Skoliosis. Iya aku memang membencinya. Tapi mau bagaimana? Dia terlanjur ada. Banyak hal tak mengenakkan karena ulah skoliku ini. Aku masih ingat saat hari pertama UN (Ujian Nasional) karena pada hari itu ada dua mata pelajaran yang diujikan. Aku jadi harus rela duduk berlama-lama di bangku, meskipun ada waktu istirahat rasanya tidak cukup menebus kelelahanku. Ya Tuhan, rasanya pinggangku sakit sekali.
Berulang kali aku memutar pinggang di tempat duduk tapi tetap saja masih sakit. Aku jadi tidak konsentrasi saat mengerjakan soal ujian. Sebenarnya soal yang diujikan tidak sulit, tapi karena konsentrasi buyar aku hanya mampu menegerjakan kira-kira 50% soal sisanya hanya mengandalkan feeling kalian tahu, apa yang ada di pikranku saat itu?? Aku hanya ingin keluar dari ruang ujian dan pulang untuk istirahat. Mungkin bagi kalian skoliosis bukan kelainan yang membahayakan,memang. Tapi bagiku skoliosis adalah kelainan yang membuatku lebih menghargai kehidupan ^^
Awalnya aku merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia karena skoliosis, tapi aku sadar masih banyak orang yang lebih menderita dibandingkan aku.
Ditambah lagi orang tuaku tidaklah bergelimang harta. Bukan masalah bagiku, menyayangiku sepenuh hati dan menyekolahkanku sampai saat ini sudah merupakan sesuatu yang istimewa bagiku. Hanya saja aku kasihan dengan tulang belakangku yang lebih memilih berkelok itu,dia jadi tidak mendapat terapi secara teratur. Kalian tahu? Jelas saja soal biaya. Bayangkan saja 3,5 juta per 10 kali terapi harus orang tuaku keluarkan perbulan, penghasilan ayahku saja tidak mencapai lebih dari 2,5 juta per bulan. Dan sekarang rela tidak rela aku harus berhenti melakukan terapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar