Setak-bergunanya aku, bahkan kamu enggan mengerti.
Setak-berartinya aku, bahkan aku pun terabaikan.
Setak-bermaknanya aku, hingga aku menjadi satu dari tumpukan yang terlupakan.
Aku hanyalah lalat hijau yang terbang dan hinggap di ujung sedotan minumanmu.
Aku hanyalah spasi di antara huruf terakhir dan tanda baca, yang hanya memisahkan, tanpa arti.
Aku hanyalah sisa-sisa karet penghapus yang terpisah setelah membersihkan dosamu, dengan luka.
Bagaimana kamu pernah begitu menginginkan aku, lalu kemudian seolah aku yang terlalu menginginkanmu.
Dan tentang segala kata maaf yang bahkan bukan salahku.
Dan tentang segala duka yang pernah kusembunyikan di balik bahagiaku.
Dan kamu yang pernah selalu memanjakan perihnya lukaku.
Aku hanyalah aku, yang tak pernah kau akui.
Setak-berartinya aku, bahkan aku pun terabaikan.
Setak-bermaknanya aku, hingga aku menjadi satu dari tumpukan yang terlupakan.
Aku hanyalah lalat hijau yang terbang dan hinggap di ujung sedotan minumanmu.
Aku hanyalah spasi di antara huruf terakhir dan tanda baca, yang hanya memisahkan, tanpa arti.
Aku hanyalah sisa-sisa karet penghapus yang terpisah setelah membersihkan dosamu, dengan luka.
Bagaimana kamu pernah begitu menginginkan aku, lalu kemudian seolah aku yang terlalu menginginkanmu.
Dan tentang segala kata maaf yang bahkan bukan salahku.
Dan tentang segala duka yang pernah kusembunyikan di balik bahagiaku.
Dan kamu yang pernah selalu memanjakan perihnya lukaku.
Aku hanyalah aku, yang tak pernah kau akui.
with love :')
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar