Mungkin
postingan ini bakalan agak kontras dengan yang sebelumnya, dimana Desi yang
sering dibilang galau melulu itu sudah menikah. Iya, saya sudah menikah 2 Mei
2015 lalu. Mulai saat itulah saya mengamati banyak teman-teman ingin segera
menikah di usia muda.
Di
zaman sekarang ini, banyak lho anak ABG yang ingin menikah bahagia di usia
20an. Memangnya mereka yakin mau menikah muda? Yakin mau urus rumah tangga? Ga
mau nikmatin masa muda aja dulu? Saya mau cerita sedikit tentang keputusan
menikah yang terbilang cepat ini. Oktober 2014 saya baru saja resmi menjadi
lulusan DIII Kebidanan. Jujur setelah lulus boro-boro mau segera menikah, pacar
saja tidak punya. Target menikah saya adalah di usia 28 tahun. Saya ingin
melanjutkan S1 setelah itu bekerja 1 sampai 2 tahun kemudian baru bolehlah
menikah. Niat tidak ingin menikah dulu menjadi sangat kuat ketika bapak dan ibu
saya memutuskan berpisah sekitar sebulan setelah saya lulus. Hati saya hancur,
pikiran kacau, dan hanya adik dan ibu saya yang ada dalam pikiran. Saya ingin
bekerja setidaknya membantu sedikit beban ibu, apalah daya saya cuma punya
ijazah DIII Kebidanan (saat itu belum punya STR ataupun sertifikat kompetensi),
yang kalau bekerjapun gajinya ga akan cukup membantu. Ibu saya melarang saya
bekerja dulu, beliau menyarankan saya untuk ikut pelatihan dan mendapatkan
sertifikat kompetensi. Kepikiran juga soal biayanya yang tidak murah. Waktu itu
saya sudah kenal dengan Aa, hanya saja saya belum berani menceritakan masalah
ini dan semuanya.
Lama-lama
kami cukup dekat dan kami memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih
serius. Entah mengapa saya mengiyakan. Entah mengapa saya setuju. Entah mengapa
saya juga mencintainya. Mungkin saya orang yang beruntung. Rezeki tiba-tiba
mendekat. Ya, jodoh itu rezeki juga kan. Pada akhirnya saya memberanikan diri
untuk menceritakan perpisahan bapak dan ibu karena jujur sekali saya sudah
tidak tahan menghadapinya sendirian meskipun dalam hati takut kalau Aa akan
membatalkan pernikahan. Tidak, dia sama sekali tidak melakukannya. Dia terus
memintaku untuk sabar dan jangan lupa untuk mendoakan kedua orang tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar