"Beberapa pelukan memang diciptakan untuk mengantar rindu sampai ke tempat tujuan. Lalu bagaimana dengan kita yang berjauhan?"
Tidak semua yang saya tulis adalah saya dan tidak semua yang kamu baca adalah kamu :)
welcome
Sabtu, 29 Juni 2013
Penulis:
Unknown
Penulis:
Unknown
"Sebuah bisu kupelihara dalam bisingnya aksara di kepalaku. Ingin diutarakan, namun ragu menghalangi jalan. Karena berbicara denganmu itu otomatis membungkam rasaku"
Penulis:
Unknown
"Menunggu bukanlah jalan yang buntu, ia adalah cara berbelok sementara dari hati yang bukan semestamu"
Penulis:
Unknown
"Cinta selalu punya jalan untuk menemukan meskipun dalam liku perjalanan yang ditemukan adalah hati yang berkepingan"
Jumat, 28 Juni 2013
Menuju Pertemuan
Penulis:
Unknown
Kedua kaki sudah siap untuk melangkah pergi. Kubungkus ekspektasi dengan sangat rapi, hingga mereka tak akan bisa terbang yang terlalu tinggi. Degup resah yang akhir-akhir ini sempat tak terdengar lagi, perlahan tampak tanpa kendali. Entah apa yang akan semesta suguhkan; sebuah pertemuan atau hanya semburat kekecewaan.
Sabar, hati. Aku berujar pada pantulan cermin sendiri—seolah dengan mengucapnya mampu redakan dentuman debar.
Ada seorang anak kecil di dalam aku yang sudah tak sabar—seolah bertemu denganmu sama manisnya seperti gula-gula ukuran besar. Ada seorang dewasa di dalam aku yang tak henti mengingatkan—hati-hati, terkadang keinginan hanya mampu terwujud dalam khayalan.
Berharap kamu di seberang sana resah akibat rasa yang sama. Berharap kamu di seberang sana bertanya-tanya perihal ketidakpastian yang sama. Apakah kita bertemu memang untuk bersatu? Ataukah kita bertemu hanya agar luka mendapat jalannya yang baru?
Sepenuh hati aku mengumpulkan buruknya kemungkinan agar tak terbiasa dengan khayalan tanpa tanda-tanda kenyataan. Pada sepetak lantai di mana kita pernah menjejak, aku berharap di titik yang sama akan mendengar derap langkahmu semakin mendekat. Di selembar angan-angan kosong aku mengajari hati bagaimana caranya agar tidak perlu berdetak terlalu cepat. Tapi, tampaknya akan percuma. Sebab kamu saat ini sudah berada di depan mata. Tanpa mulut yang terbuka, lambaian tangan di udara, kita bertegur sapa secara maya. Tak apa semesta, aku sudah cukup bahagia.
Memang lebih baik berharap tak terlalu tinggi, agar ketika semesta memberi yang berlebih, yang muncul hanya bahagia di hati. Maka ketika mata menatap mata, ada yang jatuh tak terduga—hati kita. Rasa yang semula kukira saling menolak, kini ternyata saling memihak. Tak sia-sia setiap lafal doa. Sepertinya benar, pada pintu di dadamu, mereka melabuhkan asa.
Selamat bertemu, cinta.
with love :)
Desi
TERTUNDA
Penulis:
Unknown
Ada yang seharusnya punah sebelum hati menjadi patah. Mungkin namanya asa. Ada yang seharusnya diberikan, tapi masih disimpan Tuhan. Mungkin namanya kesempatan. Ada yang seharusnya dihentikan, sebelum luka jadi lintasan perjalanan. Mungkin namanya perasaan. Barangkali hati terlalu cepat jatuh pada waktu yang tak tepat. Bukan objeknya yang salah, tapi mungkin kali ini aku harus mengalah. Kesempatan yang tadinya terlihat begitu jelas, kini hilang semudah melayangnya kertas.
Bukan salahmu yang mungkin seperti tak menghargai perasaan. Salahku, yang berharap hanya pada kebetulan. Bukan salahmu yang tak juga sadari keberadaan. Salahku, terlalu lama di dalam tempat persembunyian. Hingga pada akhirnya semua kata kunci membawaku pada sebuah kenyataan yang harus dijalani. Bahwa meski belum dimiliki, namun ada yang telah kauberikan kepadanya dengan sepenuh hati.
Bukan salahmu yang mungkin seperti tak menghargai perasaan. Salahku, yang berharap hanya pada kebetulan. Bukan salahmu yang tak juga sadari keberadaan. Salahku, terlalu lama di dalam tempat persembunyian. Hingga pada akhirnya semua kata kunci membawaku pada sebuah kenyataan yang harus dijalani. Bahwa meski belum dimiliki, namun ada yang telah kauberikan kepadanya dengan sepenuh hati.
Entah kesempatan yang memang belum ada, atau aku mungkin sudah pernah melewatkannya.
Maaf atas keterlambatanku untuk menyadari sepenting itu adamu. Jeda sinyal yang terlambat keluar, mungkin telah berbekal sesal. Hingga akhirnya aku tahu, kesempatan belum ada karena seseorang lain telah masuk dan membuat hatimu mulai kesempitan. Penuh, mungkin sepenuhnya menurutmu utuh. Sedangkan aku, hilang separuh dan sisanya lumpuh.
Maaf atas keterlambatanku untuk menyadari sepenting itu adamu. Jeda sinyal yang terlambat keluar, mungkin telah berbekal sesal. Hingga akhirnya aku tahu, kesempatan belum ada karena seseorang lain telah masuk dan membuat hatimu mulai kesempitan. Penuh, mungkin sepenuhnya menurutmu utuh. Sedangkan aku, hilang separuh dan sisanya lumpuh.
Jika benar putaran kesempatan pernah kulewatkan, mungkin itulah definisi dari sebuah kesalahan yang mendewasakan. Aku berhenti mengetuk. Bukan karena sudah hati remuk, tapi tak ingin kulihat penghunimu mengamuk.
Barangkali akan ada kesempatan, namun tak tahu harus menunggu sampai berapa lama. Barangkali akan ada sepenggal cerita yang sedikit diubah, namun kepastiannya masih entah. Barangkali aku memang akan hidup di antara rangkaian barangkali, hanya karena belum siap untuk menghadapi. Bila nanti kesempatan memang ada, kamu tahu, akan kugunakan itu tanpa sia-sia. Sekarang, mungkin sudah cukup dengan melihatmu teramat bahagia, meski harus dengannya.
Aneh. Meski namamu masih seratus persen mengisi hati, tapi mengapa kekosongan ini tak berhenti kucicipi? Bukankah kita lahir pada kebetulan? Tapi kebetulan pulalah yang akhirnya mematikan. Bukankah kita sama-sama tahu karena sebuah pengetahuan yang disediakan? Tapi mengapa ujungnya aku merasa asing karena terlempar oleh serombongan ketidaktahuanku akanmu?
Barangkali akan ada kesempatan, namun tak tahu harus menunggu sampai berapa lama. Barangkali akan ada sepenggal cerita yang sedikit diubah, namun kepastiannya masih entah. Barangkali aku memang akan hidup di antara rangkaian barangkali, hanya karena belum siap untuk menghadapi. Bila nanti kesempatan memang ada, kamu tahu, akan kugunakan itu tanpa sia-sia. Sekarang, mungkin sudah cukup dengan melihatmu teramat bahagia, meski harus dengannya.
Aneh. Meski namamu masih seratus persen mengisi hati, tapi mengapa kekosongan ini tak berhenti kucicipi? Bukankah kita lahir pada kebetulan? Tapi kebetulan pulalah yang akhirnya mematikan. Bukankah kita sama-sama tahu karena sebuah pengetahuan yang disediakan? Tapi mengapa ujungnya aku merasa asing karena terlempar oleh serombongan ketidaktahuanku akanmu?
Dunia barumu yang sama sekali tak menyertakan aku. Dunia baru yang terlihat ramai saat namanya tak usai kau sebut-sebut.
Entah kebetulan memang sebenarnya ada, atau hanya aku yang sepertinya mengada-ada. Entah kisah tentang kita memang sedang dituliskan, ataukah semuanya hanya semata-mata harapan. Mungkin memang harus memberi waktu lebih bagi semesta, dengan rencananya yang selalu mengejutkan.Walau entah kejutannya akan membahagiakan, atau justru berupa tamparan pelan-pelan yang menyadarkan.
Entah kebetulan memang sebenarnya ada, atau hanya aku yang sepertinya mengada-ada. Entah kisah tentang kita memang sedang dituliskan, ataukah semuanya hanya semata-mata harapan. Mungkin memang harus memberi waktu lebih bagi semesta, dengan rencananya yang selalu mengejutkan.Walau entah kejutannya akan membahagiakan, atau justru berupa tamparan pelan-pelan yang menyadarkan.
Mari tutup segala mungkin atau tidaknya. Sebab masih ada beberapa hal sederhana yang perlu disyukuri keberadaannya; kedekatan kita, misalnya.
Tidak apa-apa. Aku akan menyiapkan diri, bagi yang nanti berpatenkan nama sebagai penghuni hati. Janjiku yang nomor satu, untuk berhenti cinta mungkin aku belum bisa. Karena tak semudah itu menghilangkan rasa, hanya sembuhkan hati yang sedang kucoba-coba. Selamat istirahat pelukis merah merona pada pipi, selamat bekerja dua kali lipat dari biasanya plester hati.
Tidak apa-apa. Aku akan menyiapkan diri, bagi yang nanti berpatenkan nama sebagai penghuni hati. Janjiku yang nomor satu, untuk berhenti cinta mungkin aku belum bisa. Karena tak semudah itu menghilangkan rasa, hanya sembuhkan hati yang sedang kucoba-coba. Selamat istirahat pelukis merah merona pada pipi, selamat bekerja dua kali lipat dari biasanya plester hati.
with love :)
Desi
Selasa, 25 Juni 2013
Penulis:
Unknown
"Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?" :)
Sabtu, 15 Juni 2013
Penulis:
Unknown
Di dasar hatiku pernah terletak beberapa nama. Di sela-sela tiap mula ada ketakutan yang sama, tentang hubungan yang berujung tanpa bersama. Tapi ini mungkin hanya soal bertoleransi dengan waktu. Jika cinta sudah mendatangi, sekeras apapun kamu menolak, ia pasti akan menang telak. Jika ini hanya perihal waktu, aku tahu aku pintar menunggu. Namun barangkali, ini lebih dari itu. Sebab katanya, Tuhan hanya memberi sesuatu jika kita telah betul-betul siap memilikinya. Mungkin saja ada yang memang belum betul-betul siap—mungkin saja aku, mungkin saja kamu, mungkin saja entah. Meyakini hal-hal semu memang tak mudah, tapi lebih baik daripada menjatuhkan diri pada kesedihan yang salah.
Bersabarlah, hati. Yakinilah, di lain hari, kita akan lebih bahagia daripada ini.
With love :)
Desi
Ajari
Penulis:
Unknown
Ajari aku untuk memelukmu lebih lama, sampai aku lupa cara melepaskannya. Ajari aku untuk menyadari bahwa kebahagiaan telah tersedia sesuai porsinya, sebelum kesedihan melahap berpuluh suap. Ajari aku caranya bertahan jika hatimu sudah bersikeras untuk melepaskan. Ajari aku caranya menghafal segala pertanda, jika ‘usai’ atas kita akan segera tiba.
Ajari aku untuk tetap tersenyum disaat pencipta senyumanku pergi menciptakan senyuman untuk orang lain. Ajari aku caranya percaya pada ikrarmu untuk membahagiakanku. Karena nyatanya, tindakanmu selalu terbentur oleh dia. Ajari aku caranya bersikap saat di depanku kalian menyodorkan sepiring cemburu. Ajari aku caranya menyeimbangkan angan-angan dan kenyataan.
Ajari aku menyeleksi mana yang termasuk tingginya ekspektasi dan kesungguhan isi hati. Ajari aku menuliskan kelanjutan cerita-cerita kita tanpa harus sambil menitikan airmata. Ajari aku untuk menutup telinga dari berita yang mencairkan luka. Ajari aku untuk mengeliminasi sesal dan kecewa yang mulai berjejal. Ajari aku untuk menjelaskan siapa sejujurnya, saat kau bertanya penyebabku ber-airmata.
Ajari aku memilih terus atau berhenti memperjuangkan saat hanya aku satu-satunya yang berjuang. Ajari aku untuk tetap menatapmu saat yang kau tatap bukan lagi aku. Ajari aku cara menyadarkanmu bahwa memang bukan aku yang paling sempurna, tapi untukmu akulah yang terbaik. Ajari aku untuk memutar rekaman peristiwa, dimana waktu berhenti disana, disaat kita masih bersama.
Ajari aku merencanakan kepergian saat lukalah satu-satunya yang kau suguhkan. Ajari aku mencelikkan mata pada yang hanya berniat menyakiti saja. Ajari aku merakit maaf dan tulus mengirimkannya untukmu. Ajari aku harus bagaimana meladeni ucapan manismu yang meninabobokanku ke dunia mimpi. Ajari aku untuk tahu kapan batasnya berhenti atau meneruskan seracik rasa lagi. Ajari aku menghapus airmata secepat kilat saat kamu merangkul tangannya dan menghampiriku.
Ajari aku untuk berhati-hati saat senyummu menghiasi tiap temu, sapamu jadi penambah nyawa bahagiaku dan percakapan kita meninggalkan rona. Ajari aku untuk tidak lagi memanggilmu tempat singgah, tapi rumah. Ajari aku untuk mengantisipasi rindu setiap selesainya sebuah temu. Ajari aku menemukan pintu keluar dari labirin kehilangan ini. Ajari aku untuk sabar menunggu, disela-sela ketidakpastian begitu erat merangkulku.
Ajari aku untuk menyudahi rasa yang masih rahasia, empatbelastiga :')
With love
Desi
Perihal Rindu Sabtu Malam
Penulis:
Unknown
|
With love :)
Desi
Cuma soal rindu
Penulis:
Unknown
Dear you empatbelastiga,
Tahukah kau hal yang menyebalkan dari penantian? Yaitu ketika kau merasa telah membunuh waktu dengan beribu permainan dan menelan berjuta macam petuah dewa-dewi kayangan namun masih tetap merasa bosan.
Di jarak antara ruang tunggu dan entah apa namanya, wajahmu tereduksi jadi bentuk yang sangat mudah dikenali hanya dua titik mata dan segaris mulut. Lalu seiring dengan rasa nyeri, wajahmu terproyeksi di dinding, di cermin, di pintu lemari tak teralihkan, bahkan oleh anggunnya sulaman benang-benang hujan bulan Juni dan aku terjaga karena ku takut memimpikannya.
Ada rindu berlaksa. Dari temu tak terlaksana. Ingin menghampirimu, tapi apa daya jarak menjedakan temu yang seharusnya ada. Kita sedang berdiri diantara dua koma dari lemahnya rindu berdenyut hingga temu yang belum berlanjut. Kita sedang merangkak, mencari cara untuk tak lagi berjarak. Bila esok datang kembali, pastikan bahwa kita sama-sama memperjuangkan sebuah pertemuan.
Sampai kusadari bahwa rasa yang kusebut dengan "rindu" hanyalah efek dari kafein dan gula dalam segelas soda.
Ada rindu berlaksa. Dari temu tak terlaksana. Ingin menghampirimu, tapi apa daya jarak menjedakan temu yang seharusnya ada. Kita sedang berdiri diantara dua koma dari lemahnya rindu berdenyut hingga temu yang belum berlanjut. Kita sedang merangkak, mencari cara untuk tak lagi berjarak. Bila esok datang kembali, pastikan bahwa kita sama-sama memperjuangkan sebuah pertemuan.
Sampai kusadari bahwa rasa yang kusebut dengan "rindu" hanyalah efek dari kafein dan gula dalam segelas soda.
Pulanglah, sayang :')
With love
Desi
Kamis, 13 Juni 2013
Kamu baik-baik saja kan, sayang?
Penulis:
Unknown
Pagi yang kepagian aku sudah bercengkerama dengan cinta di ujung telpon. Banyak tawa yang dia hadirkan sedikit keluhan sebab dia pulang larut malam. Pagi ini terdengar dari parau suaramu. Ya kamu sangat lelah..sangat lelah.
(andai dekat pelukku pastilah akan sangat erat)
Sayang pagi ini kusuguhkan pilu ketika kuterima kabar tubuhmu mulai tak tahan menahan lelah, kamu sakitkan, aku sedih sayang. Sedih ketika aku tak bisa merawat kesakitanmu, sedih ketika aku tak mampu menyiapkan obat dan sarapan dimeja kamarmu, sedih ketika aku tak bisa mengusap rambutmu agar kau terlelap lagi.
Di sepanjang perjalanan menuju kampusku terus kulafalkan doa agar kau baikbaik saja dan aku tau lengan ibumu lebih hangat dari lenganku. Pasti kamu baikbaik saja sayang, tapi tak lepas lenganku sebab doaku serupa lengan yang akan terus mendekapmu.
Dear you empatbelastiga,
Biarkan doaku selalu memelukmu. Semoga Tuhan mengabulkan doamu, doa kita :')
Biarkan doaku selalu memelukmu. Semoga Tuhan mengabulkan doamu, doa kita :')
With love :)
Desi
Setelah Persimpangan...
Penulis:
Unknown
Tak henti tangisku ketika mengingatmu seperti tak ada jarak seperti aku masih berada antara lenganmu. Masih basah sayang, berkalikali sembab mata karena rindu yang semakin menyiksa. Malam ini aku benarbenar gagu. Apa yang harus aku lakukan tanpamu. Bagiku kamu kebiasaanku dan kamu adalah dekap yang selalu aku butuhkan ketika aku mulai layu.
Tak ada yang bisa kutulis saat ini, hatiku masih dirundung pilu. Semua masih tentang dekapan cumbu dan genggaman. Apa yang harus ku lakukan sayang. Dengan menyebut rindu saja mata ku sudah basah.
Pagi siang malam, ahh sepertinya masih ada kamu menemaniku cerita dan semua tawa yang pernah ada itu ingatan yang memilukan sayang. Berkalikali kubaca pesan singkat kita. Tak ada bahasa lain kecuali bahasa rindu suara manja bahkan tangisan rindu adalah ritual yang selalu ku lakukan setelah mendengarkan suaramu. tak ada yang salah kan sayang. Bukan aku membebanimu sebab rintihku tapi tangan ini butuh genggammu.
with love :)
Desi
Penulis:
Unknown
"Malam ini aku benar-benar gagu. Apa yang harus aku lakukan tanpamu. Bagiku kamu kebiasaanku dan kamu adalah dekap yang selalu aku butuhkan ketika aku mulai layu.
Penulis:
Unknown
"Kopiku ingin bicara padamu, tentang rindu yang mengutuk, tentang rindu yang menusuk.
Penulis:
Unknown
"Aku (kadang) suka merahasiakan diri dari semesta. Aku menulis banyak hal yang hanya aku yang mengerti artinya.
Minggu, 02 Juni 2013
Hujan Hujan Hujan
Penulis:
Unknown
Dear You 230987-261112
Ada hal yang membuatku heran, kenapa setiap kali bertemu dengan kamu selalu ada hujan? Hujan yang mengikutimu, atau kamu yang mengikuti hujan, atau kamu sendiri adalah hujan? Hei kamu, lain kali kalau ada waktu untuk ketemu, saya mau bertanya tentang hujan. Saya yakin anda tahu.
Dan sekarang diluar hujan. Mungkin saya akan ketemu kamu :')
With love :)
Desi
Selamat malam, malam rindu.
Penulis:
Unknown
Selamat malam, malam. Mengapa hujan tidak menemanimu hari ini? Ah sayang, padahal aku merindu suasana itu. Dingin dengan tanah yang berbau lembab. Air yang merintik titik-titik sampai bosan. Langit yang sendu, aroma yang kelabu.
Jangan bilang galau, karena aku tidak. Aku hanya merindu.
Baru saja ingin menyadur lelah yang terkumpul sedari kosan sampai rumah, tetapi otak berisik. Ingin bicara, ingin didengar, tiada yang menyimak. Jadi jemari saja yang berkutat. dengan hati yang melunjak. Minta hati, minta manusia, minta lelaki kaya.
Kaya hati, kaya materi. Kaya cinta, Kaya jejaka muda. Kaya lelaki yang dicari oleh wanita-wanita seusia.
Tetap, jangan bilang galau. Karena aku tidak, aku hanya merindu.
Lalu lalang kantung mata dan kantuk yang menghadang, tetapi heran. Jemari memilih tidak berhenti dan terus membisik. Dipandu otak, dibimbing kangen. Ditambah pahit yang menelisik kemudian menyusuri jengkal demi jengkal aliran sadar.
Jangan bilang galau, karena sejujurnya aku merasa tidak. Aku hanya merindu.
Kiri kanan belakang dilirik, dan tiada sesiapa yang menyentik. Ah, saya linglung.
Mungkin memang sedang butuh orang yang bisa dilawan atau orang untuk dicinta.
Atau lawan yang untuk dicinta? entah
Tetap, jangan bilang galau. karena aku tidak, aku hanya merindu.
merindu suasana yang itu.
with love :)
Desi
Sabtu, 01 Juni 2013
Rinduku Untukmu
Penulis:
Unknown
Dear you empatbelas Maret
Merindukan mu tak cukup dalam kepalaku saja, tak cukup dalam untaian puisi cinta. Jadi sengaja ku titipkan semua rinduku kepada awan. Agar saat hujan kau tahu aku sedang merindukanmu dan akan terus begitu. Agar kau merasa tenang saat mendengar rintik hujan karena setiap tetesannya ada doa baik ku untukmu.
Tapi itu juga kurang karena mungkin hujan bisa saja berhenti sedangkan rinduku tidak. Maka aku titipkan juga kepada udara biarlah dia ada tanpa kau sadari kau hela dan akan abadi hingga kau pergi nanti.
with love :)
Desi
MALAM
Penulis:
Unknown
Seperti pagi dan siang, malam pun mencintaimu. Di balik bahasanya yang sepi dan nyaris tak terdengar dia membelai jasadmu yang lelah.
Seperti pagi dan siang, malam pun setia padamu. Walau kadang bulan tak bisa menemaninya berbagi kesunyian. Bahkan bintang tidak cukup dekat untuk menghiasi gaunnya. Dia akan tetap hadir untuk memelukmu, sampai kau terbangun dan sadar dia sudah pulang lebih dahulu.
with love :)
Desi
Desi
Penulis:
Unknown
Hal yang paling dekat dengan seorang manusia bukanlah ibu atau ayahnya, bukan juga istri atau adiknya. Tapi yang paling dekat adalah mati karena kita tidak akan tau kapan dia datang, bisa sekarang, sebentar lagi, atau besok.
Hal yang paling jauh dari seorang manusia bukanlah bulan atau matahari. Yang paling jauh adalah masa lalu, karena dengan kendaraan apapun kita tidak dapat mendatanginya kembali.
Hal yang paling dekat dengan seorang manusia bukanlah ibu atau ayahnya, bukan juga istri atau adiknya. Tapi yang paling dekat adalah mati karena kita tidak akan tau kapan dia datang, bisa sekarang, sebentar lagi, atau besok.
Hal yang paling jauh dari seorang manusia bukanlah bulan atau matahari. Yang paling jauh adalah masa lalu, karena dengan kendaraan apapun kita tidak dapat mendatanginya kembali.
Indonesiawi
Penulis:
Unknown
Eksploitasi harga diri dan dekadensi moral. Kepedulian rekayasa dan eskalasi apatisme. Kombinasi ironis.. kronis..
Pejabat negara berlagak dapat legitimasi dari kitab suci. Anak pejabat bertingkah pola berlagak anak Tuhan.
Penegak hukum ibarat pelacur, sekali bayar siap meraba dan mengangkang lalu digagahi. Yang menjilat kotoran, yang dijilat bajingan.
Aku juga tidak bersih, aku indonesia, aku generasi masa kini, itu indonesiawi.
with love :)Desi
Sudut Sepi
Penulis:
Unknown
Berulang-ulang saraf ini diremukkan masalah, berulang-ulang juga raga ini memeluknya.. sendirian. Jutaan kali otak ini dipecut kekecutan, puluhan kali sayap malam merangkulnya.. di kesendirian.
Aku berdiri di atas ambisi-ambisi yang kian kabur, kian memudar. Aku sampah realita di lingkaran realitas.
