|
|
Rindu, bisakah datang tanpa gigil membungkus
denyut?
Rindu, tak bisakah datang lebih santun--mengetuk
dulu, tak tergesa memasuki pintu?
|
|
Rindu, sayang, selalu tergesa. ia angin yang
menyusup di balik jendela--di celah-celah sepi.
|
|
Rindu, kekasih, ialah mentari yang kepagian dan
bulan yang kesiangan--tak pernah tahu waktu, yang ia tahu hanya kamu.
|
|
Rindu, sayang, angin yang tak lelah bertiup dari
utara ke selatan--dari tangis ke berlembar-lembar doa.
|
|
Rindu, kekasih, ialah barisan hujan di luar jendela.
mengetuk kepalamu, mengetuk kepalaku--yang basah malah kedua mata kita.
|
|
Rindu, sayang, benih-benih bunga yang dibawa udara
dan disemai di kepalamu dan kepalamu. sulur menjulur membelit kiri dada.
|
|
Rindu, kekasih, ialah tiang pancang dermaga. Tak
lelah didera, ia terus saja rela--menunggu sebelah hatinya pulang ke pelukan.
|
|
Rindu, sayang, tatap mesra pelaut di geladak pada
lampu suar di ujung tuju yang terangpadam menunggu kepulangan.
|
|
Rindu, kekasih, ialah bunyi peluit di tengah laut. Memanggil sesuatu yang entah--entah kepergianmu, entah pertemuan kita
|
|
Rindu, sayang, gema bersahut di lengang bukit. Meneriakkan yang tiada, memanggil ingatan-ingatan mendekat.
|
|
Rindu, kekasih, ialah jejak basah air mata. kau
tinggalkan mereka di mana-mana; sedikit di bantal, lebih banyak di balik
dada.
|
|
Rindu, sayang, jejak gerimis di bulu mata. basah
yang manis, yang menyembul malu-malu di sudut pelupuk.
|
|
Rindu, kekasih, ialah puisi yang hilang kata-kata sebab jemari lebih tahu cara menggenggammu, dan bodoh perihal menulis
indahmu.
|
|
Rindu, sayang, alinea-alinea panjang milik kita yang
berumah di sebuah judul yang sama.
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar