Aku kembali tercekal oleh kata-kata yang
dangkal. Terhenti pada pekik yang datar. Di sini orasi tidak dibutuhkan lagi. Sejuta
argumentasi hanya akan membasi oleh fantasi yang menurutnya amat berarti. Tapi mereka
tidak peduli bahkan mengerti, bahwa menumbuhkan satu berarti membunuh seribu.
Lalu apakah kebebasan tidak akan sama
dengan nina bobok bunda waktu kita
kecil? Atau memang kita tidak pernah merasa kecil sebelumnya? Lupa? Tiba-tiba
menjadi dewasa dan penguasa? Apa penguasa
itu segala-galanya? Bagiku iya, segalanya dalam mematikan apa yang semestinya
aku bisa. Hingga aku berlari pada cangkir kedua, ketiga, sampai entah keberapa
aku lupa. Bahkan toilet masih menjadi tokoh paling mengerti di sini. Dan kertas
folio bergaris masih tetap beku di atas meja tulis bersampingan dengan
penggaris.
Aku bukan robot, tapi aku manusia. Manusia yang
akan terus merusak atau mengubah sistem yang tak bisa lagi masuk logika. Juga manusia
yang akan tetap diam karena tidak ada pilihan lain kecuali mulai, mulai bingung
dengan segala kondisi dan status adaptasi. Seringkali aku melangkah jauh dari
rel, bukan maksudku untuk keluar, tapi mencari jalan pintas yang arahnya tetap
ke tujuan yang sama. Lalu tertawa mengiringiku, terselip cemoohan dan umpatan
kecil. Aku salah?? Pada bagian mana??
Aku masih manusia tolol yang dikendalikan
sistem yang bahkan lupa bagaimana cara tertawa. Manusia dalam senyum yang mahal,
manusia yang tak lagi tersenyum otomatis, manusia yang dibuat dewasa sebelum
waktunya dan mungkin manusia yang takut memublikasikan identitasnya. Hingga aku
mulai berpikir, apakah ini adalah masa dimana aku tidak melompat dan berlari
bahkan ketika sudah berlari sekencang ini?
Aku mungkin sedikit frustasi
With love :’)
Desi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar