welcome

Selasa, 08 Desember 2015

Konsisten Hidup Mandiri

Setelah menikah Aa membawaku ke ibu kota, ke tempat dimana ia bekerja. Tinggal di rumah mewah? Tentu tidak. Kami hanya ngekost di tempat kostan Aa sebelum menikah dekat tempatnya bekerja. Sebelum menikah Aa sudah mengusahakan mencari rumah kontrakan yang ‘cocok’ untuk kami, tapi nihil. Ya namanya di ibu kota. Cari yang murah juga tetap jatuhnya mahal. Gaji Aa tidak cukup. Akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di kost tempat Aa. Tidak mewah. Tidak bagus, tapi rapi dan bersih. Yang paling penting adalah nyaman untuk kami berdua. Sebuah kamar berukuran 4x4 meter dengan kamar mandi dalam. Itu saja.

Sejak kami memutuskan untuk menikah, kami memang berencana setelah menikah nanti kami tidak akan tinggal di pondok indah mertua. Tak apa kami tinggal di tempat yang kecil, tokh juga cuma berdua dan yang jelas kami tidak akan menetap di ibu kota, hanya sampai kontrak kerja Aa habis. Beberapa waktu yang lalu Aa sempat mencari rumah kontrakan. Ketemu sih beberapa, tapi setelah kami timbang jatuhnya lebih mahal lagi. Tidak jadi.

Hidup berdua saja dengan suami di rantauan ibu kota memang tidak mudah. Karena tidak ada yang kami andalkan kecuali kami sendiri. Jauh dari mertua dan orang tua. Di awal tinggal disini aku sering sakit, hampir tiap bulan. Sampai Aa mengira aku tidak betah tinggal di tempat kecil. Aa salah. Aku hanya kelelahan. Padahal aku tidak bekerja, hanya sebagai ibu rumah tangga yang kerjaannya banyak dibantu suami. Tapi jujur saja, memasak itu bikin capek di badanku. Entahlah, mungkin aku ‘ringkih’. Sampai pada akhirnya Aa memintaku untuk berhenti masak. Aku sempat sedih, sebab jika tidak memasak apa lagi yang bisa kulakukan untuknya? Waktu itu aku hanya menangis sambil memeluknya. Setelah kejadian itu kami memutuskan untuk beli makan di luar tiap makan, beli lauknya saja nasinya masak sendiri. Tau nggak? Itu bikin pengeluaran bulanan jadi membengkak. Uang makan jadi 2 kali lipat lebih banyak. Padahal kami jarang sekali makan enak. Sedih. Alhamdulillah gaji Aa tetap cukup dan masih bisa menyisakan untuk tabungan. :)

Sekali lagi, hidup berdua saja tidaklah mudah. Yang membuatnya mudah adalah karena kami saling memiliki dan membutuhkan.

Oiya, ibuku beberapa kali mengirim cemilan kesukaan Aa, makaroni goreng dan kue semprong…satu kardus. Padahal kalau dipikir beli di sini juga banyak. Begitulah orang tua, terlalu khawatir dengan anaknya. Suatu saat aku pasti juga sekhawatir beliau. Atau mungkin lebih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar