Aku yakin semua orang punya masa
lalu. Entah yang menyenangkan, menyedihkan, dan memuakkan. Pada masanya
seseorang akan menutup pintu masa lalunya hingga terkunci rapat. Sebab ia tak
akan kembali kesana. Terlebih etika sudah menjalani komitmen dengan
pasangannya, menikah.
“Dik, itu dulu, 2013 apa kamu mau
menilaiku saat ini dari tahun 2013?”
Aku terdiam
“Aku juga pernah stalking
akunmu, tapi aku ga pernah tanya apapun. Iya, aku dulu memang bermasalah dengan
beberapa wanita, kontak dengan mereka, tapi itu dulu. Waktu itu kan aku belum
kenal kamu. Tokh waktu sama kamu aku juga sudah tidak lagi menghubungi mereka. Yang
sudah terjadi ga bisa kuperbaiki. Aku hanya bisa memperbaiki yang sekarang. Tolong
dimengerti. Tolong pengertiannya. Yang lalu ya sudah biarkan berlalu.”
Aku masih terdiam, terbaring
lemas mendengar suaranya yang semakin terisak. Hingga aku tak tahan untuk
memeluknya dari samping. Aku bisa merasakan pipinya basah. Gerimis di pipinya turun bersamaan dengan gerimis dari langit. Ingin sekali kuucap
maaf, tapi entahlah mulutku seperti terbungkam suasana. Aku merasa bodoh.
Iya, seharusnya aku tak perlu
stalking akun twitternya sampai cemburu. Awalnya bukan stalking, hanya saja aku
rindu dengan kami dulu di twitter, lucu sekali. Hingga aku kebablasan membuka
tweet dari tahun 2013. Aku menemukan canda setengah mesra dengan seorang
perempuan yang dulu di waktu awal kami kenal Aa sering sekali menyebutkan
namanya. Bahkan aku ingat ia menyama-nyamakanku dengan wanita itu. Sebagai wanita
yang meskipun bukan siapa-siapanya siapa sih yang tidak kesal dibandingkan
disamakan dengan wanita lain? Ya kesal ya cemburu. Duh.
Seharusnya memang mengungkit masa
lalu itu tidak perlu. Terlebih sekarang dia sudah menjadi orang yang paling
dekat, orang yang halal melihatmku tanpa sehelai benang. Pun dia tidak pernah
mengungkit masa laluku yang terbilang...hancur. Seharusnya aku berterimakasih
padanya karena menerima masa laluku seperti apapun itu, tak peduli dulu aku
bagaimana dan seperti apa. Masa lalu tempatnya bukan di masa depan, masa depan
bukan untuk masa lalu. Jangan dibalik-balik. Kadang, untuk menghargai orang
yang bersama kita memang cukup sederhana, dengan terus berada di sampingnya
tanpa melihat apa yang terjadi di belakang. Hanya cukup terus bersamanya,
hingga menua, bersama.
Masa lalu sudah punya porsinya
sendiri. Ia sudah punya batasannya sendiri. Jangan khawatirkan masa depan,
sebab masa depan menyediakan bahagia yang tak terduga. Percayalah.
Akupun percaya, beberapa orang dalam hidup kita memang ditakdirkan hanya
untuk mengisi masa lalu, tapi tidak masa depan. Beberapa orang lainnya
ditakdirkan untuk megisi hati, tapi tidak untuk mengisi hidup. Sebagian lainnya
bersemanyam dalam ingatan, tapi sudahterkubur dalam hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar