welcome

Kamis, 02 Juni 2016

TENTANG KRITERIA PASANGAN HIDUP

Setiap orang pasti punya setidaknya satu angan-angan ingin memiliki pasangan hidup seperti apa. Saya pun demikian.  Tapi itu dulu, sebelum saya menemukan seseorang dan mencintainya tanpa syarat. Terdengar seperti dongeng ya? Ya memang begitulah adanya, mencintainya tanpa syarat.

Begitupun dengan suami saya, yang saya yakini memiliki kriteria pasangan hidup yang tinggi. Iya, saya yakin sekali suami saya menginginkan hafidzoh, wanita dengan kerudung lebar sepantat atau bahkan bercadar, memiliki ilmu agama yang mumpuni, dll. Pokoknya yang tipe-tipe akhwat gitu lah ya dan nggak saya banget. Namun yang membuat saya masih tidak percaya hingga saat ini adalah sebuah alasan dia memilih saya sebagai teman hidupnya. Nyaman. Itu saja. Kemudian saya mengingat-ingat kalau dulu saya juga punya beberapa kriteria laki-laki idaman, yang ternyta juga jauh sekali dengan personal suami saya. Rasanya saya ingin tertawa. Iya, kriteria itu tidak berguna. Saat sudah jatuh cinta dengan seseorang kriteria itu hanya sederet list-list.

Pada akhirnya semua tipe dan kriteria yang kamu punya akan dikalahkan oleh dia, yang punya waktu dan menyamankan hidupmu.

:)

Rabu, 04 Mei 2016

SATU TAHUN PERTAMA

Masih jelas kuingat bagaimana bahagianya kita saat itu, saat kamu menghalalkan aku sau tahun yang lalu. Tanggal 2 Mei yang lalu hari itu berulang, satu tahun pernikahan kita.
Bagaimana rasanya? Apa kamu juga bahagia? Bahagiakah kamu melewati 365 hari bersama wanita di sampingmu? Jangan tanya aku, sudah pasti aku bahagia. Hingga lupa rasanya kalau aku pernah patah dan sakit hati sebelum ini. Tak banyak yang ingin kutulis, sayang. Hanya rasa terimakasihku yang meluap karena hadirnya kamu. Terimakasih karena memelukku di saat aku menangis. Terimakasih untuk setiap hari yang penuh warna. Terimakasih telah menerima segala kurang dan sedikit lebihku. Terimakasih karena kamu ada.
Sekian hari kita bersama aku menyadari satu hal. Kita menjadi lebih tahu satu sama lain. Hanya lebih tahu, bukan tahu. Iya, kita masih harus belajar dan belajar lagi. Tetaplah seperti itu, menyayangiku.

with love
your wife

Rabu, 06 April 2016

PENGALAMAN MENDUA

Kita belum pernah bertemu sebelumnya, tapi entah mengapa aku takut kehilangan kamu. Takut sekali. Sesekali aku membayangkan bagaimana wajahmu. Akankah seperti aku atau seperti dia yang sering kugenggam erat tangannya. Diam-diam aku merindukanmu tanpa sepengetahuannya. Mungkinkah aku mulai mencintaimu? Kapan kita akan bertemu? 
Datanglah segera dan berikan aku peran baru, sayang.

Senin, 04 Januari 2016

Dua Atau Tiga Bulan Lagi

Aku masih ingat, percakapan kita di chatting sekitar bulan Agustus 2014…
“Dek, dua atau tiga bulan lagi aku mau nikah, insyaallah. Udah ada inceran, tapi belum berani ngomong.”
“Oooh gitu. Ditunggu deh undangannya :)”

Tapi kamu bohong! Dua tiga bulan setelahnya aku tak menerima undangan apapun darimu, tak ada kabar heboh yang menandakan kamu akan menikah, tapi kamu justru mencoba dekat dengan wanita itu, aku.
------

Oktober 2014, aku mencoba menanyakan siapa wanita yang dulu pernah dia incar dan sampai sebegitunya tidak berani ngomong. Baiklah, aku hanya tersipu :)

Ketika Belum Ingin dan Diinginkan

Setiap orang pasti punya relationship goals, entah menikah, punya anak, atau hidup bahagia layaknya pangeran dan putri dalam dongeng. Setiap manusia pasti ingin mengakhiri masa sendiri dan bahagia dengan  berkomitmen. Namun itu semua ada waktunya, pun setiap orang tidak sama. Ada yang diberikan jodoh begitu cepat ada pula yang harus lebih sabar menunggu. Ada yang sudah ingin, tapi belum diinginkan. Ada yang belum ingin, tapi sudah diinginkan. Ada yang sudah ingin dan diinginkan, inilah yang membahagiakan.

Lalu bagaimana jika kita belum ingin ataupun diinginkan? Ya usaha. Berusahalah agar kamu diinginkan. Tak perlu menyodorkan diri kepada lawan jenis. Tak perlu mempersolek diri agar terlihat cantik sebab cantik itu relatif. Jadilah apa adanya, itu penting. Lakukan hal yang berkelas seperti menyibukkan diri, memperpantas diri, dan yang terpenting berbahagialah. Kesendirian juga harus dinikmati :)
Serius. Kesendirian memang harus dinikmati. Tak perlu larut dalam kesedihan karena masalah jodoh. Hey, kamu bukan detergen! Tuhan sudah mengatur, percayalah. Konsep jodoh itu misterius, aneh, absurd, dan agak membingungkan. Kamu yang ragu jadi diyakinkan, yang yakin justru diragukan. Yang jauh didekatkan, yang dekat bisa saja dijauhkan karena memang bukan jodoh. Yang benci banget tau-tau jadi cinta banget, yang bukan tipenya tapi suka suka aja (kayak aku :p).

Aku juga pernah melewati fase belum ingin dan diinginkan. Rasanya biasa saja karena memang belum begitu kepikiran untuk kesana. Rasanya masih jauh.
“Nya, kayaknya aku nikahnya usia 28 tahunan deh”
“Ga kelamaan??”
“Enggak, uda aku itung. Mateng.”

Besok paginya…
“Nya, kayaknya aku nikah deh tahun depan.”
“…………..”
Lalu menikahlah seorang Desi di usia 22 tahun :))


Aku pernah bahagia pacaran
Aku pernah bahagia sendirian
Sekarang aku bahagia berkomitmen