Entah bagaimana mulanya aku jadi punya image “wanita yang mencintai banyak pria dalam satu musim” dengan kata lain aku adalah orang yang gagal. Gagal? Aku gagal mempertahankan cinta, kata mereka. Aku terkesan playgirl dan seolah menganggap cinta itu hangat-hangat tahi ayam.Baiklah biar
kujelaskan sejelas jelasnya. Aku jelas tidak akan menyamakan cinta dan
hangatnya tahi ayam. Begini, bermula
dari aku berpikir bahwa aku benar-benar wanita, kupikir wanita itu
sangat tabu untuk mengejar cinta. Jadi aku lebih memilih untuk menunggu berapa
lamapun yang Tuhan kehendaki untuk takdirku. Nyatanya dalam waktu tunggu itu
tak pernah sekosong yang kubayangkan, tak sebersih yang kupikirkan. Banyak yang
berperan menumpahkan warna di sana, biru bahkan abu-abu. Bahkan dengan mereka
yang belum pernah kutatap bening kedua matanya. Yang terjadi justru carut marut
antara pikiran dan perasaan. Betapa tidak, satu persatu datang dan kemudian
berlalu, berkelebat di depanku. Bukankah dalam menjalin sebuah hubungan selalu
ada penjajakan. Nah, menyedihkannya aku selalu berakhir di fase ini. Fase
mengenal dan perkenalan. Mungkin lebih ke antara perkenalan dan keseriusan.
Bukan salah siapa-siapa, bukan salahmu juga. Memang ketidakcocokan itu adalah
hal yang wajar. Aku juga tidak bisa memaksa orang lain suka, dan aku tidak bisa
memaksa juga jika aku memang tidak suka.
Tak pernah sama
sekali terlintas dalam pikiranku untuk beradegan sebagai “pemain“, di sini aku
hanya pemeran dan memerankan dinamika cerita tanpa skenario yang tak pernah
kutau ujung dari ceritanya. Justru aku sangat merasa dipermainkan di sini. Apa
salahku? Sampai Tuhan seakan menghukumku dengan kekecewaan yang luar biasa.
Kecewa, hal yang amat biasa kutelan dengan mentah dan getahnya.
Mungkin tuhan memang
sedang punya rencana yang jelas-jelas jauh dari akal yang kupunya. Barangkali
Tuhan memintaku untuk lebih sabar menunggu. “Nanti
kau akan mendapatkan yang jauh lebih baik dan lebih baik lagi”. Kurasa
setiap kata TIDAK yang Tuhan katakan hanyalah wujud kebahagiaan yang tertunda.
Aku sering bertanya
pada diriku sendiri, siapa aku ini? Pertanyaan ini masih belum memiliki
jawaban. Seringkali aku tersenyum kecut saat menanyakannya dalam hati. Karena
semakin aku mencari-cari aku justru mendapati diri yang bukan diriku lagi. Dalam
suatu waktu aku bisa menjadi seorang putri, dalam satu waktu lagi aku berubah
menjadi wanita yang sama sekali tidak butuh pertolongan, kadang berubah menjadi
monster yang mengerikan. Katakan, makhluk macam apa dirimu ini? Menyedihkan.
02012013
Aku mendapat tamparan di awal tahun
Pria yang mudah berkata kata, bisa
saja membuatmu jatuh cinta :')
Dan...
Kau pergi ketika semua
sudah tertata rapi, ketika peran mimpi dan nyata mulai berganti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar