welcome

Minggu, 26 Juni 2011

Selamat Tinggal Masa Suram

Hai,aku Desi. 
Aku penyandang skoliosis. Yup skoliosis. Pada tahu belum apa itu skoliosis? Jadi skoliosis adalah kelainan pada tulang belakang yang membengkok ke arah samping. Skoliosis ternyata tidak sesederhana yang kupikirkan saat aku pertama kali mendapat pelajaran IPA di sekolah dasar.
Sejak 2 tahun yang lalu,saat aku mendapat vonis dari dokter bahwa aku mengidap skolios dengan derajad kelengkungan 41o pada punggung dan 49o pada pinggang, sampai saat ini aku masih saja iseng memperhatikan foto X-Ray tulang belakangku dan menyamakannya dengan gambar di buku biologiku, aku masih tidak percaya bahwa tulang belakangku “cacat”. Bener nggak sih tulang berlakangku kayak begini? Sejujurnya aku muak jika terus menerus menulis tentang keluh kesahku selama ini tentang skoliosis, tentang sakit yang menurutku “aneh”. Mengingatnya, mendengar namanya, dan merasakannya sudah membuatku bosan. Betapa tidak, setiap waktu ia bisa saja membuatku nyeri hebat di pinggangku, sesak nafas, dan kelelahan yang sangat tanpa peduli kalau saat itu aku membutuhkan kondisi yang fit.
Sekadar cerita,dulu waktu kelas 3 SMA aku pernah melakukan kesalahan yang fatal, amat fatal. Kesalahan yang membuatku menyesal. Saat itu aku ada ujian praktik sekolah mata pelajaran olah raga. Materi yang diujikan adalah lari. Sontak aku bingung juga, aku benar-benar dilema. Kalau aku tidak ikut aku takut tidak mendapat nilai dan aku tidak lulus. Saat itu aku terngiang-ngiang akan pesan dokter yang tidak membolehkanku untuk berlari. Entah mengapa tanpa pikir panjang aku memutuskan untuk ikut berlari meskipun guru olah ragaku telah memperingatkanku dan begitu pula dengan teman-teman yang mengerti akan kondisiku. Aku meyakinkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sungguh,itu adalah keputusan terbodoh yang pernah kuambil. Padahal kalaupun aku tidak ikut dan hanya dengan menjadi penonton di pinggir lapangan guru olah ragaku masih rela memberi nilai walaupun “mepet KKM” seperti pada pelajaran olah raga sebelum-sebelumya. Mungkin untuk saat itu aku belum merasakan perubahan pada tubuhku, tapi sekarang derajadku bertambah, jantungku juga sudah terlibat dalam cacatku, kaki kiriku yang semakin sakit,pokoknya aku merasa memburuk. Dan memang benar kondisiku memburuk. Pernah suatu malam aku tertidur pulas namun aku terbangun dari tidurku secara tiba-tiba. Aku batuk dan sesak nafas, aku juga merasakan sakit yang luar biasa di pinggangku. Dasarnya anak cengeng,aku menangis begitu saja. Aku sempat berfikir kenapa kondisiku jadi memburuk padahal aku beberapa waktu lalu aku sempat membaik. Huft! Sungguh sesal yang tiada guna. OK, itu kesalahan fatal yang pernah kulakukan dan aku tidak akan mengulanginya,sungguh.
Kalau boleh jujur, rasanya sulit sekali untuk ikhlas dan merelakan bahwa tulang belakangku cacat. Tapi aku harus bangkit,karena hidupku harus berlanjut. Mau kusesali bagaimanapun, mau aku menangis sampai air mataku habis, mau aku memaki diri, itu tidak akan mengubah apapun dalam hidupku, itu hanya membuatku semakin sakit. Kalaupun nantinya aku meninggal dunia karena skoliosis ya itu memang takdir Tuhan,siapa sih yang bisa melawan takdir Tuhan??
Setiap kali nyeri di punggung, leher,dan pinggangku mulai muncul, aku selalu teringat senyum dan wajah lelah kedua orang tuaku. Aku yakin mereka jauh lebih lelah daripada kelelahan yang ku tanggung karena skoliosis. Mereka saja mampu menjalani sulitnya kehidupan dengan senyum, kenapa aku nggak?? Jadi untuk apa aku mempermasalahkan ini semua? Tuhan saja tidak mempermasalahkan,aku cacat atau tidak. Kenapa aku harus pusing? Kalau ada orang yang tidak suka dengan kekurangan yang kupunya,itu memang hak mereka untuk memilih. Bukankah manusia ditakdirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hidup sulit begini jangan dibuat makin sulit. Kalau pinggangku sakit ya istirahat dong,kalau capek berdiri ya duduk lah,kalau capek duduk ya buat tiduran aja,kalau udah gak kuat ya apa boleh buat nangis aja,hehehe nggak deh becanda. Tuhan telah memilihku karena Dia percaya bahwa aku sanggup melaluinya. Aku yakin pasti ada orang yang menerima segala kelebihan dan kekurangan yang kumiliki.
Biarkan ini menjadi pelajaran berharga untukku. Sekarang,saat nyeri akibat skoliosiku datang aku hanya menanggapinya dengan senyuman,aku berharap dia (skoliosis) juga tersenyum kepadaku. Sekarang aku jadi bisa bangun pagi untuk jalan-jalan atau sekadar memutari halaman dan meregangkan tubuh. Jujur saja dulu aku malas sekali bangun pagi. Hal menyebalkan bagiku jika aku harus bangun pagi-pagi. Mungkin ini teguran dari Tuhan untukku agar aku bisa menghargai hal-hal kecil yang diberikan-NYA,seperti udara di pagi hari yang menyegarkan dan pastinya agar aku lebih menghargai hidupku dan lebih berani menatap masa depanku. Selamat tinggal masa-masa suram...

Senin, 20 Juni 2011

Aku Baru Tahu

Beberapa waktu lalu aku membaca artikel kesehatan tentang titik pusat syaraf di telapak kaki. Aku semakin tertarik (pada gambarnya) karena memang gambarnya warna-warni memanjakan mataku. Sekilas aku melihat tulisan “tulang belaakang”. Aku menelusurinya kembali, memastikan bahwa aku tidak salah lihat atau salah baca. Jari telunjukku mengikuti tanda panah yang di tunjuk tulisan itu. Aku menemukannya. Tepatnya di bagian telapak kaki bagian kanan (maaf ya aku tidak bisa mendeskripsikan secara biologis). Kira-kira bagian depan tungkai.
Ini membuatku ingat akan kenangan kecilku. Waktu aku masih kelas 4 SD dulu aku suka ikut pramuka di sekolah,menjelajah seharian,tak peduli panas dan hujan (lebay). Anehnya aku hanya merasakan nyeri di telapak kaki kiriku,tepatnya di bagianh yang kudeskripsikan tadi. Selalu di bagian itu. Aku jadi berpikir,kalau begitu tulang belakangku....  Mungkin saat itu tulang belakangku sudah tidak normal.

Aku Manusia Asimetris

Aku tumbuh dan dibesarkan dengan baik oleh orang tuaku. Mereka memberiku nutrisi yang cukup untuk tumbuh dan berkembang,hingga aku tumbuh menjadi anak yang cerdas. Waktu kecil aku merasa hidupku baik-baik saja dan amat bahagia. Sampai aku menemukan hal yang membuatku bertanya-tanya. Benjolan di pinggangku. Awalnya benjolan itu sama sekali tidak menggangguku. Semakin lama kubiarkan aku semakin merasakan sakit yang aneh di punggung kanan dan pinggang bagian kiriku. Aku bisa merasakannya saat aku mengayuh sepeda dengan jarak yang jauh,menulis terlalu lama, berjalan, dan berlari. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku masih juga tidak tahu. 

Aku berusaha mencari tahu,aku tak ingin melibatkan hal ini dengan orang tuaku dulu. Aku ingin tahu dengan sendirinya. Tapi aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Saat aku kelas 1 SMA aku sempat menduga ini adalah skoliosis,tapi aku masih berharap bahwa dugaanku salah. Sampai akhirnya aku mencari artikel dan semua tentang skoliosis di internet. Aku mulai bereksperimen di depan cermin kamarku. Aku mulai membaca ciri-ciri skoliosis di artikel yang kutemukan: 
  1. Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping. (Bagaimana aku bisa mengetahuinya?? Ah lupakan saja,lanjut saja ke berikutnya.)
  2. Bahu dan/atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya. (Aku melihat ke cermin,mengamati sungguh-sungguh. Iya aku melihatnya,bahu dan pinggul kiriku lebih tinggi.)
  3. Nyeri punggung. (Iya aku sering nyeri punggung.)
  4. Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama. (Yang ini aku banget. Aku capek ngga jelas kalo abis upacara sama habis pelajaran.)
Ya Tuhan,apa ini artinya?? sebenarnya eksperimenku ini belum cukup menguatkan dugaanku,tapi rasanya sudah cukup jelas. Aku kembali melihat diriku di cermin,kalau-kalau aku salat lihat. Tapi aku justru melihat semuanya,tubuhku yang buruk. Kontur yang tidak teratur di tubuhku,yang tak sedap dipandang,yang membuatku kesal,dan sebagainya!! Aku segera menutup wajahku dengan kedua tanganku dan menangislah sejadi-jadinya,berharap semua ini salah,tapi kenyataannya aku memang asimetri.

Kamis, 16 Juni 2011

M . E . N . A . N . G


Aku bisa merasakannya
dia yang meliuk di punggungku
oh bukan, di pinggangku
atau di leherku
atau memang di ketiga-tiganya

Aku bisa merasakannya
dia yang merasa menang atas diriku
merasa bisa membuatku panik
membuatku sakit
membuatku menangis seperti bayi,ya bayi.

Aku bisa terima
dia membohongiku dan terus membohongiku
dia bilang aku akan baik-baik saja
tapi lihat!
aku justru jatuh tersungkur

Dia memang menang
dia mampu membuatku jatuh bangun
dia mampu membuatku mati rasa
membuatku resah, berharap ketidakpastian

Dia lagi...
dia membuatku tak nyaman
entah sampai kapan dia hinggapi hidupku
mungkin selamanya, selamanya akan ada
Dia boleh menang atas diriku
tapi aku juga menang,karena aku mampu bertahan

Senin, 13 Juni 2011

“Special foR SkolioseR”

Apa yang terlintas di benak kalian saat kalian divonis mengidap skoliosis? Marah? Dongkol? Takut? Menyesal? Semua itu hal yang wajar. Akan tetapi ada hal penting yang harus kalian lakukan dibandingkan itu semua,
  1. Tetap tenang. Jangan berfikir bahwa semua akan berakhir jika kamu mengidap skoliosis dan kamu orang paling menderita sedunia karena skoliosis. Beri ruang untuk otakmu untuk memikirkan hal baru selain skoliosis. Berfikirlah bahwa kamu bisa melakukan sesuatu dengan keadaanmu yang sekarang. Toh memaki diri tidak mengubah apapun dalam hidupmu to?
  2. Tetap percaya diri. Meskipun ini sulit tapi ini penting utuk dilakukan. Setiap percaya diri yang timbul akan membantumu tetap tenang.
  3. Lakukan terapi atau pengobatan skoliosis secara teratur. Jangan sekali-sekali meninggalkan terapi dalam jangka waktu yang lama, karena itu akan membuat skoliosismu semakin parah dan belum lagi terapi yang sudah dilakukan menjadi sia-sia (ini berdasarkan pengalaman saya :D), kecuali jika memakai penyangga atau brace.
  4. Laksanakan perintah dan anjuran dari dokter atau terapis. Jangan bersikap seperti anak kecil yang semaunya sendiri, memvonis diri secara berlebihan, menganggap diri tidak bisa melakukan segalanya, bersikap manja, dan memaksakan diri untuk melakukan hal konyol yang tidak boleh dilakukan seperti melakukan aktivitas berat,padahal sebenarnya kamu dilarang.
  5. Lihat, seberapa besar keinginanmu untuk sembuh? Sebab kesembbuhan itu muncul dari diri sendiri,apapun penyakitnya,siapapun orangnya.
  6. Jangan melihat dari segi kekurangan yang kamu miliki,manusia itu sumbernya kekurangan. Jika kamu terus menilai diri dari segi kekurangan,kamu tidak akan maju selangkahpun. Lihatlah potensi yang kamu miliki, lakukan sesuatu agar potensimu berkembang, dan terus lakukan hal positif lainnya.
  7. Perbanyaklah wawasan tentang skoliosis agar kamu tahu apa yang sebaiknya kamu lakukan dan tidak kamu lakukan.
Yang tidak kalah penting, tetap semangat menjalani harimu dengan skoliosis. Yakinlah bahwa Tuhan memilihmu karena kamu mampu menghadapi itu semua. Kamu bisa melakukan banyak hal kok tanpa harus menjadi sempurna. Semoga bermanfaat. Salam skolioser.

Jumat, 03 Juni 2011

Bantu Aku

Aku tahu,aku bukan wanita cantik,berpenampilan menarik,pintar. Aku hanya gadis kecil yang tidak punya apa-apa yang selalu mengaharap keajaiban akan datang.

Tuhan,bantu aku untuk katakan padanya bahwa aku/calon istrinya nanti adalah penyandang cacat tulang belakang. Katakan juga padanya bahwa aku mungkin tidak bisa seperti wanita normal lainnya yang dapat melahirkan secara normal,meskipun itu adalah sebuah kemungkinan,tapi aku berharap itu tidak akan pernah terjadi.

Tuhan,bantu aku untuk menyampaikan ini padanya,agar ia bisa menerimaku apa adanya.
Terimakasih Tuhan.

Kaki Kiri...

Selama aku bimbel di luar kota,aku sering naik bus untuk pergi menuju tempat bimbelku. Tidak ada yang aneh dengan busnya,karena selama ini aku melihat bus bentuknya selalu sama. Well,yang membuatku bertanya-tanya,kenapa setiap ada penumpang turun dari bus,si kernek mengatakan kaki kiri? Kenapa kaki kiri? Kenapa harus kaki kiri? Entahlah sampai saat ini aku masih memikirkannya. Ajaibnya kau selalu menuruti kata kernek bus itu untuk menggunakan kaki kiri terlebih dahulu untuk turun dari bus.

Aku Suka.....

Aku sukamenangis,dengan menangis aku bisa melampiaskan segalanya. Hingga semua orang mengataiku anak cengeng.
Aku suka berenang,berenang membuatku lupa segalanya.
Aku suka memandangi bintang,dengan begitu hatiku benar-benar damai. Aku suka makan bayam. Rasanya manis,meskipun ia seringkali membuatku pegal-pegal saat bangun tidur,tapi aku tetap selalu ingin memakannya.

Aku suka menghabiskan waktu soreku memancing bersama ayah di sungai,meskipun seringkali kami tidak mendapat seekor ikan sekalipun. Sejak kecil aku suka memanjat,hingga akhirnya pipiku tergores kayu tajam,kata ibuku tidak apa-apa. Tapi apa artinya jika luka itu masih membekas di pipiku hingga sekarang?

Aku suka menghabiskan waktuku untuk memandanginya saat pelajaran biologi. Tak peduli pada akhirnya aku selalu mendapat nilai buruk saat ulangan harian karena aku memang tidak tahu apa-apa. Dan benar, aku mendapatkan nilai ujian nasional yang memprihatinkan di mata pelajaran ini 

Aku suka bernyanyi di kamar mandi,dengan begitu tidak ada seorangpun yang berkomentar tentang suaraku. Komentar yang paling sering kudengar hanya soal timing mandi 
Aku suka menjahili adikku,meskipun ada risiko yang harus ku tanggung. Iya,dia pasti akan membalasku

Aku suka melukis,meskipun tidak bisa kupungkiri bahwa lukisanku sering ditertawai dan aku juga ikut menertawakannya.
Aku suka naik motor,meskipun itu membuat pinggangku nyeri dan ngilu.

Aku suka aroma chamomile. Bohong sekali! Aku kan tidak bisa mencium aroma apapun. Begini saja,jika sesuatu yang kucium tidak terasa aneh di hidungku maka itu yang baik menurutku. Dan itu hanya berlaku untuk chamomile.
Aku suka makanan pedas dan asam. Meskipun dalam jangka panjang ataupun pendek itu bisa membuatku sakit typus,aku tak peduli,aku hanya suka.

Aku suka melompat dan berlari. Dulu aku selalu mengalahkan teman-temanku saat lomba lari. Tapi sekarang untuk berjalan saja aku kepayahan semenjak dokter memvonisku mengidap kelainantulang belakang. OK,FINE!
Aku suka duduk jongkok,teman-temanku sering memarahiku saat aku duduk jongkok,katanya jorok. Tapi sekarang nggak boleh juga,katanya jongkok bdapat menghimpit dadaku dan memperburuk tulang belakangku karena akan membuatnya semakin membengkok. OK,aku bisa mengerti.

13 Mei 2011

Lamunanku malam ini membawaku pergi ke masa lalu. Sebelumnya aku memikirkan satu hal,terapi. Saat ini terapiku memang tidak berjalan teratur seperti dulu. Aku ingat terapiku waktu itu,biar kuceritakan....

Aku pergi terapi ditemani ibuku. Terapiku kali ini tidak sama seperti biasanya,tidak di rumah sakit khusus tulang di luar kota yang biasa ku datangi. Dari awal aku sama sekali tidak menunjukkan antusias sedikitpun. Tapi ini tak ingin kuperlihatkan pada ibuku,aku tak ingin membuatnya kecewa. Seseorang pernah bilang pada ibuku kalau di rumah sakit (di tempat aku tinggal) ada poli fisioterapi. Memang tidak ada salahnya mencoba,siapa tahu bagus. Akhirnya ibuku berkonsultasi dengan dokter Retno,dokter yang biasa menanganiku di tempat terapi yang dulu,alhasil dokter Retno mengizinkan dan membuatkanku surat rekomendasi.

Sama seperti rumah sakit pada umumnya,aku harus antre terlebih dahulu,aku masuk ke dalam ruangan untuk memberikan kartu berobatku pada salah seorang petugas. Tak pernah ku duga petugas itu mengataiku dengan nada yang menjijikkan.
“Sudah sebesar ini kok masih disuruh terapi”
Aku hanya diam dan berbalik kembali ke bangku tunggu,menunggu namaku dipanggil oleh petugas. Sampai tiba saatnya namaku dipanggil,aku segera masuk dan diikuti langkah ibuku. Petugas itu memandangiku,seperti aku makhluk paling aneh sedunia. Sepertinya dia mengingatku.
Tanpa ku sangka-sangka,wanita yang mengataiku tadi,sekarang malah mengatai ibuku.
“O ini ibunya. Ibu bagaimana sih? Becus nggak ngrawat anak,kok anaknya bisa sampai begini?”
“mendengar perkataan wanita tadi,sontak hatiku seperti teriris,dadaku sesak, mataku ingin kututup rapat-rapat, telingaku serasa ingin kututup rapat agar aku tak dapat mendengarnya. Aku tak tahu persis apa yang dikatakan ibuku pada wanita itu,karena seorang terapis menggiringku ke kamar kecil. Sampai seorang terapis laki-laki menyuruhku tengkurap di ranjang dan menempelkan benda bulat kecil di atas pinggangku. Benar-benar berbeda dengan terapi di tempat biasanya. Aku mulai tidak suka dengan keadaan ini,ditambah lagi suarab ibuku yang meninggi. Ini membuatku tidak tahan untuk menangis. Aku semakin tidak terkontrol,kubuang bantal yang ada di depanku,ku lempar selimut yang ada di pinggangku. Aku juga ingin membuang benda yang menempel di pinggangku,tapi ia akan berhenti saat timer habis. Seorang terapis segera datang menenangkanku. Dalam hatiku,bukan dia yang kuinginkan,aku hanya ingin ibu. Tangisanku semakin menjadi-jadi,dadaku semakin sesak,aku sulit bernapas dengan normal. Ibu tidak juga datang. Setelah benda yang ada di pinggangku sudah berhenti bekerja,seorang terapis mengajariku gerakan yang aneh dan aku hanya diajari SATU gerakan saja. OK. Ada untungnya juga,aku jadi bisa cepat keluar dari sarang sempit dan pengap ini.

Saat aku keluar wanita itu masih saja bicara dengan nada berteriak. Aku tak suka dengan keadaan ini. Anehnya kenapa ibuku tidak membalas? Aku ingin membalas mengatainya,tapi isak tangisku hanya akan membuatku terbata-bata. Aku memutuskan keluar saja dari ruangan itu. Aku mencoba menenangkan hatiku. Aku ingin ke toilet,tapi aku tidak tahu dimana tempatnya. Jadi kuputuskan untuk duduk di ruang tunggu. Pertama,aku mengatur napasku agar stabil,tapi nilih. Aku mendenagr suara mereka lagi. Suara wanita itu kontras dengan suara ibuku yang mengalun lembut meminta maaf. Hey! Seharusnya ibu tidak perlu melakukan itu. Isak tangisku kembali muncul,aku ingin menyembunyikannya karena disitu banyak orang. Aku malu. Tapi aku tidak peduli lagi dengan malu. Aku menangis sejadi-jadinya,hingga semua orang melihatku aku hanya menunduk. Hingga seorang ibu-ibu menanyaiku:
“Mbak kenapa? Sakit?”
Aku hanya menggeleng.
“Nyari ibunya ya?”
Aku menggeleng lagi.
Aku masih terus menangis hingga ibu datang dan aku langsung memeluknya tanpa permisi. Tangisanku belum usai. Ibu meyakinkanku agar tidak perlu mengkhawatirkan apa,karenasemua akan baik-baik saja.
Aku hanay ingin cepat sampai di rumah saat itu,aku ingin istirahat dan ibuku menuntunku berjalan. Aku berjanji,ini terakhir kalinya aku berada di sini.

9 Mei 2011 “Special for Mom and Dad”

Tuhan,aku ingin mencintaimu tanpa syarat
Aku ingin mencintaimu dalam suka maupun duka
Tuhan,bawalah aku pada jalan lurusmu,jalan yang telah engkau gariskan waktu lalu

Tuhan,aku ingin membalas budimu,lewat doa yang kupanjatkan
Lewat senandung merdu kitabMU,dan lewat tingkahku yang lugu

Tuhan,aku ingin mendengar suara hati hambamu
Hambamu yang jauh dari mataku saat ini,namun kan slalu lekat di hati
Hambamu yang slalu ku rindu
Hambamu yang paling ku cinta
Hambamu yang paling hebat di mataku

Tuhan,kembali aku ingin mencintaimu tanpa syarat
Walau kurasa takkan bisa,sebab keadaan yang membaliknya

3 Mei 2011 Pilih yang Kamu Suka

Tahu nggak aku ketemu nenek-nenek si penjual jajanan yang pernah aku ceritakan. Hatiku senang nggak karuan. Bermaksud menebbus kebodohanku waktu itu, aku membeli beberapa jajanan. Lega rasanya,walau itu tidak membatu banyak tapi setidaknya itu sedikit membantu.

Kenapa sih dilema itu muncul?? Bikin pusing aja.
Oh iya,aku ketrima di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Surakarta. Bukan apa-apa sih, bukan sesuatu yang perlu dibanggakan,tapi bagiku aku cukup bangga,karena aku melakukannya dengan usaha keras. Pamer sama Adit ah...
“Heh aku ketrima di UMS lho”
“Kok swasta?”
“Hey! Kan aku Cuma coba-coba. Lagian nggak aku ambil kok”
“Oow uye”
“Adit aku bingung. Mendingan mana FKM apa ilmu keperawatan?”
“Yang membuatmu senang”
“Tadi aku tanya ibu,katanya terserah. Sekarang tanya kamu,yang membuatmu senang. Hah apa-apaan??”
“Ya pilih yang kamu suka”
“Aku dilema,makannya aku minta saran ,Adit”
“Pilih byang kamu suka,itu saranku.”
“OK. Saran diterima”

28 April 2011


Waktu aku pulang dari bimbel aku lihat nenek-nenek jualan jajanan gitu. Neneknya udah tua banget. Bodohnya lagi aku tidak segera menolong nenek itu dengan membeli dagangannya. Ya Tuhan, jahat baget sih aku. Sampai aku di kos masih saja kepikiran nenek itu. Semoga nenek itu baik-baik saja. Semoga ada orang baik hati yang mau menolong nenek tadi ^^

26 April 20111

Ini hari pertamaku bimbel. Benar-benar seperti yang kuduga. Tak ada seorangpun yang ku kenal. Atmosfer minderku muncul tiba-tiba. Tanpa basa-basi aku langsung duduk di kursi paling depan dan mencoba memperkenalkan die=riku dengan seorang cewek yang tadi kulihat di gerbang. Aku ingat,namanya Arifa.

Berulang kali aku menatap jam yang melingkar di tangan kiriku,berharap waktu cepat berlalu dan selesai,pulang.
Pelajaran pertama,Fisika. OK.
Pelajaran kedua, Bahasa Inggris, nice.

But,wait! Aku pulang naik bus. Awalnya aku ragu waktu menginjakkan kaki di bus yang kutumpangi (maklum first time). Aku mencoba tenang dan berpikir positif. Tapi tak dapat kupungkiri kalau aku “takut tersesat”. Pikiran itu nyaris sirna saat kudengar kernek bus bilang kampus kampuuus. Ya aku turun di situ. Dan tidak salah lagi aku sampai. Sampai?? Aku kan masih harus jalan kaki untuk sampai di kost.

25 April 2011

Sedih juga harus meninggalkan runah,tapi mau bagaimana? Aku harus bimbel untuk mewujudkan impianku dan mereka tentunya. Deni,adik perempuanku, lebih memilih menangis karena harus berpisah denganku. Sungguh dia mendekapku erat melepas kepergianku di terminal. Aku berbisaik padanya,”Nanti kalau kakak pulang,kakak bawain es krim kesukaanmu,atau apapun yang kamu mau. Tapi jangan nangis,jelek.”

Aku dan Skoliosis

Skoliosis. Iya aku memang membencinya. Tapi mau bagaimana? Dia terlanjur ada. Banyak hal tak mengenakkan karena ulah skoliku ini. Aku masih ingat saat hari pertama UN (Ujian Nasional) karena pada hari itu ada dua mata pelajaran yang diujikan. Aku jadi harus rela duduk berlama-lama di bangku, meskipun ada waktu istirahat rasanya tidak cukup menebus kelelahanku. Ya Tuhan, rasanya pinggangku sakit sekali.

Berulang kali aku memutar pinggang di tempat duduk tapi tetap saja masih sakit. Aku jadi tidak konsentrasi saat mengerjakan soal ujian. Sebenarnya soal yang diujikan tidak sulit, tapi karena konsentrasi buyar aku hanya mampu menegerjakan kira-kira 50% soal sisanya hanya mengandalkan feeling kalian tahu, apa yang ada di pikranku saat itu?? Aku hanya ingin keluar dari ruang ujian dan pulang untuk istirahat. Mungkin bagi kalian skoliosis bukan kelainan yang membahayakan,memang. Tapi bagiku skoliosis adalah kelainan yang membuatku lebih menghargai kehidupan ^^
Awalnya aku merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia karena skoliosis, tapi aku sadar masih banyak orang yang lebih menderita dibandingkan aku.

Ditambah lagi orang tuaku tidaklah bergelimang harta. Bukan masalah bagiku, menyayangiku sepenuh hati dan menyekolahkanku sampai saat ini sudah merupakan sesuatu yang istimewa bagiku. Hanya saja aku kasihan dengan tulang belakangku yang lebih memilih berkelok itu,dia jadi tidak mendapat terapi secara teratur. Kalian tahu? Jelas saja soal biaya. Bayangkan saja 3,5 juta per 10 kali terapi harus orang tuaku keluarkan perbulan, penghasilan ayahku saja tidak mencapai lebih dari 2,5 juta per bulan. Dan sekarang rela tidak rela aku harus berhenti melakukan terapi.

23 April 2011

Tuhan, aku ingin menghapus air mata ini dengan tanganku sendiri. Dengan kekuatan yang kupunya,tapi tetap tidak bisa. Saat aku mulai mengusap air mataku aku justru tersungkur,lutut dan sikuku mungkin akan berdarah dan kedua tanganku mencba menahan sakitnya dan aku takkan berhenti menangis.

21 April 2011

Kupikir Cuma dada yang bisa kembang kempis,tapi ternyata perasaan juga begitu. Padahal kemarin aku tertawa sampai tak ingin berhenti,tapi kali ini aku ingin menangis saja. Karena apa? KARENA DIA,dia lagi. Salahku juga sih,kenapa harus cemburu?
Ya karena aku bnggak suka aja dengan orang yang sok asyik yang deketin dia. Aku nggak suka.

20 April 2011

Hari ini hatiku serasa ikut tersenyum melihatku tertawa seharian. Ya, aku tahu mengapa,karena dia. Laihat saja senyumnya. Aku tak tahu berapa lama lagi aku bisa melihat senyumnya.

18 April 2011


Akhirnya aku bisa menempuh ujian juga walaupun aku harus berjuang mati-matian untuk itu semua. Tapi aku optimis aku pasti lulus.