welcome

Sabtu, 31 Agustus 2013

Sebuah Prolog

Kau bisa datang pada hidup seseorang kapan saja.

Tapi saat pergi, kau tak dapat meninggalkannya begitu saja, seseorang pernah berkata seperti itu kepadaku. That is true? Mungkin. Tapi menurutku itu teramat sangat benar. Untuk bisa masuk dalam kehidupan seseorang adalah mudah, tapi bagaimana saat kita ingin meninggalkannya karena sesuatu hal? Mampukah kita pergi dengan catatan yang manis atau malah kecacatan yang membuat hati miris. Sekali lagi kembali pada niatnya.

Dan mari kita bicara tentangku,  tentang kisah cintaku. Bukankah kau selalu senang dengan kisah cinta dan kehidupan seseorang? Selalu ingin tau bagaimana caraku menyembuhkan luka pelan-pelan bukan?

Baiklah, mari kita bicara tentang janji-janji yang lebih sering diingkari daripada ditepati. Tentang harapan-harapan yang tak pernah menemukan kepastian. Dan tentang impian yang sering kandas di tengah jalan. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, adakah kesalahan pada diriku saat memperjuangkannya? Atau ini hanya soal kekeliruan dalam memilih siapa yang harus kupercayai dan pantas kuserahkan kepercayaan untuk menjaga perasaan.

Aku ini adalah orang yang mudah percaya, mudah sekali jatuh cinta. Maka lelaki, janganlah bermanis-manis di depanku jika memang engkau tak mau. Kau tak tau bukan, kapan senyummu atau kata-katamu dapat menggetarkan perasaan seseorang. Rayuan ibarat anak panah yang siap dilesakkan, dan bibirmu adalah busurnya. Sekali kau berucap, ia lepas melesat tanpa bisa kau hentikan. Dan bagaimana jika kau terlanjur menancapkan anak panahmu pada hati seseorang yang tak kau harapkan? Bisakah kau hanya sekedar meminta maaf kemudian berkata, “maaf, ini kecelakaan yang tak terduga.” Dan bisakah kata maafmu menghapus bekas luka yang terlanjur tergores di hatinya. Sempatkah kau pikirkan berapa lama ia harus sembuhkan luka sendirian? Relakah kau mengobatinya pelan-pelan? Jika tak mau, maka simpanlah saja ucapanmu. Jangan katakan apapun yang dapat membesarkan hati seseorang. Diam jauh lebih baik untukmu.

Percayalah, disakiti dan menyakiti hanya soal giliran, ini bukan tentang karma. Ini tentang roda kehidupan yang selalu berputar. Suatu saat kau akan merasa senang ketika dikejar. Tapi nanti saat kau berpeluh berbasah-basah mengejar bayang sang pujaan, ingatlah betapa dulu kau juga pernah membuat kalang kabut hidup seseorang.

Itu yang pertama, yang kedua adalah tentang menjadi yang kedua. Bingung kan? Ya sudah, pura-puralah mengerti sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura. Menjadi pilihan kedua selalu tak enak bukan? Saat kau menganggap seseorang adalah segalanya, tapi ia menganggapmu hanya sebagai sebuah opsi pilihan. Bagaimana rasanya? Kecewa? Jelas. Sedih? Pasti. Tapi apa yang bisa kau lakukan selain hanya berusaha membuktikan? Tak ada. Kau hanya perlu berdoa dan berusaha. Itu saja. Berharaplah cinta datang padanya dengan cepat. Hingga kau tak perlu menunggu terlalu lama jawabannya. Atau bagaimana jika kau tegaskan saja padanya, “pilih aku atau dia?” mungkin itu akan memberikan sedikit shock terapy padanya. Betapa ia akan terkejut dengan pendirianmu yang tiba-tiba meminta kepastian setelah sekian lama nyaman dalam zona abu-abu. Ayolah, setiap orang berhak berbahagia. Setiap orang berhak menjadi yang pertama.

Atau mungkin kau masih gamang dengan janji-janji manisnya yang entah kapan akan direalisasikan? Sebetulnya yang menahanmu pergi bukan kasih sayangnya, tetapi keragu-raguanmu dan ketidak yakinanmu bahwa kau akan bahagia tanpa dirinya. Dulu, sebelum ada dirinya hidupmu baik-baik saja bukan. Kehilangan itu memang suatu yang menyakitkan, tapi biasakanlah. Bukankah ada peribahasa, “bisa karena terbiasa.” Begitupun cinta.

Kekecewaan datang karena ekspektasi yang berlebihan. Berharap  boleh, tapi jangan terlalu. Menyandarkan kebahagiaan kepada seseorang adalah rentan. Berdoa semoga hati bisa di teguhkan. Karena Tuhan satu-satunya yang tak akan pernah mengecewakan. Lebih bisa membedakan mana yang lebih kau butuhkan, dan mana yang hanya kau inginkan.

With love :)
Desi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar