welcome

Jumat, 03 Juni 2011

13 Mei 2011

Lamunanku malam ini membawaku pergi ke masa lalu. Sebelumnya aku memikirkan satu hal,terapi. Saat ini terapiku memang tidak berjalan teratur seperti dulu. Aku ingat terapiku waktu itu,biar kuceritakan....

Aku pergi terapi ditemani ibuku. Terapiku kali ini tidak sama seperti biasanya,tidak di rumah sakit khusus tulang di luar kota yang biasa ku datangi. Dari awal aku sama sekali tidak menunjukkan antusias sedikitpun. Tapi ini tak ingin kuperlihatkan pada ibuku,aku tak ingin membuatnya kecewa. Seseorang pernah bilang pada ibuku kalau di rumah sakit (di tempat aku tinggal) ada poli fisioterapi. Memang tidak ada salahnya mencoba,siapa tahu bagus. Akhirnya ibuku berkonsultasi dengan dokter Retno,dokter yang biasa menanganiku di tempat terapi yang dulu,alhasil dokter Retno mengizinkan dan membuatkanku surat rekomendasi.

Sama seperti rumah sakit pada umumnya,aku harus antre terlebih dahulu,aku masuk ke dalam ruangan untuk memberikan kartu berobatku pada salah seorang petugas. Tak pernah ku duga petugas itu mengataiku dengan nada yang menjijikkan.
“Sudah sebesar ini kok masih disuruh terapi”
Aku hanya diam dan berbalik kembali ke bangku tunggu,menunggu namaku dipanggil oleh petugas. Sampai tiba saatnya namaku dipanggil,aku segera masuk dan diikuti langkah ibuku. Petugas itu memandangiku,seperti aku makhluk paling aneh sedunia. Sepertinya dia mengingatku.
Tanpa ku sangka-sangka,wanita yang mengataiku tadi,sekarang malah mengatai ibuku.
“O ini ibunya. Ibu bagaimana sih? Becus nggak ngrawat anak,kok anaknya bisa sampai begini?”
“mendengar perkataan wanita tadi,sontak hatiku seperti teriris,dadaku sesak, mataku ingin kututup rapat-rapat, telingaku serasa ingin kututup rapat agar aku tak dapat mendengarnya. Aku tak tahu persis apa yang dikatakan ibuku pada wanita itu,karena seorang terapis menggiringku ke kamar kecil. Sampai seorang terapis laki-laki menyuruhku tengkurap di ranjang dan menempelkan benda bulat kecil di atas pinggangku. Benar-benar berbeda dengan terapi di tempat biasanya. Aku mulai tidak suka dengan keadaan ini,ditambah lagi suarab ibuku yang meninggi. Ini membuatku tidak tahan untuk menangis. Aku semakin tidak terkontrol,kubuang bantal yang ada di depanku,ku lempar selimut yang ada di pinggangku. Aku juga ingin membuang benda yang menempel di pinggangku,tapi ia akan berhenti saat timer habis. Seorang terapis segera datang menenangkanku. Dalam hatiku,bukan dia yang kuinginkan,aku hanya ingin ibu. Tangisanku semakin menjadi-jadi,dadaku semakin sesak,aku sulit bernapas dengan normal. Ibu tidak juga datang. Setelah benda yang ada di pinggangku sudah berhenti bekerja,seorang terapis mengajariku gerakan yang aneh dan aku hanya diajari SATU gerakan saja. OK. Ada untungnya juga,aku jadi bisa cepat keluar dari sarang sempit dan pengap ini.

Saat aku keluar wanita itu masih saja bicara dengan nada berteriak. Aku tak suka dengan keadaan ini. Anehnya kenapa ibuku tidak membalas? Aku ingin membalas mengatainya,tapi isak tangisku hanya akan membuatku terbata-bata. Aku memutuskan keluar saja dari ruangan itu. Aku mencoba menenangkan hatiku. Aku ingin ke toilet,tapi aku tidak tahu dimana tempatnya. Jadi kuputuskan untuk duduk di ruang tunggu. Pertama,aku mengatur napasku agar stabil,tapi nilih. Aku mendenagr suara mereka lagi. Suara wanita itu kontras dengan suara ibuku yang mengalun lembut meminta maaf. Hey! Seharusnya ibu tidak perlu melakukan itu. Isak tangisku kembali muncul,aku ingin menyembunyikannya karena disitu banyak orang. Aku malu. Tapi aku tidak peduli lagi dengan malu. Aku menangis sejadi-jadinya,hingga semua orang melihatku aku hanya menunduk. Hingga seorang ibu-ibu menanyaiku:
“Mbak kenapa? Sakit?”
Aku hanya menggeleng.
“Nyari ibunya ya?”
Aku menggeleng lagi.
Aku masih terus menangis hingga ibu datang dan aku langsung memeluknya tanpa permisi. Tangisanku belum usai. Ibu meyakinkanku agar tidak perlu mengkhawatirkan apa,karenasemua akan baik-baik saja.
Aku hanay ingin cepat sampai di rumah saat itu,aku ingin istirahat dan ibuku menuntunku berjalan. Aku berjanji,ini terakhir kalinya aku berada di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar