Setelah menikah Aa membawaku ke
ibu kota, ke tempat dimana ia bekerja. Tinggal di rumah mewah? Tentu tidak. Kami
hanya ngekost di tempat kostan Aa sebelum menikah dekat tempatnya bekerja. Sebelum
menikah Aa sudah mengusahakan mencari rumah kontrakan yang ‘cocok’ untuk kami,
tapi nihil. Ya namanya di ibu kota. Cari yang murah juga tetap jatuhnya mahal. Gaji
Aa tidak cukup. Akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di kost tempat Aa. Tidak
mewah. Tidak bagus, tapi rapi dan bersih. Yang paling penting adalah nyaman
untuk kami berdua. Sebuah kamar berukuran 4x4 meter dengan kamar mandi dalam. Itu
saja.
Sejak kami memutuskan untuk
menikah, kami memang berencana setelah menikah nanti kami tidak akan tinggal di
pondok indah mertua. Tak apa kami tinggal di tempat yang kecil, tokh juga cuma berdua dan yang jelas
kami tidak akan menetap di ibu kota, hanya sampai kontrak kerja Aa habis.
Beberapa waktu yang lalu Aa sempat mencari rumah kontrakan. Ketemu sih
beberapa, tapi setelah kami timbang jatuhnya lebih mahal lagi. Tidak jadi.
Hidup berdua saja dengan suami di
rantauan ibu kota memang tidak mudah. Karena tidak ada yang kami andalkan
kecuali kami sendiri. Jauh dari mertua dan orang tua. Di awal tinggal disini
aku sering sakit, hampir tiap bulan. Sampai Aa mengira aku tidak betah tinggal
di tempat kecil. Aa salah. Aku hanya kelelahan. Padahal aku tidak bekerja,
hanya sebagai ibu rumah tangga yang kerjaannya banyak dibantu suami. Tapi jujur
saja, memasak itu bikin capek di badanku. Entahlah, mungkin aku ‘ringkih’. Sampai
pada akhirnya Aa memintaku untuk berhenti masak. Aku sempat sedih, sebab jika
tidak memasak apa lagi yang bisa kulakukan untuknya? Waktu itu aku hanya
menangis sambil memeluknya. Setelah kejadian itu kami memutuskan untuk beli
makan di luar tiap makan, beli lauknya saja nasinya masak sendiri. Tau nggak? Itu
bikin pengeluaran bulanan jadi membengkak. Uang makan jadi 2 kali lipat lebih
banyak. Padahal kami jarang sekali makan enak. Sedih. Alhamdulillah gaji Aa tetap cukup dan masih bisa menyisakan untuk tabungan. :)
Sekali lagi, hidup berdua saja
tidaklah mudah. Yang membuatnya mudah adalah karena kami saling memiliki dan
membutuhkan.
Oiya, ibuku beberapa kali
mengirim cemilan kesukaan Aa, makaroni goreng dan kue semprong…satu kardus. Padahal
kalau dipikir beli di sini juga banyak. Begitulah orang tua, terlalu khawatir
dengan anaknya. Suatu saat aku pasti juga sekhawatir beliau. Atau mungkin
lebih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar