendiri adalah patah, sedangkan Hepar berarti hati. Jadi Fraktur Hepar yaitu patah hati kalau dalam bahasa inggris broken heart, cuman dalam diagnosa penyakit Fraktur hepar tidak ada, gimana cara ngepen atau ngegipsnya kalau hatinya patah sulit kan? Ini adalah istilah buat aku aja yang emang termasuk anak kesehatan, biar gaya dikit gitu. :p
Etiologi/penyebab: Ditolak cinta, putus cinta, dll.
Patofiolosiologi/proses perjalanan:
Ditolak cinta akan mempengaruhi keadaan kejiwaan akhirnya sel-sel dalam tubuh bereaksi untuk menstimulasi ke susunan saraf pusat (SSP), yaitu hipotalamus, si otak merespon keadaan jiwa yang tegoncang maka terjadilah feed back (umpan balik) ke hati yaitu benturan antara perasaan dan penolakan terjadilah fraktur hepar kemudian akan terjadi gangguan psikologis kejiwaan.
Ditolak cinta akan mempengaruhi keadaan kejiwaan akhirnya sel-sel dalam tubuh bereaksi untuk menstimulasi ke susunan saraf pusat (SSP), yaitu hipotalamus, si otak merespon keadaan jiwa yang tegoncang maka terjadilah feed back (umpan balik) ke hati yaitu benturan antara perasaan dan penolakan terjadilah fraktur hepar kemudian akan terjadi gangguan psikologis kejiwaan.
Manifestasi/gejala penderita:
1. Merasa putus asa
2. Merasa kecewa
3. Badan terasa lemas karena pemikiran yang lagi down
4. Nause (tidak nafsu makan)
5. Terasa pusing
6. Jantung terasa bardebar-debar terus
7. Isolasi diri (menyendiri)
8. Kalau tahap yang lebih kronik/parah bisa mencoba untuk bunuh diri
1. Merasa putus asa
2. Merasa kecewa
3. Badan terasa lemas karena pemikiran yang lagi down
4. Nause (tidak nafsu makan)
5. Terasa pusing
6. Jantung terasa bardebar-debar terus
7. Isolasi diri (menyendiri)
8. Kalau tahap yang lebih kronik/parah bisa mencoba untuk bunuh diri
Penatalaksanaan/pengobatan:
Sebenarnya fraktur hepar itu bagi sang lelaki itu biasa, karena ditolak sini nyoba lagi yang sana. Tapi kan merasakan sakit hati juga, wajar ini adalah normal, tapi jangan sampe terjadi gejala seperti diatas apalagi sampe niat bunuh diri. Pengobatan fraktur hepar sebenarnya sulit-sulit mudah karena tergantung seseorang yang mengalaminya, ada yang mengobati sakit hatinya dengan mencari yang lain, ada yang pergi kesuatu tempat untuk menenangkan hati, dah ikuti aja kata nyanyian “dunia belum berkahir jika kau putuskan aku”. Nah bagi kalian yang sedang menderita fraktur hepar obati secepatnya jangan ditunggu kronik.
Sebenarnya fraktur hepar itu bagi sang lelaki itu biasa, karena ditolak sini nyoba lagi yang sana. Tapi kan merasakan sakit hati juga, wajar ini adalah normal, tapi jangan sampe terjadi gejala seperti diatas apalagi sampe niat bunuh diri. Pengobatan fraktur hepar sebenarnya sulit-sulit mudah karena tergantung seseorang yang mengalaminya, ada yang mengobati sakit hatinya dengan mencari yang lain, ada yang pergi kesuatu tempat untuk menenangkan hati, dah ikuti aja kata nyanyian “dunia belum berkahir jika kau putuskan aku”. Nah bagi kalian yang sedang menderita fraktur hepar obati secepatnya jangan ditunggu kronik.
PERHATIAN!!!:
Pengobatan fraktur hepar jangan coba-coba pergi ke diskotik atau coba-coba menggunakan narkoba karena itu akan menyebabkan komplikasi yang lebih parah. Just remember your Allah :)
Pengobatan fraktur hepar jangan coba-coba pergi ke diskotik atau coba-coba menggunakan narkoba karena itu akan menyebabkan komplikasi yang lebih parah. Just remember your Allah :)
-hanya sebuah tulisan yang bukan penjelasan sesungguhnya tentang Fraktur Hepar-
with love :)
Desi
Desi
Rabu, 08 Mei 2013
Hari Ke 15 : Tentang Kamu yang Ditakuti
Penulis:
Unknown
Halo, apa kabarnya kamu? Lama sudah kita tidak bertemu. Semoga kamu selalu baik-baik saja dan tidak lagi menjadi sia-sia. Surat kali ini sengaja aku tujukan untukmu, mungkin ini salah satu cara agar kita tetap berhubungan meski tidak langsung.
Teman, aku turut sedih sebenarnya tentangmu yang selalu dibenci mereka. Ditakuti seperti momok, padahal kamu tidak salah apa-apa tapi mereka menghakimimu dengan begitu berat. Aku paham, mungkin mereka lelah denganmu yang selalu hadir tanpa permisi lalu pergi dengan menyakiti.
Padahal, aku tahu pasti, itu adalah kesalahan mereka. Mereka yang telah memintamu datang namun tidak dapat menyiapkan diri menyambut kehadiranmu. Sayang, akhirnya mereka luka karena ketidaksiapannya sendiri. Aku pun begitu, pernah beberapa kali menghakimimu atas kesalahanku meninggikanmu yang akhirnya malah merendahkanku.
Aku minta maaf atas itu semua, lagi-lagi memang aku dan mereka tidak pernah mengerti caranya mengatur kadar yang sesuai. Berkali-kali kecewa namun tetap tidak jera. Pada akhirnya, aku hanya ingin menakarmu sama dengan realita agar tidak ada lagi putus asa. Karena meninggikanmu berbanding lurus dengan sakit hati. Meskipun kamu selalu dibutuhkan sebagai wujud peradaban, tanpamu mungkin tidak ada lagi kehidupan. Salam hangat untukmu, ekspektasi.
dari pemilikmu
with love :)
Desi
Desi
Selasa, 07 Mei 2013
Sedikit Tentang Wanita
Penulis:
Unknown
ditulis dengan sederhana
untuk wanita hebat yang membuat aku sebegini kuat
Ibu
Ini aku anakmu
perempuan yang dulu menjadikanmu beban selama sembilan bulan
merampas lelapmu pada malam-malam
ketika aku masih menjadise gumpal daging bernyawa di rahimmu,
pun saat aku pertama kali menghirup nafas di bentang fana ini
setelah kau bertarung antara hidup mati
Aku hanya mampu memberimu gelisah dan cemas
tapi letihmu tak pernah kudengar sebagai nyanyian keluh
Ibu
ini aku anakmu
yang bangga menjadi dewasa dalam peluk kasihmu
sebelum kau lepas aku ke tanah rantau dan kini tengah merindukanmu
Aku ingin pulang
menghitung jumlah kerutan di wajahmu seperti kemarin
telahkah bertambah?
satu garis membuatku mengenang setiap detik dan menit yang kau lalui
untuk aku anakmu
Satu garis membuatku takut menyianyiakan waktu atas baktiku
Esok, lusa, atau nanti
Tuhan pasti akan mengambil salah satu dari kita
aku takut, teramat takut jika waktu itu tiba
setetes air susumu belum sempat ku balas
Aku takut teramat sangat takut jika hari itu datang
aku belum sempat mewujudkan mimpimu melihatku memakai toga
Tuhan, jagalah ibuku
dan terimalah tulus rinduku sebagai jaminan atas doaku
Wanita terluka, wanita berduka, wanita menangis
Namun di setiap malam sebelum lelapnya
dia masih menyebut namamu dalam doa pada Tuhannya
Namun di setiap malam sebelum lelapnya
dia masih menyebut namamu dalam doa pada Tuhannya
Wanita mencinta, melakukan drama, dan seringkali ia kembali
menjadi kanak-kanak
Namun ketika kau butuh dia, dia adalah teman yang setia
Namun ketika kau butuh dia, dia adalah teman yang setia
Wanita suka kau manja, wanita suka kau puja
Namun ketika ia harus mandiri, ia kokoh berdiri sendiri
Namun ketika ia harus mandiri, ia kokoh berdiri sendiri
Wanita mencintai keindahan, wanita sumber kelembutan
Maka jangan merubahnya menjadi sosok penuh kekerasan
Maka jangan merubahnya menjadi sosok penuh kekerasan
Kini kulantunkan bait - bait
rindu untuk ibu
Ibu
Ini aku anakmu
perempuan yang dulu menjadikanmu beban selama sembilan bulan
merampas lelapmu pada malam-malam
ketika aku masih menjadise gumpal daging bernyawa di rahimmu,
pun saat aku pertama kali menghirup nafas di bentang fana ini
setelah kau bertarung antara hidup mati
Aku hanya mampu memberimu gelisah dan cemas
tapi letihmu tak pernah kudengar sebagai nyanyian keluh
Ibu
ini aku anakmu
yang bangga menjadi dewasa dalam peluk kasihmu
sebelum kau lepas aku ke tanah rantau dan kini tengah merindukanmu
Aku ingin pulang
menghitung jumlah kerutan di wajahmu seperti kemarin
telahkah bertambah?
satu garis membuatku mengenang setiap detik dan menit yang kau lalui
untuk aku anakmu
Satu garis membuatku takut menyianyiakan waktu atas baktiku
Esok, lusa, atau nanti
Tuhan pasti akan mengambil salah satu dari kita
aku takut, teramat takut jika waktu itu tiba
setetes air susumu belum sempat ku balas
Aku takut teramat sangat takut jika hari itu datang
aku belum sempat mewujudkan mimpimu melihatku memakai toga
Tuhan, jagalah ibuku
dan terimalah tulus rinduku sebagai jaminan atas doaku
Puisi ini kubawakan saat penampilan unjuk bakat dalam pemilihan putri kartini di kampus. Maaf untuk kalian yang ikut dalam isak tangisku saat itu. Terimakasih dukungan yang kalian berikan. Aku bahkan tidak bisa memutuskan apa yang harus kulakukan tanpa kalian :')
with love :')
Desi
Ode Ego Demonique
Penulis:
Unknown
Hari ini aku lupa menjadi manusia, seperti nokturnal yang enggan disetubuhi surya. Di kala itu pula, aku lihat kau berlari, sepi. Menghilang di tengah pagi, jika tak mau ku sebut siang. Aku sungguh lupa aksi manismu, yang merayu dan merajut kesibukanku. Yang diam dan menyeringai waktu para perantau tertawa terbahak. Aku lupa jadi diriku.
Pagi berubah, dia dipukul mati oleh senja. Dan malam, tak lagi meragukan senyumannya, sinis. Kini aku tak tahu jarak, aku tak tahu waktu, aku tak tahu segalanya, semua berubah. Aku lupa aku bekerja demi siapa, aku lupakan keluargaku, aku lupakan semua yang terus menerus mengasihiku. Aku terpaku pada matahari yang tak kunjung usai, persetan.
Dan semakin tua, aku semakin haus kasihan. Ah, aku ingin bangkit sendiri rasanya. Namun, renta adalah diriku. Malas adalah hidupku. Aku tak peduli lagi dengan lini waktu yang menjadikan ada. Apa yang terjadi? Kau kemanakan egomu yang buas?
Apakah kita semua benar-benar sengsara? apakah kita semua masih percaya? Pada kebenaran-kebenaran yang usang? Yang tradisinya telah punah dan luruh? Bangsat.
Aku sadar aku diubah, aku sadar. Saat bangkit telah usai. Dan aku, terlambat datang padanya. Aku terlambat dikasihani oleh waktu. Nak, kau kehilangan arah, kau kehilangan wibawa, kau kehilangan harga diri. Jangan lagi kau buang egomu percuma. ludahi semua yang buas, karena hanya kau yang buas. Lucuti semua yang kuasa, karena kaulah penguasa. Lagi, bangunkan lagi egomu yang tidur abadi. Lagi, biarkan dirimu menyeringai sekali lagi.
With love :)
Desi
Sabtu, 04 Mei 2013
Senja Memerah
Penulis:
Unknown
Tadi, senja kembali memerah. Seperti membuka cerita yang dibawa angin. Seperti hendak berkelakar pada teratai di pertengahan danau. Seperti hendak bercerita tentang merahnya luka. Namun juga membariskan lagi harapan-harapan sembunyi. Tadi, senja memerah lagi. Ia berpesan padaku tentang rindu bulan yang lama tak kujamah. Ah, juga tentang kita yang kupaksa meniada. Ia berkedip memuji aku yang mengaku bisa mengurai kenangan menjadi kekuatan. Ia berbisik tentang di mana rindu selama ini saling sembunyi. Ia bercerita tentang langit yang masih menunggu untuk mempersembahkan malamnya hanya pada bulan. Bukankah begitu janji langit dulu? Senja mengingatkanku bahwa malam yang dinanti bulan itu ada. Senja mengingatkanku pada rasa cemburu bulan yang meluap-luap pada bintang, juga tentang cara langit menenteramkannya. Senja memintaku untuk sekadar menatap bulan malam ini.
Tapi aku takut. Aku takut. Bahkan aku pun tak berani menjelaskan pada senja tentang rasa takut itu. Kecuali kamu datang, membawa malam yang dijanjikan langit. Senja memerah itu, entahlah. Ia masih saja memotret ujung penaku dan penamu yang bertemu dalam paduan ilustrasi dan rangkaian huruf penuh rindu.
Salam dari senja.
Entah senja ke berapa kita akan duduk bersama menunggu pertemuan bulan dan langit malam. Aku tak tahu. Bahkan bisa saja tak akan ada waktu itu. Tapi percayalah, langit malam sejatinya membentang untuk bulan itu. Bukankah hanya bulan yang diizinkan langit untuk membentuk fase yang berbeda di tiap siklusnya? Purnama akan tiba, tunggu saja. Mungkin ini hanya soal waktu. Atau kekuatan hati.
Nanti mungkin kamu akan menyadari, dengan siapapun kamu duduk menikmati senja sambil menunggu pertemuan langit malam dan bulan, malam masih akan tetap menenteramkan. Sekalipun aku berharap, seseorang di sampingmu itu aku. Kelak, bila kamu menatap senja memerah, temukan namaku di sana.
Senin, 29 April 2013
Saat menjemur pakaian, menatap lagit tiba-tiba ingat kamu
With love :')
Desi
Desi
Berawal dari “Selesai” (Takdir Tuhan Tak Akan Pernah Tertukar)
Penulis:
Unknown
-Selesai-
Aku pamit.
Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi kalimat berisi dua kata itu dihapus lagi. Ia justru mematikan handphonenya. Menyimpan di bawah bantal. Kemudian, ia menangis. Menangis pelan namun deras. Tidak ada artinya kata pamit. Semua berawal tanpa kata, selesai pun tanpa kata, pikirnya. Perempuan itu lalu sejenak terdiam, menatap dinding birunya yang mengusam, membaca lembar demi lembar catatannya yang menuliskan semua perasaannya.
Perempuan dua puluh tahun itu masih menangis.
Hampir setahun lalu, tanpa kata cinta layaknya sepasang muda-mudi menjalin tali asmara, dua orang ini justru saling menjauh, memilih menghindari perasaan mereka, sampai suatu waktu, tabir-tabir tersingkap dan mereka pun tak mampu menutupi lagi apa yang ada di hati mereka. Tidak ada tali apapun yang mengaitkan hati mereka, sungguh tidak ada. Atau kalaupun ada, mungkin tali itu yang disebut orang-orang bernama perasaan. Perempuan itu, hampir satu tahun menyimpan perasaannya. Bukan waktu yang lama. Sungguh singkat sebenarnya.
Tidak ada yang tahu, tapi sesosok laki-laki yang ia beri nama “Langit” mengerti dan memahami. Sesosok laki-laki itu membuatnya memiliki harapan. Jauh perjalanan mereka. Harapan-harapan itu menggantung dalam doa. Hingga perempuan itu kini mendapati banyak “Langit” yang juga siap memantulkan warna birunya untuknya. Perempuan itu jengah. Bukan ia berhenti mencintai Langitnya, tapi karena ia mengerti satu hal. BELUM SAATNYA MENCINTAI LANGIT. Sungguh belum saatnya. Dan kali ini, ia benar-benar menghayati kalimat itu.
Aku pamit.
Kalimat itu diketiknya lagi. Tapi satu persatu hurufnya ia hilangkan lagi dengan tombol backspace. Perempuan itu akhirnya terdiam. Ia tahu hatinya sungguh lemah. Berkali-kali kata pamit itu terucap, tapi perasaan itu belum juga mau pamit dari tuannya.
Maka ia memutuskan untuk diam, berusaha menjadi tegar. Diam-diam, ia pamit pada perasaan yang pernah ia sebut cinta. Diam-diam, ia pamit pada kata penantian yang pernah memenuhi halaman buku catatannya. Tiba-tiba, ia membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya tanpa perasaan menyesal, apalagi takut kehilangan. Diam-diam, ia berhenti mengamati gradasi warna biru yang ditampakkan Langit. Diam-diam, ia menutup semua ceritanya sendirian. Perempuan itu menjadi tegar.
Ia tengah asyik bercerita dengan taman bunganya. Ia tengah asyik bercengkerama dengan bunga-bunganya yang mekar. Ia tengah asyik mensyukuri karunia-Nya. Ia tengah asyik belajar bagaimana caranya menjadi bunga yang mekar dan indah untuk dipetik. Tidak ada yang berubah. Ia memilih pamit. Dan lihatlah, Tuhan menguatkan hatinya.
Mungkin, di suatu waktu, hari, dan tempat yang dirangkai-Nya, ia akan kembali bertemu dengan Langit. Ia harus menatap birunya, bahkan bercengkerama dengan matahari dan bulan bintangnya. Bahkan, mungkin, perempuan itu juga berkesempatan untuk menjelajahi isi Langit. Mungkin. Jika seseorang yang ia sebut Langit itu dia yang membuat ia menangis malam ini, maka memang garis Tuhan menitahkan begitu. Jika bukan, Langit itu pasti tetap biru dan membuatnya bahagia. Karena takdir Tuhan tidak akan pernah tertukar.
Perempuan itu lalu tersenyum di antara bulir-bulir air matanya. Sungguh, ia tidak tahu apa yang ada di dalam hati seseorang yang ia sebut Langit itu. Mungkin, ia masih menyimpan harapan. Mungkin, di dalam hati perempuan itu juga. Aku juga tidak tahu isi hatinya. Aku hanya seonggok buku yang pernah ditulis oleh perempuan itu. Aku pernah tahu tentang semua isi hatinya. Ah, tapi perempuan itu sekarang benar-benar merahasiakan tentang perasaannya. Yang aku tahu, penanya selalu mengatakan, “dia yang mengatakan pada yang membuatku ada, yang akan mendapatkan jawabannya.”
Kalau takdir sudah berkehendak, maka tidak ada apapun yang bisa memisahkan. Melalui pena ini, kukembalikan hati yang pernah kujaga. Kukembalikan nama yang hampir satu tahun membuatku tersenyum juga menangis. Kukembalikan kisah pada keindahan skenario-Nya. Aku ingin berbahagia di taman bungaku. Dan kamu, berbahagialah di hamparan luasmu. Bawa cahayamu jika benar kau ingin jadikanku bulan di malammu. Lakukan saja, jangan janjikan. Toh, takdir Tuhan, tidak akan pernah tertukar.
Tanpa sepatah kata pun, perempuan itu pamit. Ia pamit pada hatinya sendiri.
Tidak ada yang perlu disesali dari sebuah perasaan yang menyesakkan, karena fitrahnya manusia mengalami itu. Tapi membiarkan rasa sesak berlarut dalam penantian juga tidak baik. Lebih baik menyibukkan diri belajar, menyibukkan diri memperbaiki kualitas hati dan diri, meyibukkan diri bercerita bersama taman-taman bunga. Perempuan itu, mungkin nanti juga akan jatuh lagi. Mungkin ia akan menangis lagi. Tapi, semoga tulisan ini membuatnya ingat, bahwa takdir-Nya tidak akan pernah tertukar. Semoga tulisan ini membuatnya tegar. Semoga membuat tegar pula perempuan-perempuan lain yang tengah jengah oleh rasa sakit, rindu, galau, dan perasaan lain karena “Langit” mereka.
Kuawali cerita ini dari sebuah “selesai”. Bismillah..
Rumah, 27 April 2013
with love :')
Desi
Hari ke 14 : Surat (Terakhir ) untuk Kamu, Langit
Penulis:
Unknown
Jatuh. Terbangun. Jatuh. Patah. Jatuh lagi. Bangkit lagi. Patah. Menjadi perca. Lalu remuk. Bangkit. Jatuh lagi. Proses yang malam ini ingin kuberhentikan dengan titik keberdirianku melawan segala jenak-jenak rindu dan rasa takut kehilangan, untuk kembali pada titah-Nya. Semoga tak ada jatuh lagi tanpa tangan yang siap memberdirikan, mengajak bersisihan menuju cinta-Nya. Aku takut. Takut sekali. Pada-Nya.
Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, atas segala rindu bertumpuk yang pernah dikirim angin, atas segala sakit yang sempat kita rasa, atas air mata tak tertahan, atas segala huruf yang pernah terangkai begitu saja, atas jatuh dan bangkit yang berseling membersamaiku, atas amarah dan benci yang aku tak berhak melakukannya. Semoga Sang Maghfiru memberikan ampunan-Nya padaku. Juga padamu. Bersyukurlah, rindu tak sempat memberdirikan kita di koordinat bernama pertemuan. Mungkin, itulah bentuk penjagaan-Nya.
Demikianlah cerita hidup. Ia berlalu dengan berbagai plot. Ia tak akan sampai pada satu jalan tanpa melalui jalan sebelumnya. Begitupun pada jalanku. Tak akan ada yang kusesali dari perjalanan ini, dari pertemuanku denganmu, dari rasa yang pernah tumbuh diam-diam lalu tak kuasa bersembunyi, juga dari sakit dan pahit yang sempat membentuk hati menjadi perca-perca. Tak ada yang perlu disalahkan. Kamu, dia, juga aku. Kita hanya bagian dari proses. Yang perlu kita lakukan adalah memetik serpihan hikmah menjadi pintalan benang yang menyatukan perca-perca hati. Benang indah yang merekatkan sebentuk hati yang lembut, bersih, lagi kokoh. Semoga. Selalu ada jalan untuk pulang ke jalan-Nya, kalau kita mau mencari dan istiqamah. Kalau kita rajin menengok setiap niat, masihkah karena-Nya?
Terima kasih untuk kisah—tanpa tatap apalagi temu—yang pernah berjalan. Atas semangat yang pernah menyublim dalam langkah. Juga untuk inspirasi yang teramat besar yang aku tak tahu cara kerjanya.
Entah bagaimana cerita ini akan berlanjut, untuk kali ini, aku tidak berani berharap apa-apa. Biar Tuhan yang menulis. Karena berharap pada manusia kata ustadz favoritku hanya akan membuat kecewa.
___
Sebagaimana judulnya, kau tahu huruf-huruf di atas adalah surat yang terakhir untukmu. Tanpa kuminta pun kau akan mengatakan pada siapa saja yang perlu mengetahuinya, pada setiap refers to atas kata ganti yang kugunakan dalam huruf-huruf di atas. Kamu tahu, menceritakan masa lalu itu tak pernah mudah, tapi kata seorang penulis, masa lalu ada untuk dimengerti. Bagiku, masa lalu adalah proses, yang siapapun bisa mengambil hikmahnya. Itulah mengapa kutulis surat ini di sini. Biar siapa pun yang membaca pun mengerti, semoga ada pelajaran yang bisa diambil. Bukankah Kitab-Nya memerintahkan kita untuk belajar dari orang-orang terdahulu? Sampaikan maafku pada siapa saja. Inilah cerita. Kalian, yang bisa jauh lebih baik dari saya, menjadi lebih baiklah. Jatuh tumbuh dalam hati untuk kau jaga diam-diam, sebelum ada yang siap memberikan tangannya di hadapan Tuhan untuk memberdirikanmu. Sedang cinta, bagiku, adalah tanggung jawab dan keberanian. Tanpanya, ia hanya sekadar perasaan yang tak akan berdaya apa-apa.
Ditulis dari semalam.
Waktu bagian damai.
Satu PR besar itu akhirnya terjawab, dengan cara yang awalnya menyakitkan, namun sebenarnya membersihkan semua noda. Alhamdulillah.
With love :)
Desi
Adakah yang Lebih Sulit dari Ini
Penulis:
Unknown
Jika saja aku mampu
untuk memelukmu sampai kita melupa waktu
Akan kupeluk kau erat
bahkan sampai kau merasa sesak
Sadarilah, ada yang begitu ingin kau tak pernah beranjak
Jika saja aku mampu
untuk menggenggam jemarimutanpa khawatir ini dan itu
Akan kupegang terus
sampai kau merasa bahwa sentuhan itu begitu tulus
Rasakanlah, ada yang begitu ingin tak kehilanganmu
Jika saja aku mampu
memintamu menatap lurus ke dalam mataku
Mungkin akan kudapati
pandangan cinta seperti yang dulu selalu kau beri
Namun saat ini
aku tak bisa apa-apa
Katakan padaku
adakah yang lebih sulit dari melihatmu berlalu begitu saja?
Adakah?
Karena cinta tak pernah ingin sendiri.
Cintaku selalu ingin kau temani.
Melihatmu berlalu pergi,
adakah yang lebih sulit dari ini?
With love :)
Desi
TAYLOR SWIFT - IF THIS WAS A MOVIE
Penulis:
Unknown
Last night I heard my own heart beating
Sounded like footsteps on my stairs
Six months gone and I'm still reaching
Even though I know you're not there
I was playing back a thousand memories, baby
Thinking 'bout everything we've been through
Maybe I've been going back too much lately
When time stood still and I had you
Come back, come back, come back to me like
You would, you would if this was a movie
Stand in the rain outside 'til I came out
Come back, come back, come back to me like
You could, you could if you just said you're sorry
I know that we could work it out somehow
But if this was a movie you'd be here by now
I know people change and these things happen
But I remember how it was back then
Wrapped up in your arms and our friends were laughing
'Cause nothing like this ever happened to them,
Now I'm pacing down the hall, chasing down your street
Flashback to the night when you said to me,
"Nothing's gonna change, not for me and you
Not before I knew how much I had to lose"
Come back, come back, come back to me like
You would, you would if this was a movie
Stand in the rain outside 'til I came out
Come back, come back, come back to me like
You could, you could if you just said you're sorry
I know that we could work it out somehow
But if this was a movie you'd be here by now
If you're out there,
If you're somewhere,
If you're moving on,
I've been waiting for you.
Ever since you've been gone
I just want it back the way it was before.
And I just wanna see you back at my front door.
And I say
Come back, come back, come back to me like
You would before you said it's not that easy
Before the fight, before I locked you out
But I take it all back now
Come back, come back, come back to me like
You would, you would if this was a movie
Stand in the rain outside 'til I came out
Come back, come back, come back to me like
You could, you could if you just said you're sorry
I know that we could work it out somehow
But if this was a movie you'd be here by now
You'd be here by now
It's not the kind of ending you wanna see now
Baby, what about the ending
Oh, I thought you'd be here by now, whoa
Thought you'd be here by now
Sounded like footsteps on my stairs
Six months gone and I'm still reaching
Even though I know you're not there
I was playing back a thousand memories, baby
Thinking 'bout everything we've been through
Maybe I've been going back too much lately
When time stood still and I had you
Come back, come back, come back to me like
You would, you would if this was a movie
Stand in the rain outside 'til I came out
Come back, come back, come back to me like
You could, you could if you just said you're sorry
I know that we could work it out somehow
But if this was a movie you'd be here by now
I know people change and these things happen
But I remember how it was back then
Wrapped up in your arms and our friends were laughing
'Cause nothing like this ever happened to them,
Now I'm pacing down the hall, chasing down your street
Flashback to the night when you said to me,
"Nothing's gonna change, not for me and you
Not before I knew how much I had to lose"
Come back, come back, come back to me like
You would, you would if this was a movie
Stand in the rain outside 'til I came out
Come back, come back, come back to me like
You could, you could if you just said you're sorry
I know that we could work it out somehow
But if this was a movie you'd be here by now
If you're out there,
If you're somewhere,
If you're moving on,
I've been waiting for you.
Ever since you've been gone
I just want it back the way it was before.
And I just wanna see you back at my front door.
And I say
Come back, come back, come back to me like
You would before you said it's not that easy
Before the fight, before I locked you out
But I take it all back now
Come back, come back, come back to me like
You would, you would if this was a movie
Stand in the rain outside 'til I came out
Come back, come back, come back to me like
You could, you could if you just said you're sorry
I know that we could work it out somehow
But if this was a movie you'd be here by now
You'd be here by now
It's not the kind of ending you wanna see now
Baby, what about the ending
Oh, I thought you'd be here by now, whoa
Thought you'd be here by now
Hari ke 13 : Lepas
Penulis:
Unknown
Aku melepaskanmu.
Aku menyadari hal itu ketika pada suatu pagi yang basah dan diguyur hujan lebat, bayanganmu melekat di kaca jendela yang tengah kupandangi. Melesak ke dalam benakku dan membuat huru-hara di sana; tetapi hatiku tidak bersuara. Ini aneh. Karena biasanya ketika kamu menampakkan wujudmu dalam setiap benda-benda transparan yang kulewati, aku akan menghabiskan sisa hari dengan melamunkan kamu dan mengasihani diri sendiri, seperti yang selalu terjadi selama ribuan hari belakangan ini.
Dengan gundah, aku pun mulai membongkar kembali lembaran buku-buku harianku, dan kembali ke masa lalu. Tidak ada rasa dingin itu, yang menjalari jari-jemariku setiap kali aku menelusuri namamu di atas halaman-halaman itu. Aku seperti mati rasa, dan yang terlintas dalam pikiranku hanyalah betapa buku-buku harianku selalu terlalu cepat habis karena aku terlalu banyak menulis tentang kamu.
Foto-fotomu terselip dalam setumpuk kenangan lama yang kuabadikan dalam sebuah kotak kayu berwarna coklat–bersama sosok-sosok lain yang pernah singgah dan tersingkir seiring berlalunya waktu. Teronggok di samping buku-buku harianku, kotak itu membukakan pintu bagiku untuk melihat kamu lagi. Kamu ketika dulu, yang pernah membuatku merasa begitu istimewa. Tetapi hari itu, pandanganku pada siluetmu tidak lagi meledakkan utopia tentang aku dan kamu di masa depan.
Ini ganjil. Karena biasanya semua ritual menyedihkan itu akan membuat hatiku berantakan dan ribut sendiri. Tapi kali ini aku melewatinya seperti rasa cukup yang menerpa ketika aku mulai terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang benar-benar aku sukai. Ketika frekuensi santapan itu telah mengintens menjadi sekali seminggu, tiba-tiba saja kenikmatannya menjadi tidak terasa lagi.
Meraih telepon genggam yang berkedip-kedip, kusadari bahwa sebaris peringatan telah lama berpendar di sana. Inbox-ku sudah terlalu penuh. Tanpa rasa sayang dan pikir panjang, tiba-tiba saja aku sudah menghapus semua sms-mu yang selama ini sengaja kusimpan, untuk diintip kembali tiap kali aku merasa bosan.
Kali ini tidak ada sesal. Sudah terlalu banyak sampah yang berlama-lama kutumpuk di dalam telepon genggamku. Membuang sampah-sampah itu seperti memberi kebebasan bagi si telepon genggam untuk bernapas lega. Ia menjadi sehat dan hidup kembali, sehingga mampu mengantarkan pesan-pesan baru dengan kecepatan yang luar biasa.
Tengok ponselku sekarang. Dan namamu tak ada lagi di urutan paling depan maupun paling belakang. Kehadiranmu tak akan terlacak dalam jajaran inbox, outbox, maupun draft.
Dalam satu lompatan waktu yang sudah terlalu genting, aku berdiri di depan setumpuk kenangan itu. Sekarang, atau tidak sama sekali. Melompat pergi, atau bersiap-siap jatuh lagi. Kupandangi masa lalu itu untuk yang terakhir kali. Menggigit bibir bawah berulang kali dan menabah-nabahkan diri.
Kemudian aku berbalik pergi. Meninggalkan semuanya. Tidak ada kata-kata perpisahan. Tidak ada drama. Tidak ada air mata. Hanya secangkir kopi, sepotong bakpao coklat, serta buku Hujan dan Teduh. Aku pun terjaga sampai pukul 4 dini hari. Mendengarkan gemericik hujan yang tidak berhenti-berhenti.
Aku jatuh tertidur, dan membuka mata menjelang pukul 5 pagi. Menatap nyalang langit-langit kamar dan mematikan weker yang baru satu menit lagi akan berbunyi. Hujan masih belum berhenti.
Dan aku masih memutuskan untuk tidak kembali.
Karena penyesalan-penyesalan yang dulu pernah ada, sekarang bukan lagi milikku. Aku melepaskanmu. Karena telah tiba saatnya, ketika semua kebahagiaan yang aku rasakan bukan lagi tentang kamu.
With love :)
Desi
Langganan:
Komentar (Atom)

