Salah apa aku ini, menangisi sesuatu yang bahkan aku tak kenal dari mana datangnya. Aku masih menatap rangkaian aksara yang berjejer rapih di layar, dengan cucuran air mata yang enggan kuhapus. Entah apa yang kutangisi, yang jelas, aku merasa benar-benar kehilangan aku. Aku lemas dibuatnya. Tapi kabar baiknya, dia sudah bisa tertawa, walau belum bisa mengabariku. Entah aku ini yang terlalu murahan dan suka berharap, atau apalah.
Entah apa aku ini. Tapi, kau mau tahu? Aku sudah menjadikan pria itu sebagai cita-cita rahasiaku. Biarlah dia menganggapku ini apa.
Aku hanya menginginkan lengannya yang kokoh itu selalu ada di sampingku ketika aku butuh tempat untuk bersandar.
Aku hanya menginginkan tangannya yang kuat itu selalu menggengam erat jemariku ketika aku butuh tempat untuk berlindung.
Aku hanya menginginkan senyuman itu, bibir merah yang belum terjamah asap sampahan yang bahkan aku sendiri pernah menghisapnya.
Aku hanya menginginkan kehadirannya, sosok yang sungguh aku idamkan ketika aku ingin memeluknya.
Sebut saja aku ini tak tahu diri, mencita-citakan dia yang bahkan terlalu jauh, dalam segala hal.
Untuk menatap matanya secara langsungpun aku harus menunggu selama ini. Aku mencita-citakan dirinya bukan sebagai tempat persinggahan kisahku, aku memimpikan dirinya sebagai rumahku kelak, pelabuhan terakhirku.
Semoga.
untuk seseorang yang ingin disebut Tora sebagai namanya.
With love :)
Desi
With love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar