Dear you 230987-261112,
Dulu, kamu selalu menemani ceritaku.
Bahkan ketika kamu sedang mengantuk pun, kamu akan membuat kopi agar bisa
menemaniku begadang meski hanya melalui telepon. Padahal, apa yang kuceritakan
seringkali tidaklah begitu penting. Aku hanya tidak bisa tidur dan ingin ada
orang yang menemaniku. Tetapi kamu, seseorang yang sebenarnya tidak suka
begadang, selalu bersedia menjadi orang itu, yang mau begadang menemaniku.
Dulu, kamu selalu datang kapan pun aku
membutuhkanmu. Aku tidak tahu kamu memiliki kekuatan apa. Karena apa pun
masalahku, ketika melihatmu datang, aku selalu merasa lega. Kamu juga rela
mendengar ceritaku tentang dia. Seseorang yang membuatku tergila-gila sekaligus
terluka berkali-kali pada saat yang sama. Kamu kemudian akan menyediakan bahumu
untuk kepalaku bersandar, menghapus air mataku pelan, dan mendaur ulangnya
untuk memunculkan tawaku dengan joke-joke garingmu. Bukan kelucuannya
yang membuatku tertawa, tapi karena begitu berusahanya kamu menceritakan hal
yang lucu dengan bahasa konyolmu, dengan muka datar karena kamu memang tidak
pandai bercerita. Itu garing. Tapi aku menikmatinya.
Sekarang, aku tak tau bagaimana aku bisa
mendapatkan bahumu lagi. Kehangatan bahumu hanya akan tersimpan oleh memori.
Kenyataannya sudah berbeda sejak kamu berpihak pada “si attractive”, wanita
yang akhirnya meninggalkanmu juga.
Sekarang, aku jauh lebih merasa
kehilangan, karena setidaknya aku bisa mendapatkan bahumu jika jika kamu masih
bersama dengan wanita itu meski tidak sesering dulu. Tapi kali ini,
bagaimana bisa aku bersandar di bahumu jika Tuhan telah memelukmu lebih dulu?
29032013
Dari seseorang yang berharap bahwa kamu
adalah kakanya, bukan kekasihnya.
Dari seseorang yang berharap kamu tetap
ada walau bukan miliknya.
I write this with a lot of tears and hear that song, BCL-Saat Kau Pergi :')
With love :’)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar