Aku penyandang skoliosis. Yup skoliosis. Pada tahu belum apa itu skoliosis? Jadi skoliosis adalah kelainan pada tulang belakang yang membengkok ke arah samping. Skoliosis ternyata tidak sesederhana yang kupikirkan saat aku pertama kali mendapat pelajaran IPA di sekolah dasar.
Sejak 2 tahun yang lalu,saat aku mendapat vonis dari dokter bahwa aku mengidap skolios dengan derajad kelengkungan 41o pada punggung dan 49o pada pinggang, sampai saat ini aku masih saja iseng memperhatikan foto X-Ray tulang belakangku dan menyamakannya dengan gambar di buku biologiku, aku masih tidak percaya bahwa tulang belakangku “cacat”. Bener nggak sih tulang berlakangku kayak begini? Sejujurnya aku muak jika terus menerus menulis tentang keluh kesahku selama ini tentang skoliosis, tentang sakit yang menurutku “aneh”. Mengingatnya, mendengar namanya, dan merasakannya sudah membuatku bosan. Betapa tidak, setiap waktu ia bisa saja membuatku nyeri hebat di pinggangku, sesak nafas, dan kelelahan yang sangat tanpa peduli kalau saat itu aku membutuhkan kondisi yang fit.
Sekadar cerita,dulu waktu kelas 3 SMA aku pernah melakukan kesalahan yang fatal, amat fatal. Kesalahan yang membuatku menyesal. Saat itu aku ada ujian praktik sekolah mata pelajaran olah raga. Materi yang diujikan adalah lari. Sontak aku bingung juga, aku benar-benar dilema. Kalau aku tidak ikut aku takut tidak mendapat nilai dan aku tidak lulus. Saat itu aku terngiang-ngiang akan pesan dokter yang tidak membolehkanku untuk berlari. Entah mengapa tanpa pikir panjang aku memutuskan untuk ikut berlari meskipun guru olah ragaku telah memperingatkanku dan begitu pula dengan teman-teman yang mengerti akan kondisiku. Aku meyakinkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sungguh,itu adalah keputusan terbodoh yang pernah kuambil. Padahal kalaupun aku tidak ikut dan hanya dengan menjadi penonton di pinggir lapangan guru olah ragaku masih rela memberi nilai walaupun “mepet KKM” seperti pada pelajaran olah raga sebelum-sebelumya. Mungkin untuk saat itu aku belum merasakan perubahan pada tubuhku, tapi sekarang derajadku bertambah, jantungku juga sudah terlibat dalam cacatku, kaki kiriku yang semakin sakit,pokoknya aku merasa memburuk. Dan memang benar kondisiku memburuk. Pernah suatu malam aku tertidur pulas namun aku terbangun dari tidurku secara tiba-tiba. Aku batuk dan sesak nafas, aku juga merasakan sakit yang luar biasa di pinggangku. Dasarnya anak cengeng,aku menangis begitu saja. Aku sempat berfikir kenapa kondisiku jadi memburuk padahal aku beberapa waktu lalu aku sempat membaik. Huft! Sungguh sesal yang tiada guna. OK, itu kesalahan fatal yang pernah kulakukan dan aku tidak akan mengulanginya,sungguh.
Kalau boleh jujur, rasanya sulit sekali untuk ikhlas dan merelakan bahwa tulang belakangku cacat. Tapi aku harus bangkit,karena hidupku harus berlanjut. Mau kusesali bagaimanapun, mau aku menangis sampai air mataku habis, mau aku memaki diri, itu tidak akan mengubah apapun dalam hidupku, itu hanya membuatku semakin sakit. Kalaupun nantinya aku meninggal dunia karena skoliosis ya itu memang takdir Tuhan,siapa sih yang bisa melawan takdir Tuhan??
Setiap kali nyeri di punggung, leher,dan pinggangku mulai muncul, aku selalu teringat senyum dan wajah lelah kedua orang tuaku. Aku yakin mereka jauh lebih lelah daripada kelelahan yang ku tanggung karena skoliosis. Mereka saja mampu menjalani sulitnya kehidupan dengan senyum, kenapa aku nggak?? Jadi untuk apa aku mempermasalahkan ini semua? Tuhan saja tidak mempermasalahkan,aku cacat atau tidak. Kenapa aku harus pusing? Kalau ada orang yang tidak suka dengan kekurangan yang kupunya,itu memang hak mereka untuk memilih. Bukankah manusia ditakdirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hidup sulit begini jangan dibuat makin sulit. Kalau pinggangku sakit ya istirahat dong,kalau capek berdiri ya duduk lah,kalau capek duduk ya buat tiduran aja,kalau udah gak kuat ya apa boleh buat nangis aja,hehehe nggak deh becanda. Tuhan telah memilihku karena Dia percaya bahwa aku sanggup melaluinya. Aku yakin pasti ada orang yang menerima segala kelebihan dan kekurangan yang kumiliki.
Biarkan ini menjadi pelajaran berharga untukku. Sekarang,saat nyeri akibat skoliosiku datang aku hanya menanggapinya dengan senyuman,aku berharap dia (skoliosis) juga tersenyum kepadaku. Sekarang aku jadi bisa bangun pagi untuk jalan-jalan atau sekadar memutari halaman dan meregangkan tubuh. Jujur saja dulu aku malas sekali bangun pagi. Hal menyebalkan bagiku jika aku harus bangun pagi-pagi. Mungkin ini teguran dari Tuhan untukku agar aku bisa menghargai hal-hal kecil yang diberikan-NYA,seperti udara di pagi hari yang menyegarkan dan pastinya agar aku lebih menghargai hidupku dan lebih berani menatap masa depanku. Selamat tinggal masa-masa suram...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar