Dia tidak pergi. Dia hanya pulang.
Pergi. Kata yang sedikit menimbulkan efek sakit. Sepertinya kata ini sudah bergeser dari makna yang awalnya denotatif (tidak menimbulkan efek emosi apapun), menjadi konotatif yang bisa menimbulkan emosi tidak nyaman.
Pergi diasosiasikan dengan hilang, ketiadaan, serta meninggalkan. Kalimat “Dia sudah pergi” biasanya diucapkan dengan ekspresi murung. Harus ditambah dengan kata “hore” lebih dulu apabila ingin mengubah kalimat itu menjadi terkesan senang. Namun tidak perlu ditambah kata “aduh” untuk membuatnya terkesan sedih. Pertanyaan “Kamu mau pergi?” biasanya diucapkan dengan nada menyesal atau protes.
Pergi dan pulang. Selama ini, dua kata itu tampak berseberangan. Pulang dianggap antonim dari pergi. Orang yang pergi akan ditunggu kepulangannya. Orang yang pergi berarti tidak pulang.
Bagaimana dengan kematian? Kematian adalah kehilangan, ketiadaan. Kematian adalah kepergian. Orang yang mati akan terus pergi. Tak bisa ditunggu untuk kembali.
Kematian sesungguhnya adalah kembalinya jiwa ke penciptanya. Kematian seharusnya tidak diasosiasikan dengan kepergian. Ya, karena kematian adalah kepulangan. Yang merasa kematian sebagai kepergian adalah orang-orang yang ditinggalkan. Padahal dia hanya pulang. Jiwanya bukan milik orang-orang itu. Jiwanya adalah milik Tuhan, penciptanya.
Setiap orang yang hidup pasti akan mati. Itu berarti, setiap orang yang pergi pasti akan pulang. Kehidupan adalah kepergian terjauh manusia. Sejak dia terjaga pertama kali di dunia, sejak dia dilahirkan, sejak itulah sesungguhnya dia mulai pergi.
Ya. Saat ini kita semua sedang pergi. Kita juga menunggu untuk pulang.
with love :)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar