welcome

Sabtu, 12 Desember 2015

Tentang Masa Lalu

Aku yakin semua orang punya masa lalu. Entah yang menyenangkan, menyedihkan, dan memuakkan. Pada masanya seseorang akan menutup pintu masa lalunya hingga terkunci rapat. Sebab ia tak akan kembali kesana. Terlebih etika sudah menjalani komitmen dengan pasangannya, menikah.

“Dik, itu dulu, 2013 apa kamu mau menilaiku saat ini dari tahun 2013?”

Aku terdiam

“Aku juga pernah stalking akunmu, tapi aku ga pernah tanya apapun. Iya, aku dulu memang bermasalah dengan beberapa wanita, kontak dengan mereka, tapi itu dulu. Waktu itu kan aku belum kenal kamu. Tokh waktu sama kamu aku juga sudah tidak lagi menghubungi mereka. Yang sudah terjadi ga bisa kuperbaiki. Aku hanya bisa memperbaiki yang sekarang. Tolong dimengerti. Tolong pengertiannya. Yang lalu ya sudah biarkan berlalu.”

Aku masih terdiam, terbaring lemas mendengar suaranya yang semakin terisak. Hingga aku tak tahan untuk memeluknya dari samping. Aku bisa merasakan pipinya basah. Gerimis di pipinya turun bersamaan dengan gerimis dari langit. Ingin sekali kuucap maaf, tapi entahlah mulutku seperti terbungkam suasana. Aku merasa bodoh.
Iya, seharusnya aku tak perlu stalking akun twitternya sampai cemburu. Awalnya bukan stalking, hanya saja aku rindu dengan kami dulu di twitter, lucu sekali. Hingga aku kebablasan membuka tweet dari tahun 2013. Aku menemukan canda setengah mesra dengan seorang perempuan yang dulu di waktu awal kami kenal Aa sering sekali menyebutkan namanya. Bahkan aku ingat ia menyama-nyamakanku dengan wanita itu. Sebagai wanita yang meskipun bukan siapa-siapanya siapa sih yang tidak kesal dibandingkan disamakan dengan wanita lain? Ya kesal ya cemburu. Duh.

Seharusnya memang mengungkit masa lalu itu tidak perlu. Terlebih sekarang dia sudah menjadi orang yang paling dekat, orang yang halal melihatmku tanpa sehelai benang. Pun dia tidak pernah mengungkit masa laluku yang terbilang...hancur. Seharusnya aku berterimakasih padanya karena menerima masa laluku seperti apapun itu, tak peduli dulu aku bagaimana dan seperti apa. Masa lalu tempatnya bukan di masa depan, masa depan bukan untuk masa lalu. Jangan dibalik-balik. Kadang, untuk menghargai orang yang bersama kita memang cukup sederhana, dengan terus berada di sampingnya tanpa melihat apa yang terjadi di belakang. Hanya cukup terus bersamanya, hingga menua, bersama.
Masa lalu sudah punya porsinya sendiri. Ia sudah punya batasannya sendiri. Jangan khawatirkan masa depan, sebab masa depan menyediakan bahagia yang tak terduga. Percayalah.

Akupun percaya, beberapa orang dalam hidup kita memang ditakdirkan hanya untuk mengisi masa lalu, tapi tidak masa depan. Beberapa orang lainnya ditakdirkan untuk megisi hati, tapi tidak untuk mengisi hidup. Sebagian lainnya bersemanyam dalam ingatan, tapi sudahterkubur dalam hati.
Terimakasih untuk mengajakku menua bersama :)
Aku bahagia karena orang itu adalah kamu :')


Selasa, 08 Desember 2015

Konsisten Hidup Mandiri

Setelah menikah Aa membawaku ke ibu kota, ke tempat dimana ia bekerja. Tinggal di rumah mewah? Tentu tidak. Kami hanya ngekost di tempat kostan Aa sebelum menikah dekat tempatnya bekerja. Sebelum menikah Aa sudah mengusahakan mencari rumah kontrakan yang ‘cocok’ untuk kami, tapi nihil. Ya namanya di ibu kota. Cari yang murah juga tetap jatuhnya mahal. Gaji Aa tidak cukup. Akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di kost tempat Aa. Tidak mewah. Tidak bagus, tapi rapi dan bersih. Yang paling penting adalah nyaman untuk kami berdua. Sebuah kamar berukuran 4x4 meter dengan kamar mandi dalam. Itu saja.

Sejak kami memutuskan untuk menikah, kami memang berencana setelah menikah nanti kami tidak akan tinggal di pondok indah mertua. Tak apa kami tinggal di tempat yang kecil, tokh juga cuma berdua dan yang jelas kami tidak akan menetap di ibu kota, hanya sampai kontrak kerja Aa habis. Beberapa waktu yang lalu Aa sempat mencari rumah kontrakan. Ketemu sih beberapa, tapi setelah kami timbang jatuhnya lebih mahal lagi. Tidak jadi.

Hidup berdua saja dengan suami di rantauan ibu kota memang tidak mudah. Karena tidak ada yang kami andalkan kecuali kami sendiri. Jauh dari mertua dan orang tua. Di awal tinggal disini aku sering sakit, hampir tiap bulan. Sampai Aa mengira aku tidak betah tinggal di tempat kecil. Aa salah. Aku hanya kelelahan. Padahal aku tidak bekerja, hanya sebagai ibu rumah tangga yang kerjaannya banyak dibantu suami. Tapi jujur saja, memasak itu bikin capek di badanku. Entahlah, mungkin aku ‘ringkih’. Sampai pada akhirnya Aa memintaku untuk berhenti masak. Aku sempat sedih, sebab jika tidak memasak apa lagi yang bisa kulakukan untuknya? Waktu itu aku hanya menangis sambil memeluknya. Setelah kejadian itu kami memutuskan untuk beli makan di luar tiap makan, beli lauknya saja nasinya masak sendiri. Tau nggak? Itu bikin pengeluaran bulanan jadi membengkak. Uang makan jadi 2 kali lipat lebih banyak. Padahal kami jarang sekali makan enak. Sedih. Alhamdulillah gaji Aa tetap cukup dan masih bisa menyisakan untuk tabungan. :)

Sekali lagi, hidup berdua saja tidaklah mudah. Yang membuatnya mudah adalah karena kami saling memiliki dan membutuhkan.

Oiya, ibuku beberapa kali mengirim cemilan kesukaan Aa, makaroni goreng dan kue semprong…satu kardus. Padahal kalau dipikir beli di sini juga banyak. Begitulah orang tua, terlalu khawatir dengan anaknya. Suatu saat aku pasti juga sekhawatir beliau. Atau mungkin lebih.

Senin, 07 Desember 2015

Suamiku...

Seperti judulnya, saya akan menceritakan tentang suami saya. Dia Novria Dedy Asihanto, lahir di Ngawi pada tanggal 28 Nopember 1991. Katanya waktu itu sih lagi hujan, waktu dia lahir. Eh jodohnya sama pecinta hujan :)
Lulus S1 Meteorologi ITB pada 17 Oktober 2014. Sekarang bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan konsultan IT mulai Desember 2014. Pribadinya lembut, sederhana,  polos, santun, dan sabar banget. 

Jujur saya bingung kalau harus mendeskripsikan suami saya seperti apa. Dia ya seperti itu. Dia yang meminta saya untuk mengatakan apa yang saya perlukan padahal separuh gajinya habis untuk membayar kontrakan. Dia yang tidak akan membangunkan saya ketika pagi kecuali untuk sholat subuh. Dia yang membiarkan saya kembali tidur pulas setelah sholat subuh dan dibangunkan ketika dia sudah rapi mau berangkat kerja. Sarapan?? Sudah beres. Dia yang mengerjakannya. Kadang saya merasa saya ini tidak berguna. Tapi dia selalu bilang tidak apa-apa, karena istriku capek. Saya pernah menangis ketika bangun tau-tau dia setrika baju, nasi sudah matang, dan pakain sudah dicuci olehnya.

Seperti itulah suami saya. Dia takut istrinya kelelahan keudian jatuh sakit (sering terjadi). Semoga suami saya diberi kesehatan dan kesabaran :')

My Dreams Come True

Mungkin postingan ini bakalan agak kontras dengan yang sebelumnya, dimana Desi yang sering dibilang galau melulu itu sudah menikah. Iya, saya sudah menikah 2 Mei 2015 lalu. Mulai saat itulah saya mengamati banyak teman-teman ingin segera menikah di usia muda.

Di zaman sekarang ini, banyak lho anak ABG yang ingin menikah bahagia di usia 20an. Memangnya mereka yakin mau menikah muda? Yakin mau urus rumah tangga? Ga mau nikmatin masa muda aja dulu? Saya mau cerita sedikit tentang keputusan menikah yang terbilang cepat ini. Oktober 2014 saya baru saja resmi menjadi lulusan DIII Kebidanan. Jujur setelah lulus boro-boro mau segera menikah, pacar saja tidak punya. Target menikah saya adalah di usia 28 tahun. Saya ingin melanjutkan S1 setelah itu bekerja 1 sampai 2 tahun kemudian baru bolehlah menikah. Niat tidak ingin menikah dulu menjadi sangat kuat ketika bapak dan ibu saya memutuskan berpisah sekitar sebulan setelah saya lulus. Hati saya hancur, pikiran kacau, dan hanya adik dan ibu saya yang ada dalam pikiran. Saya ingin bekerja setidaknya membantu sedikit beban ibu, apalah daya saya cuma punya ijazah DIII Kebidanan (saat itu belum punya STR ataupun sertifikat kompetensi), yang kalau bekerjapun gajinya ga akan cukup membantu. Ibu saya melarang saya bekerja dulu, beliau menyarankan saya untuk ikut pelatihan dan mendapatkan sertifikat kompetensi. Kepikiran juga soal biayanya yang tidak murah. Waktu itu saya sudah kenal dengan Aa, hanya saja saya belum berani menceritakan masalah ini dan semuanya.

Lama-lama kami cukup dekat dan kami memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Entah mengapa saya mengiyakan. Entah mengapa saya setuju. Entah mengapa saya juga mencintainya. Mungkin saya orang yang beruntung. Rezeki tiba-tiba mendekat. Ya, jodoh itu rezeki juga kan. Pada akhirnya saya memberanikan diri untuk menceritakan perpisahan bapak dan ibu karena jujur sekali saya sudah tidak tahan menghadapinya sendirian meskipun dalam hati takut kalau Aa akan membatalkan pernikahan. Tidak, dia sama sekali tidak melakukannya. Dia terus memintaku untuk sabar dan jangan lupa untuk mendoakan kedua orang tua.

Kamu adalah hal yang paling hebat dan aku senang Tuhan memberikannya cepat. :)