Hari esok pun belum tentu mau mendengarkan setiap keluhan. Hanya mentari yang membiarkan cahayanya kita mandikan. Hanya ada aku dan kau bercumbu di tepi air mancur kegetiran.. cuma aku dan kau.. alter ego.
with love :)Desi
Penulis:
Unknown
“Aku mencintaimu. Sesederhana itu. Pikiranku kadang sudah terlalu ruwet dan kusut. Aku tak bisa meruwetkannya lagi dengan mencari definisi cintaku kepadamu. Aku butuh sesuatu yang sederhana. Aku mencintaimu. Sesederhana itu.”
Penulis:
Unknown
"Mataku melebur bersama hujan. Meneteskan do’a yang mengalir jatuh perlahan dalam pijakan tanah yang basah. Tuhan, jikalau suatu saat kami terpisah dalam ruang. Sisakan waktu untuk kami saling melepas rindu."
Hari ke 17 : Surat Terlambat
Penulis:
Unknown
Sekarang memang kamu sedang terbang tinggi, melambung bersama mimpi-mimpi. Bagaimana awan itu? Benar seperti kapas, atau hanya gumpalan gas? Sungguh aku ingin tahu karena tak pernah sekalipun aku ke sana.
Mimpi memang tidak kenal lokasi, baik itu kamu yang sedang berada di ketinggian atau aku yang diam di tempat. Angan melayang, merasakan bagaimana rasanya di angkasa, bebas berkeliaran dengan harapan yang luar biasa, dan dapat melihat jejak-jejak kecil di bawah.
Aku hanya ingin berpesan, sebaiknya kamu tetap ingat bahwa gravitasi tetap ada. Kamu memang terbang, menentang hukum gravitasi, tapi ingat akan tiba waktunya kamu untuk kembali. Berhati-hatilah di sana, jatuh selalu siaga menjelang, dan itulah saat yang tepat bagiku untuk mengucapkan selamat datang.
Tapi, sepertinya surat ini akan kau baca setelah tiba.
dari,
tanah
with love :)
Desi
Pergi dan Pulang
Penulis:
Unknown
Dia tidak pergi. Dia hanya pulang.
Pergi. Kata yang sedikit menimbulkan efek sakit. Sepertinya kata ini sudah bergeser dari makna yang awalnya denotatif (tidak menimbulkan efek emosi apapun), menjadi konotatif yang bisa menimbulkan emosi tidak nyaman.
Pergi diasosiasikan dengan hilang, ketiadaan, serta meninggalkan. Kalimat “Dia sudah pergi” biasanya diucapkan dengan ekspresi murung. Harus ditambah dengan kata “hore” lebih dulu apabila ingin mengubah kalimat itu menjadi terkesan senang. Namun tidak perlu ditambah kata “aduh” untuk membuatnya terkesan sedih. Pertanyaan “Kamu mau pergi?” biasanya diucapkan dengan nada menyesal atau protes.
Pergi dan pulang. Selama ini, dua kata itu tampak berseberangan. Pulang dianggap antonim dari pergi. Orang yang pergi akan ditunggu kepulangannya. Orang yang pergi berarti tidak pulang.
Bagaimana dengan kematian? Kematian adalah kehilangan, ketiadaan. Kematian adalah kepergian. Orang yang mati akan terus pergi. Tak bisa ditunggu untuk kembali.
Kematian sesungguhnya adalah kembalinya jiwa ke penciptanya. Kematian seharusnya tidak diasosiasikan dengan kepergian. Ya, karena kematian adalah kepulangan. Yang merasa kematian sebagai kepergian adalah orang-orang yang ditinggalkan. Padahal dia hanya pulang. Jiwanya bukan milik orang-orang itu. Jiwanya adalah milik Tuhan, penciptanya.
Setiap orang yang hidup pasti akan mati. Itu berarti, setiap orang yang pergi pasti akan pulang. Kehidupan adalah kepergian terjauh manusia. Sejak dia terjaga pertama kali di dunia, sejak dia dilahirkan, sejak itulah sesungguhnya dia mulai pergi.
Ya. Saat ini kita semua sedang pergi. Kita juga menunggu untuk pulang.
with love :)
Desi
Langganan:
Komentar (Atom)