welcome

Sabtu, 13 Juli 2013

Petrichor

Aku menyukai hujan, menyesapi aromanya yang begitu fasih kusebut sebagai petrichor. Menyenangkan saja, duduk menatap rinai hujan dan kemudian menikmati sensasi aroma yang dibuatnya saat membasahi tanah. 

Aku menyukai hujan, menyesap kenangan yang biasa disebut dengan masa lalu. Bermain-main dengan kenangan yang berserakan ingin dipungut atau sekedar diingat. 
Aku menyukai hujan, juga aroma petrichor. Aroma yang sama saat aku bersembunyi dibalik punggungnya sore itu. 

Petrichor dan aku jatuh cinta, tak hanya padanya tapi juga kamu.

with love :)
Desi
Salam berpikir kritis dan menggunakan akal sehat ditengah carut-marut zaman dan kian banyaknya kepalsuan serta orang yang menghamba pada materi :)

Di Sore Semacam Ini

Dear you 230987-261112

Di sore semacam ini, ketika udaranya tidak terlalu dingin dan tidak terlalu banyak angin, kita pernah bersama-sama menikmati kopi. Kamu bercerita tentang studimu di sana, aku bercerita tentang apa saja yang bisa membuatmu tertawa. 

Di sore semacam ini, kita pernah membicarakan hubungan antara hujan dengan kenangan. Kamu berargumen bahwa hujan dan kenangan itu semacam saudara sepupu, kalau hujan datang, habis itu kenangan secara otomatis datang. Aku tidak setuju. Menurutku, itu hanya berlaku ketika seseorang sendirian, tidak berlaku jika seseorang dalam keramaian. Kita berdebat sekian lama, tapi tetap tertawa juga pada akhirnya. Tidak peduli apa hujan dan kenangan itu punya hubungan darah atau tidak, yang penting aku dan kamu bisa meluangkan waktu yang banyak.

Di sore semacam ini, ketika udaranya tidak terlalu dingin dan tidak terlalu banyak angin, ada kamu di depanku adalah bahagiaku. Tapi sejak peristiwa itu, kamu hanya bagian dari ingatanku, mungkin begitu juga aku bagimu.

Bisa dibilang dulu, rindu adalah menunggu pagi datang lagi untuk bisa berbincang denganmu. Sekarang, rindu adalah kelebetan-kelebatan momen favoritku bersamamu di masa lalu terutama di sore semacam ini. Ya. Di sore semacam ini.

Jadi, aku hanya ingin mengatakan kalau setiap waktu di sore semacam ini, aku selalu teringat kamu.

Selalu.

Ternyata aku terlalu rindu dengan kita.

With love :)
Desi

Jumat, 12 Juli 2013

Dear you, Empatbelastiga,

kamu bagaikan pagi, di mana aku selalu memulai hidupku lagi
kamu bagaikan siang, di mana aku selalu menemukan terang
kamu bagaikan malam, di mana aku selalu merasa tenang sekalipun dalam diam
Tak perlu ke surga. Jika kau ingin bermanja, temui aku kala senja. Aku serupa udara, mendekap dirimu dalam rongga dada.

"Aku tidak perlu laki-laki sempurna untuk menjadi pendampingku. Yang aku cari adalah laki-laki yang menyempurnakan aku sebagai manusia dan perempuan, dan yang hidupnya baru akan sempurna jika ada aku.
Tiap pasangan seharusnya memang saling menyempurnakan. :)"

Pencemburu hebat

"Terlalu mudah untuk mengatakan bahwa saya adalah pencemburu yang hebat. Hebat dalam merasa cemburu, karena sudah khatam dari mulai mencemburui satu perkara kecil sampai yang terlihat besar di mata saya. Tidak pernah terlepas cemburu ketika saya merasa memiliki seseorang. Selalu. Tanpa henti."
 #empatbelastiga
 with love :)
 Desi 

Kamis, 11 Juli 2013

Buta dan Bisu

"Dibalik diamku, ada sejuta hal-hal yang tak bisa kau jangkau dengan mata tertutup. Dan dibalik kerabunanmu, terseliplah kerapuhan hatiku. Kita sepasang buta dan bisu yang sulit menyatu tanpa bantuan hati. Tanpa suara, tanpa mata, bisakah kita bersama mengumpulkan bahagia?"

Kebetulan

 Ada yang lebih juara menjadi penyimpan rasa tanpa suara.
Sebut saja aku.

Memahami tiap gerik yang kau ciptakan, memeluk tiap ucapmu dalam ingatan dan memilikimu meski baru dalam angan-angan. Duduk saja disana, aku memandangimu sambil terpikat lebih dalam. Ada satu yang hal sulit kutolak, segala yang semesta tawarkan dalam bentuk kebetulan. Kebetulan kamu hadir, kebetulan bertemu dalam sebuah pertemuan, kebetulan saling berkenalan, kebetulan terciptalah percakapan, kebetulan aku jatuh cinta denganmu, kebetulan kita dibungkus dalam sesederhananya perasaan yang lahir, kebetulan aku harus selalu terus melihatmu, dan kebetulan aku tak menemukan tombol untuk menghentikan rasa yang ada.

Tadinya, kebetulan-kebetulan itu terasa sakral. Tapi kebetulan memang hanya seonggok kebetulan. Tidak lebih. Dan harusnya disitulah kau nyalakan secepatnya radar tahu diri. Bahwa kebetulan takkan berarti apa-apa jika berujung pada hati yang telah berempunya. Kebetulan hanya sebuah repetisi, bonus bagi hati. Buatku, mungkin kebetulan hanya sebuah layar kaca yang bebas menyodorkan cerita mana buat para penonton setianya. Kebetulan hanya akan membuatmu tersenyum dibawa terbang oleh ekspektasi yang ketinggian. Kamu memang butuh kepastian yang bukan lagi bagian dari suatu kebetulan.

Aku harap kita tak hanya sebuat kebetulan, tapi dua pasang yang memang telah digariskan. Menunggu garis edar kita berubah dan mempersatukan aku dan kamu. Semoga.

With love :)
Desi

" Cinta; serupa benang tipis yang terikat pada dua tiang. Kian menjadi cinta itu seperti benang tipis yang terikat pada dua tiang yang makin lama menjadi sebuah lingkaran, dimana permulaannya adalah akhir dan akhirnya adalah awal."

Selasa, 09 Juli 2013