welcome

Sabtu, 15 Juni 2013

Perihal Rindu Sabtu Malam


Rindu,  bisakah datang tanpa gigil membungkus denyut?
Rindu, tak bisakah datang lebih santun--mengetuk dulu, tak tergesa memasuki pintu?
Rindu, sayang, selalu tergesa. ia angin yang menyusup di balik jendela--di celah-celah sepi.
Rindu, kekasih, ialah mentari yang kepagian dan bulan yang kesiangan--tak pernah tahu waktu, yang ia tahu hanya kamu.
Rindu, sayang, angin yang tak lelah bertiup dari utara ke selatan--dari tangis ke berlembar-lembar doa.
Rindu, kekasih, ialah barisan hujan di luar jendela. mengetuk kepalamu, mengetuk kepalaku--yang basah malah kedua mata kita.
Rindu, sayang, benih-benih bunga yang dibawa udara dan disemai di kepalamu dan kepalamu. sulur menjulur membelit kiri dada.
Rindu, kekasih, ialah tiang pancang dermaga. Tak lelah didera, ia terus saja rela--menunggu sebelah hatinya pulang ke pelukan.
Rindu, sayang, tatap mesra pelaut di geladak pada lampu suar di ujung tuju yang terangpadam menunggu kepulangan.
Rindu, kekasih, ialah bunyi peluit di tengah laut. Memanggil sesuatu yang entah--entah kepergianmu, entah pertemuan kita
Rindu, sayang, gema bersahut di lengang bukit. Meneriakkan yang tiada, memanggil ingatan-ingatan mendekat.
Rindu, kekasih, ialah jejak basah air mata. kau tinggalkan mereka di mana-mana; sedikit di bantal, lebih banyak di balik dada.
Rindu, sayang, jejak gerimis di bulu mata. basah yang manis, yang menyembul malu-malu di sudut pelupuk.
Rindu, kekasih, ialah puisi yang hilang kata-kata sebab jemari lebih tahu cara menggenggammu, dan bodoh perihal menulis indahmu.
Rindu, sayang, alinea-alinea panjang milik kita yang berumah di sebuah judul yang sama.


With love :)
Desi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar