welcome

Selasa, 18 Februari 2014

Kamu Sudah Lebih Dari Cukup

Dengan seluruh kekaguman, surat ini aku kirimkan.

Kamu cukup tersenyum dan semudah itu aku jatuh terkagum-kagum. Kamu tak perlu menjadi pria kekar yang ada di drama-drama televisi, sesederhana itu sudah memikatku dengan ketulusan hati. Kamu memang tidak memiliki banyak seperti yang dunia unggulkan, tapi justru itu yang membuat kepadamu aku menetapkan pilihan. Kamu berbeda dan menerimaku apa adanya.

Bersamamu, aku tidak perlu menjadi orang lain. Kamu tak perlu menjadi pahlawan-pahlawan yang diidolakan oleh seisi dunia, karena kamu memiliki kekuatan khusus di mataku. Kekuatan untuk membuatku tersenyum disaat tak ada satupun yang mampu mengusir sedihku. Terlalu magis. Terlalu sederhana. Namun aku suka.

Sesederhana kamu hadir, segala kuatirku pun terusir. Dari caramu melihat dunia, dari caramu menatap realita, dari caramu menyebarkan cinta, dari caramu menggantungkan mimpi, dari cara kerja pikirmu dan dari caramu mencintaiku. Aku sungguh jatuh cinta. Kamu tak pernah berjanji, tapi selalu menyuguhkan segala yang melebihi ekspektasi. Kamu sudah lebih dari cukup. Terima kasihku takkan pernah habis-habis, karena Tuhan telah menghadirkanmu.

Terima kasih, priaku. Terima kasih.

With Love :)
Desi

Without You Everything Will Be Different.

Bohong jika aku sudah lega melepaskanmu. Bohong jika aku bahagia dengan ketiadaanmu. Bohong jika aku tak rindu. Bohong jika aku menyerah akan kita. Bohong jika aku tak pernah menunggu. Bohong jika aku tak mencari tahu tentang kabarmu. Bohong kalau aku mengusirmu, jika suatu hari kamu kembali untuk memulai segalanya lagi. Bohong jika stok persediaan cintaku menipis. Segalanya masih sama, masih untukmu.

Belum ada pria lain yang bisa memperbaiki, menyembuhkan atau mungkin membuatku jatuh cinta lagi. Puaskah kamu memenangkan seluruh pusat perhatianku? Kamu itu nadi, tombol penggerak dan penghenti segala kerja hati. Aku tak peduli lagi dengan gengsi, aku tak ingin lagi berpura-pura setuju dengan perpisahan ini, aku tak bisa lagi berperan seolah-olah jadi yang paling kuat. Aku tak ingin kamu hanya berdiri dan menyesali. Aku ingin kamu menghampiriku dan berbisik, “Aku telah pulang”.

Tanpamu, ada hal-hal sederhana yang kini baru kusadari terasa begitu istimewa. Aku sudah terbiasa dengan serangkaian hari kita yang penuh dengan peristiwa-peristiwa manis. Dari bertukar selamat pagi dan selamat malam sebagai pengawal dan batas usainya hari. Berlomba menjadi yang lebih rindu untuk mengajak bertemu. Atau caramu membuatku ingin selalu bermanja di bahumu dengan mengacak-acak rambutku dengan lembut. Sungguh, aku sudah terlalu terbiasa. Dan tanpamu, yang kurasa hanya hampa. Tanpamu, mereka menyoroti pandangan-pandangan aneh bahwa kita tak pernah berhasil mengikat cinta.

Benarkah? Apa tak bisa kita bantah apa yang mereka katakan? Kita memang tak berhasil, tapi bukankah kita masih saling mencintai? Aku hanya tak ingin jauh, tak ingin membiarkan orang lain mengisi hatimu, membiarkan perempuan lain mengganti posisiku di ruang pikirmu. Karena yang kuinginkan hanya aku yang dijadikan tempat pertama olehmu. Ingatlah rasa-rasa pertama kali saat kamu mulai menjatuhkan hati. Indah bukan? Mari jatuh cinta lagi, tanpa perlu harus saling menyakiti. Aku akan jadi perempuanmu, berjuang lagi dan sebisaku takkan melepaskan yang terbaik yang kupunya.

Because without you, everything will be different.

With love :')
Desi

Surat Pengunduran Diri

Untuk seseorang yang pernah begitu kupahami,

Maaf kalau harus menyebutkan kata-kata ‘pernah’. Karena memang pernah dan kini tak lagi. Ada sebuah batas transparan dari dirimu yang kini tak pernah bisa kusentuh. Arena khusus yang tak lagi menyertakan aku dalam arenanya. Pikiranmu yang tak bisa lagi kuterka akan kemana tujuannya. Ada banyak hal sederhana yang kini berformula jadi rumit. Dan seolah-olah perubahan-perubahan ini membuat kita saling menyalahkan diri sendiri. Bukan salahmu, jika ada yang harus selesai di antara kita. Bukan salahku, jika tak bisa lagi meneruskan setiap rasa pertama kali yang pernah kita bagi. Ini hanya cara kita belajar bahwa memang perlu ada yang berubah. Dan biarkan waktu yang mengajari kita untuk menerimanya, ya?

Aku undur diri, atas segala rasa yang nantinya bisa memperburuk kondisi hati. Aku undur diri untuk menitipkan lagi segala rasa yang pernah dimintamu dulu. Aku undur diri untuk segala masa depan yang dulu pernah kita impi-impikan. Langkahku pelan-pelan menjauh, mungkin kenangan akan begitu riuh, tapi takkan membuat beberapa luka semakin melepuh. Maaf jika aku tak mampu lagi bertahan, dan maaf jika aku secepat ini melepaskan. Namun hal-hal pahit, harus kau cicipi lebih dulu agar kau tahu apa rasanya manis. Sesendok pelajaran sedang kita lahap bersama-sama, tentang kenyataan bahwa tak seharusnya lagi kita bersama. Lepaslah dengan rela. Karena suatu hari, kita akan sama-sama tersenyum mengingat hari ini.

Memasuki pekarangan hatimu adalah cara terbaik mengenal cinta. Dan mengundurkan diri adalah satu-satunya hal yang paling tepat untuk menjauh dari pergerakan luka. Kita akan baik-baik saja. Selamat menemukan yang lain selain aku.

Dari yang langkahnya sudah menjauhi kediamanmu.

With love :)
Desi

Selamat Tinggal

Ada sebuah janji yang tak pernah lagi bisa ditepati, karena kita memilih pergi. Satu yang memecahkan diri, berpisah haluan, mengucapkan selamat tinggal karena sudah menemukan kebahagiaan yang lain. Dan satunya lagi yang tersakiti, terlalu mencintai, tak terima dengan realita yang menyuguhkan luka lalu memilih untuk mengasingkan diri.

Aku tahu bahwa perpisahan selalu menyakitkan. Tapi tidak ada yang bisa mencegah kedatangannya, tidak ada yang tahu kapan ia tiba dan tidak ada yang menginginkannya. Jika saja bisa, aku mau tetap tinggal. Jika saja bisa, aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa. Jika saja bisa, aku ingin terus bersama. Jika saja bisa, aku tidak mau ada sebuah perpisahan. Karena perpisahan itu menjauhkan. Semanis apapun, sebaik apapun bentuknya, perpisahan hanya akan mengasingkan kita. Lalu untuk apa bertemu, jika akhirnya berpisah?

Aku masih mencintaimu. Masih sampai detik dimana kamu mengecup keningku, masih sampai detik dimana kamu sibuk dengan duniamu, masih sampai detik dimana kamu berhenti memusatkan hatimu untukku, masih sampai detik dimana kamu menciptakan segitiga baru antara aku, dia dan kamu, masih sampai detik dimana kamu menghilangkan ritual-ritual manis kita, masih sampai detik dimana kakimu pelan-pelan mulai menjauh, masih sampai detik dimana kamu benar-benar berubah dan memilih pergi. Dan masih sampai detik ini, aku mencintaimu. Karena itulah hatiku begitu pedih dengan perpisahan yang tak pernah ingin kutuliskan skenarionya.

Waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Jika kamu memilih pergi, maka pergilah dan jangan kembali. Untuk berdamai dengan kenyataan dan mengalah dengan penyangkalan, sungguh aku perlu waktu. Tapi setidaknya aku telah berani membiarkanmu pergi, merelakan agar hati tak dibuat berkeping lagi. Tentang hal yang hak patennya sudah tak bisa diubah, aku hanya bisa menerima bahwa kamu sudah tak lagi cinta. Mungkin dengan perpisahan ini, ada pertemuan lain yang sedang disiapkan. Tidak apa-apa, karena segalanya sudah dikendalikan oleh yang lebih Ahli.

"Its okay to walk out of someone’s life if you don’t feel like you belong in it anymore"

Berbahagialah. Ini bukan ritual kata yang kuucapkan sebagai salam perpisahan agar terlihat sempurna. Tapi sungguh, aku ingin kamu bahagia. Karena pernah aku melihatmu tersenyum manis, tertawa lepas, saat kita jatuh cinta dan seperti surga rasanya. Dan jika aku tak bisa lagi membuatmu seperti itu, berbahagialah dengan yang bukan aku. Jatuh cintalah lagi, karena hatimu butuh. Jika kamu telah menemukan orang yang tepat, aku berdoa agar tidak ada sebuah perpisahan. Karena sungguh, itu menyakitkan.

Aku pergi, aku akan segera menyembuhkan hati, aku akan menemukan bahagiaku sendiri.

Selamat pergi, Selamat tinggal (di hati yang lain)

with love :)
Desi

Rabu, 05 Februari 2014

Bicara tentang kita, aku percaya tentang rencana Tuhan yang luar biasa yang tak pernah bisa diprediksi oleh kepala. Bicara tentangmu, ada ucapan syukur untuk setiap adamu yang selalu menitipkan bahagia dan ‘nyawa’ baru untuk hati. Bicara tentangku, ada sesuatu yang belum pernah kuungkapkan sebelumnya. Bahwa aku menyadari rasa itu, yang pelan-pelan merasuk, yang pelan-pelan cukup mengusik hatiku, yang diam-diam kusimpan. Bahwa benar, aku mencintaimu. Bahwa benar, namamu masuk dalam doa-doa yang kupanjatkan kepada Tuhan. Salahkah jika hari ini aku merindukanmu lebih dari hari kemarin? Aku hanya tidak ingin terburu-buru, aku hanya tidak ingin mengatur segalanya sesuai rencanaku, karena bukankah Tuhan lebih tahu?

With love :')
Desi

Aku Pernah Merasakannya

Untuk yang sedang merasakannya,

Berapa kali kamu dikecewakan oleh putaran waktu? Sesering apa kamu mengerti betul tentang beratnya melepaskan? Tentang perjuangan merelakan? Memiliki yang justru akhirnya berusaha melepaskan diri, berharap pada yang mengharapkan orang lain, memberikan bahagia kepada yang telah membuatmu berairmata, mematikan segala mimpi pada yang menaburkan benih-benih ekspektasi, menggugurkan ingatan tentang seseorang yang tak bisa kau lupakan, berjarak dengan dia yang kau cinta, dijadikan yang terakhir oleh yang selalu kau prioritaskan bahagianya, menjadi kuat disaat seisi dunia berusaha melemahkanmu, disodori segitiga yang membentukmu dia dan yang dicintainya.

Sakitkah? Sudah berapa lama kamu bertahan karena masih meyakinkan kepalamu bahwa harapan sedang diproduksi? Sudah berapa lama kamu menunggu dia yang sedikitpun tak pernah tahu isi hatimu? Sudah sesering apa hanya bisa melihat punggungnya pergi dan kamu hanya bisa gigit jari? Sudah sebanyak apa perban di hatimu yang kau sembunyikan? Bukankah hanya kamu yang paling tahu, bukankah selama ini menyimpannya takkan menghasilkan apa-apa selain sakit yang belaksa-laksa? Lalu untuk apa masih memperjuangkan yang sedikitpun tak pernah tahu keberadaanmu, tak pernah menginginkanmu? Memang benar tidak ada yang mustahil, memang benar kamu harus mencoba segala sesuatunya. Tapi bukan dengan mempertaruhkan hatimu kan? Selain menerima realita, mungkin kamu perlu membuka mata.

Kadang kamu harus pergi beberapa meter dari arena lukamu untuk tahu siapa yang perlu diperjuangkan dan yang perlu dilepaskan. Kadang kamu harus mencicipi sakit yang bertubi-tubi, tapi jangan hal-hal itu membuatmu lemah sedikitpun. Jangan membuat luka itu nyaman untuk beredar. Jangan menunda agar mereka bebas menyakitimu lebih lagi. Bukan salahmu, bukan salahnya, bukan salah siapa-siapa. Aku juga pernah begitu. Tapi setelah menyadari bahwa luka tak dapat diundang seijin diri kita sendiri, aku cepat-cepat mengusirnya pergi sejauh mungkin, sekeras mungkin yang aku bisa. Suatu hari, kamu akan menyadari bahwa ada orang lain yang bisa membahagiakanmu tanpa harus menciptakan luka di hatimu. Suatu hari, kamu akan menertawai seluruh rangkai airmata ini. Karena suatu hari nanti kamu akan mendewasa, kamu akan bisa melihat segala sesuatunya lebih jelas.

Tenang. Segala sesuatunya akan baik-baik saja. Segala sesuatunya sedang dikendalikan Tuhan, jika kamu mengijinkan Dia membantumu. Hari-hari berat, malam-malam yang penuh dengan tangis, hati yang pelan-pelan meretak, waktu yang semakin keras berdetak, pasti akan mengajarimu sesuatu. Dan kamu akan menyadarinya suatu hari nanti. Percayalah, karena aku pernah merasakannya.

with love :)
Desi